1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Membunuhi Diri Sendiri

“Ini nih, di sini tempatnya kalo nggak salah,” begitu tutur si Kriwil saat kami berjalan keluar lift menuju pujasera di sebuah pusat perbelanjaan. Ia maksud menjelaskan kepada saya dan ibu perihal lokasi bunuh diri yang belum ada satu bulan silam beritanya gencar terdengar dari berbagai media.

Soal bagaimana si Kriwil bisa tahu di mana persisnya si korban menjatuhkan diri, saya tidak bertanya lebih lanjut. Seseorang seperti dia, saya yakin bisa mendapatkan informasi yang cukup akurat.

Ibu langsung menarik si Kriwil, lalu berjalan mlipir di sepanjang dinding menjauhi pagar kaca yang membatasi selasar itu. Sementara saya, justru sungguh sangat ingin tahu seberapa tinggi sebenarnya jarak loncatan yang ditempuh dari lantai lima ke lantai satu, yang belum juga sanggup menghilangkan nyawa seseorang seketika itu juga.

Lantas saya gemetaran setelah melihat pemandangan di bawah sana.

Bukan saja terlihat sangaaaattt jauh, tetapi di saat yang sama juga terbayangkan ngilunya ketika seluruh tubuh saya menghantam lantai dasar itu jika saya meloncat dari lantai di mana saya tengah berada ini.

Dan kepala saya tak henti-hentinya mempertanyakan apa sebenarnya yang dipikirkan oleh si pelaku (yang sekaligus menjadi korban) bunuh diri ketika melihat pemandangan sebagaimana yang saya lihat itu. Tidakkah mereka juga gemetar, atau bahkan takut seperti saya? Tidakkah kemudian terbayangkan juga ngilunya seluruh bagian tubuh yang remuk redam akibat tak sanggup menahan gaya gravitasi yang semakin kuat seiring dengan semakin tingginya asal mereka meloncat?

Tapi toh Reno Fadhilah Hakim tetap menjatuhkan dirinya dari lantai lima itu. Di mana pada beberapa jam sebelumnya, Ice Juniar juga meloncat dari ketinggian yang sama tetapi di pusat perbelanjaan yang berbeda. Juga Lindasari, Richard Zulkarnaen, serta Yani Setiani yang melengkapi jumlah pelaku bunuh diri menjadi lima orang, yang semuanya mengambil lokasi di pusat keramaian dan gedung bertingkat. Hanya dalam kurun waktu dua minggu saja.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang belum memiliki data kuantitatif yang bisa menjelaskan tentang peristiwa bunuh diri di Indonesia. Tetapi bisa lah dibayangkan bagaimana maraknya peristiwa yang sama jika di seluruh dunia ditemukan satu juta orang yang tewas akibat bunuh diri, setiap tahunnya. Yang artinya, sebanyak 16 orang di antara 100.000 lainnya memilih untuk melakukan bunuh diri, atau.. satu kematian setiap 40 detiknya.

Lalu, justru menjadi sangat mengenaskan ketika kita yang mendengarkan berita semacam ini, kemudian melontarkan komentar sejenis, “Yaelah.. ngapain juga sih pake bunuh diri?! Cuma diputusin pacar, bisa kali nyari yang baru!”

Atau, “Duh, cuma kehabisan duit ternyata? Nggak usah lah bunuh diri, duit mah bisa dicari.”

Atau juga, “Sayang banget ya cuma masalah gitu aja mesti bunuh diri?!”

Pertanyaan yang kemudian dilontarkan kembali menanggapi berbagai komentar itu menjadi, “Lha, emang situ tau kenapa dia bunuh diri? Pernah diceritain gitu sama si pelakunya? *hyanggakmungkinlaaahhh!!* Atau mungkin situ pernah bunuh diri juga, jadi tau penyebabnya?”

Yah, buat saya pribadi, memang menjadi sangat disayangkan ketika kita yang tidak pernah tahu apa latar belakang permasalahan yang kemudian menjadi pemicu para pelaku itu untuk bunuh diri kemudian melontarkan komentar sejenis. Mungkin teman-teman dekatnya tahu bahwa ia sedang mengalami masalah, mungkin keluarganya tahu bahwa perilakunya akhir-akhir ini berubah, tapi adakah seseorang yang bisa menjamin bahwa dugaan mereka tentang penyebab terjadinya bunuh diri itu adalah memang sungguh merupakan pemicu si pelaku menerjunkan dirinya dari ketinggian?

Karena toh yang benar-benar mengetahui alasannya, tak lain dan tak bukan adalah si pelaku itu sendiri. Yang jelas, sudah tidak mungkin dimintai informasinya lagi.

Namun, walaupun saya juga termasuk salah satu yang tidak mungkin menanyai lagi si pelaku bunuh diri (lantaran mereka sudah terlanjur tiada), satu hal yang saya yakini, bahwa peristiwa bunuh diri itu tidak disebabkan oleh suatu hal atau masalah yang baru saja dialami oleh pelaku.

Bunuh diri dianggap sebagai sebuah alternatif yang layak dilakukan untuk mengatasi masalah – yang sudah terlalu menumpuk dan tidak bisa lagi dikeluarkan setelah sekian lama. Dalam kondisi seperti ini, satu saja pemicu kecil yang muncul, akan dengan mudah mewujudkan niat seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Mungkin bukan pada ketidak-lulusan seorang siswa SMU yang menyebabkannya memutuskan untuk bunuh diri, tetapi lebih pada keputus-asaan akibat tidak kunjung bisa memenuhi harapan kedua orangtua. Mungkin juga bukan pada keguguran pada kehamilan yang kemudian memicu seorang perempuan muda untuk bunuh diri, tetapi lebih pada kekecewaan bahwa ternyata tak satu pun harapannya sebagai seorang calon ibu terpenuhi.

Dan sama sekali bukan pada hubungan yang secara sepihak diakhiri oleh sang kekasih yang menyebabkannya bunuh diri, tetapi pada keputus-asaan lantaran merasa telah melakukan segala hal untuk menyenangkan sang kekasih dan tak satupun yang dianggap cukup berharga bagi kekasihnya itu untuk tetap mempertahankan hubungan mereka.

Karena bunuh diri memang tidak disebabkan oleh peristiwa sesaat yang baru saja terjadi.

Bunuh diri mulai terpikirkan oleh seseorang ketika ia merasa tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukannya, bisa dipertahankan, hal lain yang cukup berharga, di mana perasaan ini muncul berulang kali, tidak kunjung teratasi, dan akhirnya.. braaakk!! Terkaparlah ia di lantai dasar.

Ketika seseorang terus-menerus mengalami perasaan yang.. apa ya istilahnya?! – ada di titik terendah, kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal, muncul perasaan bersalah atau tidak berharga, sulit tidur dan makan, kehabisan energi, konsentrasi yang lemah, dan seterusnya-dan seterusnya, inilah yang kami – saya dan teman-teman seprofesi – menyebutnya sebagai depresi.

Beberapa hasil penelitian telah menyebutkan bahwa tingkat depresi pada kaum perempuan hampir dua kali lebih tinggi daripada laki-laki. Dan walaupun saya belum menemukan hubungan langsungnya, tetapi mungkin juga bisa ditemukan bahwa tingkat bunuh diri pada kaum perempuan lebih tinggi (ini kalau sudah didukung oleh bukti ilmiah).

Dengan demikian, secara tidak langsung, cara yang bisa dilakukan untuk menghindarkan diri sendiri dan orang-orang tersayang dari risiko bunuh diri, ya memang dengan mengatasi depresi itu.

Di sinilah seorang teman – atau orang-orang terdekat memiliki fungsi yang sangat penting.

Terutama menjadi pihak yang bisa memunculkan dan meningkatkan perasaan positif. Mengajak berjalan-jalan, bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi, menghabiskan sepanjang sore dengan berbincang-bincang ke sana-kemari, window shopping, atau melakukan berbagai kegiatan lain yang pada akhirnya membuat kita bisa pulang kembali ke rumah dengan tersenyum.

Atau sebaliknya, juga menjadi pihak yang justru bisa mereduksi perasaan negatif. Menjadi tempat curhat, duduk di samping dan hanya mendengarkan keluh kesah, selalu menerima telepon tengah malam di kala kita membutuhkan seseorang saat menangis sendirian, atau menjadi apapun yang dibutuhkan untuk mengurangi perasaan tidak menyenangkan itu.

Sesederhana itukah?

Tidak, saya tidak mengatakan bahwa segala hal itu terlalu sederhana, terlalu mudah. Apalagi tentang hal sekompleks depresi dan bunuh diri.

Tapi kalau tidak dimulai dari hal yang sederhana, lalu dari mana harus memulainya?

 

_____

REFERENCES.
`Geberth, V.J. (1996). The psychology of suicide: An investigation assessment. LAW and ORDER, 44, 9.
`American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (2006). Teen suicide. Facts for Families, 10.

`gambar dipinjam dari sini

14 Responses

on December 22nd, 2009 at 1:30 am dr_handry Says:

saya juga heran dgn fenomena banyak yang bunuh diri ini. So far, belum ada kenalan atau teman yang meninggal karena bunuh diri. Tapi yang mesti diingat adalah bahwa jika seseorang meninggal, entah wajar atau bunuh diri maka sebenarnya yang paling menderita adalah keluarga atau orang terkasih yang ditinggalkannya (that`s what i felt when my grandma died in front of me)

on December 22nd, 2009 at 2:28 am Yohanes Han's Says:

selama ini saya menyangka *dan mungkin kebanyakan orang lain juga* bahwa orang melakukan bunuh diri karena putus asa atau putus harap.

tapi setelah sekian lama saya jadi berpikir, bagaimana kalo ternyata bukan hanya krn rasa putus asa yg menyebabkan seseorang ingin bunuh diri. saya jadi berpikir mungkinkah seseorang melakukan bunuh diri krn justru dia membenci dirinya sendiri atau kecewa thd dirinya sendiri, jadi bukan krn rasa putus asa.

saya pernah bbrp kali ngobrol dg orang yg memiliki masalah pelik dlm hidup mereka. awalnya mrk membenci kehidupan dan bahkan kecewa pada Tuhan. namun setelah mrk bisa berkompromi dg kehidupan dan tidak lagi kecewa pd Tuhan, justru akhirnya malah mrk tdk bisa memaafkan diri mrk sendiri dan jadi membenci diri mrk sendiri. dari sini mrk mengatakan ingin “menghabisi” hidup mrk.

nampaknya masalah ini tidak memiliki teori yg sistematik, krn berhubungan tdk hanya scr kejiwaan tapi juga aspek rohani yg tidak bisa ditelaah hanya scr teknis maupun klinis, krn sifatnya yg absurd ya.

lha… kalo mbak dos yg berlatar belakang psikologi klinis gimana melihatnya :D

on December 22nd, 2009 at 8:26 am clingakclinguk Says:

beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah acara berita di tv sedang membahas fenomena maraknya orang bunuh diri, sang narasumber (psikolog) mengatakan motif bunuh diri antara laki-laki dan perempuan itu berbeda, kalau bagi laki-laki bunuh diri lbh karena itu dianggap sbg jalan terakhir yang harus diambil untuk solusi masalahnya, sementara bagi perempuan tidak sepenuhnya demikian, perempuan lebih sering melakukan percobaan bunuh diri sebagai cara untuk mendapat perhatian, jadi bukan bunuh diri itu tujuannya, tapi malah seringkali keterusan sampai terjadi peristiwa bunuh diri karena apa yang diharapkannya tidak dia dapatkan juga.

entah itu benar atau tidak saya sendiri tidak tau.

berdasarkan pengalaman pribadi sih, kalau lagi ada masalah yang pelik, jangan ke tempat-tempat yang tinggi atau menyeberang di jalanan yang ramai lalu lintasnya, terlalu beresiko, seperti yang mbakdos bilang, di saat seperti itu sangatlah dibutuhkan orang2 dekat/sahabat yang bisa menemaninya.

on December 22nd, 2009 at 8:34 am dilla Says:

mereka yang merasa sendiri atau tidak punya siapa-siapa akan merasa hidupnya tidak berarti, dan hal itu mungkin yang mendorong mereka untuk mengambil jalan pintas bunuh diri, karena toh orang lain tidak ada yg rugi kalau mereka mati. Di sini peran orang-orang terdekat bisa berpengaruh banget, mereka yang merasa ‘sendiri’ dengan adanya orang terdekat yang men-support, tidak akan merasa ‘sendiri’ dan melainkan akan merasa kehadirannya di dunia ini ada artinya. Mungkin peran kita di lingkungan ini adalah membuat orang lain berarti, begitu juga harapan kita terhadap lingkungan. Sejatinya kita ini di masyarakat kan pengen dianggep ada tho? :)
*ih ya ampyun serius bgt komengnya* :lol:

on December 22nd, 2009 at 8:38 am warm Says:

.. kompleks memang,
tapi apapun alasannya

keputusan bunuh diri adalah keputusan tergoblok dalam sejarah dan proses hidup.

on December 22nd, 2009 at 8:50 am elia|bintang Says:

kalo salah satu penyebab bunuh diri itu karena depresi berlebihan, artinya kita harus mencegah depresi sebagai langkah preventif. supaya ga depresi, kita harus jadi pribadi yg secure. know who we are, why we’re here, what we want from life. dengan menjadi pribadi yang secure, 0% kemungkinan orang bunuh diri..

jadilah pribadi yang aman lalu perhatikan apa yang terjadi… *mario teguh mode on* :mrgreen:

on December 22nd, 2009 at 3:14 pm KiMi Says:

Kalau tidak salah, aku pernah baca di salah satu buku yang menyatakan bahwa pelaku bunuh diri pada pria lebih besar dibandingkan wanita. Kalau suicidal thoughtnya sih mungkin lebih besar pada wanita *kalo tidak salah ingat*, namun pelakunya lebih besar pria.

on December 22nd, 2009 at 9:11 pm Taufik Says:

bunuh diri sih silakan aja.
tapi jangan bikin susah orang lain..

#klompencapir

on December 23rd, 2009 at 12:06 am si kriwil yg udh smoothing Says:

keiris piso aja udh perih,
kok ya org berani2nya bunuh diri.

Ga sopan!!!
Pada ga ngerti apa ya,
banyak org yang setengah mati (dalam arti yg sesungguhnya) berjuang di ICU ato ICCU, dgn alat penyambung hidup…
biar bisa melanjutkan hidup

eh ini dikasi hidup malah begitu…
makanya jgn kebanyakan dengerin lagu2 emo…
ga baik itu…biasanya abg2 tuh suka sama band emo yg liriknya
“I’d rather DIE than to see you with him”

dan kemudian ditafsirkan secara harafiah

eh jgn ktawa!

on December 24th, 2009 at 10:12 am Kei Says:

Hanya termenung, sedih…
lalu tetes air mata tercipta…
tak terperi rasa bagi mereka yg ditinggalkan…

on December 25th, 2009 at 11:20 pm peach Says:

iya,saya setuju dg mbakdos,bunuh diri itu pasti karena sudah ada masalah2 yg menumpuk sejak lama,dan akhirny dipicu suatu hal..
Kalo mengancam mengiris pergelangan tangan itu baru cari perhatian,karena biasanya tidak jadi,ato cuma teriris dan sudah kesakitan (malah harus dijahit),dan diiris d bagian itu tidak akan mati..paling tidak matinya lamaa..
Saya tidak akan menertawakan org yg bunuh diri,saya kasihan dan mncoba memandng dari sisi mereka…krn sy dulu juga pernah merasakan ‘sensasi’ itu..mungkin bagi anda yg bisa tertawa/sinis,anda mungkin beruntung lahir di keluarga yg mensuport anda secara mental atau paling tidak punya lingkungan/teman yg tepat..anda tdk pernah merasakan misalnya ratusan hinaan fisik termasuk dari keluarga inti,gemuk,hitam,kribo,bau(shg msuk kamar mndi harus terakhir),diem aja nggak usah ngomong;jangan ngaku adikku-malu2in,jangan kenal temenku-malu2in,pulang aja sana jgn ikut lagi,turun aja naik bis nggak usah bawa mobil(yg4ini dari kakak saya sendiri),dll..sekarang meski sy merasa ‘sembuh’ dan kalo boleh bilang dari itik di lumpur sudah jadi angsa..lukany tetap ada,dan untuk menghindari ‘sensasi’ ini muncul lagi memang harus ada coping stres yg benar,ada kesibukan sebagai pengalih,dan suport..
Saya juga punya teman,anak tunggal,kedua ortu dokter,dia sendiri calon dokter.tiba2 depresi dan histeris krn hal kecil,ternyata setelah dikorek keluarganya tidak akur,ortu cerai dan masing2 menikah lagi,sebenarnya teman saya sekolah di kota lain yg jauh pun krn menghindari keluarga baru ibunya..jadi ternyata anak ini stresnya sdh lama hanya ditutupi dg pembawaan yg selalu ceria..
Saat ini saya bekerja sbg medis,memang cukup banyak kasus ‘percobaan’ bunuh diri,dan sebagai medis memang bisa membedakan mana yg pura2/malingering,cari perhatian,atau yg serius..mmm..dan 2tahun saya bekerja yg saya temui selalu wanita lo…

on January 18th, 2010 at 3:54 pm Kreshna Iceheart Says:

Hmmm… Interesting. Ethicists have been debating such thing for years, and there still no general consensus whether each individual has the right to die.
http://en.wikipedia.org/wiki/Right_to_die

I used to be libertarian (although I’m more liberal now, or at least libertarian-socialist), so I tend to support one’s right to die. It’s her/his own life anyway, isn’t it?

Things being said, dropping yourself from the 5th floor is quite a messy –not to mention painful– way to go. (winces)

on February 8th, 2010 at 5:07 pm dayu Says:

walau hidup sering terasa getir, tapi hidup tanpa masalah ibarat sayur tanpa garam *haiah jayus* …

adik saya, termasuk manusia yang tidak pernah susah karena dia tidak mengalami perjuangan orang tua mengais rejeki demi makan anaknya.
adik saya lahir setelah orang tua kami hidup mapan, dan kami kakak2nya bisa memberinya sesuap nasi yang lebih layak dari nasi yang dulu orang tua kami suapkan pada kami, hehehe …

adik saya bilang : apa siy arti prihatin ???

sekarang dia menikahi pacarnya yang seorang pramugari, hidup berjauhan dan pisah kota, entah memang nasib atau pilihan dia untuk mengerti arti “prihatin” … tapi itulah hidup, terlalu indah hanya untuk mengeluh, dan cukup menyenangkan bila kita bisa bersyukur …

selamat menikmati hidup !!!

on April 14th, 2010 at 3:49 pm littlebitofachie Says:

salam kenal mba dos, baca tulisan nya mengingatkan saya waktu nonton film Virgin Suicides, udah nonton filmnya mba dos?

Leave a Reply