Mari Menjual Diri
Kalau memberi dengan tangan kanan, jangan biarkan tangan kirimu melihat.
Buat kita yang menganut agama tertentu, pastilah kalimat itu sudah tidak asing terdengar. Dan bahkan bukan lagi menjadi sekedar istilah dalam sebuah ajaran belaka, melainkan sungguh diejawantahkan dalam bentuk perilaku sehari-hari.
Lalu buat kita yang dibesarkan dalam budaya tertentu, makna yang kurang-lebih sama dengan istilah itu juga pastinya sudah mendarah-daging.
Di berbagai ajaran agama ataupun budaya lain, rasa-rasanya juga akan ditemukan hal yang sama. Walaupun mungkin pembahasaannya saja yang berbeda.
Tentang kerendahan hati. Bahwa jika kita melakukan suatu perbuatan yang baik, cukuplah hanya diketahui oleh diri sendiri dan tidak perlu mengumbarnya dengan memberitahukan kepada orang lain. Tidak perlu pamer.
Dan keluarga saya, mungkin adalah salah satu penganut yang taat atas istilah itu. Memang, ayah dan ibu tidak pernah mengutarakan kalimat itu secara lisan atau bahkan meminta anak-anak mereka untuk menaatinya. Mereka hanya memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari. Yang tentu saja, membuat kami – saya, kakak-kakak, dan si Kriwil – semakin lama semakin terbiasa untuk melakukan perilaku yang sama.
Jika, misalnya saja (CATAT! misalnya), berhasil membantu seorang teman menuntaskan tanggung jawabnya atas skripsi yang sudah sekian semester tertunda, dan akhirnya si teman ini akhirnya lulus dengan nilai gemilang, saya tidak akan memberitahukan kepada teman-teman yang lain bahwa saya pun ikut berkontribusi pada keberhasilan si teman itu. Biarlah ia mengakui bahwa skripsi itu sungguh merupakan hasil kerja kerasnya seutuhnya. Toh tujuan saya membantu, dan itu sudah tercapai.
Atau misalnya lagi, si teman yang hendak mengadakan kencan dengan (calon) kekasihnya, meminta bantuan saya untuk memilihkan pakaian yang paling sesuai. Rupanya, pakaian pilihan saya itu yang kemudian membuatnya dipuji habis-habisan oleh si pasangan. Ya sudahlah, masa iya saya mesti menghubungi (calon) kekasihnya dan memberitahu bahwa pakaian itu adalah pilihan saya?
Hal yang sama juga berlaku dengan sesuatu bernama prestasi.
Setelah berhasil mencapai sesuatu, saya sebaiknya tidak perlu berkoar-koar di sana-sini untuk memberitahukan kepada khalayak umum tentang apa yang telah saya capai.
Yang paling saya ingat soal yang satu ini, adalah berkaitan dengan skripsi saya sendiri. Sebagai salah satu pencapaian terbesar sepanjang sejarah hidup saya *baiklah, saya mungkin lebay!*, di mana nilai yang diperoleh nyaris mencapai nilai 100 sempurna, tidak pernah sekalipun saya mengutarakannya kepada orang lain *sampai hari ini hahaha*. Hanya teman-teman terdekat saya yang mengetahuinya, dan dari mulut mereka pulalah orang lain mengetahuinya.
At some point, menyenangkan buat saya ketika orang lain tidak mengetahui apa yang saya perbuat. Setidaknya, jika kemudian mereka mengetahuinya pun, bukan dari saya sendiri. Buat saya, dampaknya lebih dramatis. Karena melihat reaksi terkejut mereka, yang mungkin semula menduga bahwa saya hanya bisa melakukan hal yang biasa saja, tetapi ternyata saya.. yaa begitulah.
Apalagi mungkin ditambah kecenderungan saya sebagai seorang introvert. Yang jelas lebih menikmati aksi di balik layar, tanpa perlu menjadi pusat perhatian di atas panggungnya.
Alhasil, dengan prinsip yang sama itu pula saya melakukan banyak hal.
Berbagai hal yang telah saya lakukan serta beragam pencapaian yang berhasil saya raih, tidak pernah saya utarakan kepada orang lain. Karena toh tujuan saya melakukan semua itu bukan untuk diketahui oleh orang lain.
Namun belakangan, saya baru menyadari bahwa ‘ketertutupan’ semacam itu tidak selamanya memberikan dampak yang baik. Bahwa membiarkan orang lain tidak mengetahui apa yang telah saya lakukan, kadangkala justru menjadi bumerang buat saya sendiri.
Ketika saya berhasil mencapai sesuatu, lalu tidak ‘memberitahukan’ kepada orang lain dan justru menunggu mereka mengetahuinya sendiri, tidak ada jaminan kalau mereka akan mengetahui hal itu. Bagus kalau mereka tahu, kalau tidak?!
Yang ada, saya malah dianggap tidak pernah melakukan apa-apa. Atau lebih buruk lagi, saya dianggap tidak ada apa-apanya.
Dampaknya, yaa.. tidak akan ada tawaran ini-itu buat saya. Tawaran menulis, melakukan penelitian, memoderasi situs ini-itu, dan sebagainya-dan sebagainya. Atau dalam sisi ekstremnya, saya mungkin saja malah bisa kehilangan apa yang semula sudah saya miliki: posisi sebagai seorang penulis di majalah anu – lantaran dianggap tidak kompeten, kontrak yang tidak diperpanjang, dan ini dan itu lainnya.
Kalau sudah begitu, ya tidak bisa disalahkan juga penilaian orang lain terhadap saya. Menjadi wajar jika mereka menganggap saya ‘bukan siapa-siapa’. Karena toh saya memang tidak pernah menampilkan diri sebagai seseorang yang adalah ‘siapa-siapa’.
Bukan. Jalan keluarnya bukan berarti lantas dengan serba memberitahu semua orang tentang apa yang telah saya lakukan. Seperlunya saja lah.
Yang buat saya, adalah dengan membiarkan orang lain mengetahui bahwa saya memiliki sesuatu dengan menunjukkan kepada mereka sejumlah bukti yang menunjang hal itu. Atau yaa.. sekedar pembahasan singkat dalam sebuah obrolan dengan si ini atau si itu. Lagi, dengan membiarkan mereka melihat sendiri buktinya.
Tentu, ketika orang lain kemudian menganggap bahwa saya bisa menulis, penilaian ini tidak saja muncul sebagai terusan atas kalimat “gue bisa nulis lho..” yang saya utarakan (I really wish I could say it), tetapi dari pengalaman mereka sendiri setelah membaca secara langsung tulisan-tulisan saya.
Atau ketika orang lain memberikan penilaian bahwa saya bisa diandalkan untuk melakukan penelitian, jelas hal itu bukan semata-mata dari ucapan “gue pernah bikin penelitian ini-itu” yang mungkin pernah saya utarakan, tetapi dari pengalaman mereka ketika berdiskusi dengan saya mengenai metodologi penelitian, misalnya.
Intinya, bukan sekedar OMDO (baca: omong doang).
Saya kemudian sering menyebut ini dengan istilah ‘menjual diri’.
Perlukah?
Jelas.
Karena toh orang lain tidak akan tahu apa yang bisa kita lakukan jika kita tidak memberitahu mereka. Mereka juga tidak akan tahu apa saja yang telah berhasil kita capai jika kita sama sekali tidak pernah mengutarakannya kepada mereka.
Soal bagaimana tanggapan mereka tentang hal itu, yaa tinggal tergantung bagaimana cara kita memberitahukannya saja.
Duh, ini gara-gara udah masuk hari kerja (lagi) kali ya?!
Baiklah, selamat hari Senin kalau begitu! ![]()




25 Responses
ya ya ya …
mbakDos: “ya ya ya” — ini kaya iklan anu itu dulu ya
berapa mbak?
pake tender atau penunjukan langsung?
)
mbakDos: itu tergantung projectnya, oom
kayaknya sesuai kebutuhan dan situasi deh, Ta
mbakDos: bukan kayanya sih kang, tapi MEMANG
tergantung situasi nya juga sih
*pernah ngalamin juga*
mbakDos: hihihi idem kang hedi kalo gitu
menurut tante dos, situasi yang tepat untuk bicara kapan dan nggaknya kapan, tante?
mbakDos: waduh, pertanyaan singkat tapi jawabannya bisa berlembar-lembar ini sampe bikin postingan baru *lebay*
sebenernya bukan cuma ngenalin situasinya, tapi tujuannya kita ‘jual diri’ itu buat apa dan siapa si ‘calon pembeli’-nya juga. misalnya, kalo ketemu sama temen yang kerja di majalah apa gitu trus kita pengen blog kita direview, yaa.. ajak aja ngopi, ngobrol-ngobrol, sambil cerita-cerita kegiatan kita ngapain, isi blognya apa dan apa untungnya buat si majalah kalo ngereview blog kita, dst dst gitu.. nggaknya yaa kalo si orang yang kita hadapin itu memang bukan ‘calon pembeli’
*tuh kan bener, panjang kali lebar*
setuju banget. saya juga termasuk orang yang nggak mau koar-koar tentang ini itu. tapi, dalam beberapa kesempatan tertentu, menjual diri itu perlu banget…….tentu,
tidak hanya dengan OMDO.
mbakDos: iya lah pastinya! kalo OMDO mah.. bisa-bisa didiskon barangnya juga belum tentu ada yang mau beli
lagi-lagi
smua tergantung akan ‘apa’ yang harus orang ketahui, yang terkait dengan ‘sesuatu’ yang menguntungkan semua pihak,
dan potensi dirimu,
tak akan pernah ada orang tahu seandainya hasil kerja kerasmu itu ada yang melihat
ya kurang lebih begitu mungkin..
soal tangan kanan-kiri di awal narasi,
itulah indahnya ikhlas, bukan ?
mbakDos: stuju! kalo kitanya nggak berusaha supaya ‘diliat’, gimana bisa keliatan ya?!
soal ikhlas, yah.. rasanya nggak sedikit orang yang bilang kalo itu indah
Saya diajarin kalau tangan kanan dan tangan kiri itu artinya bahwa perbuatan baik yang kita kerjakan adalah benar-benar baik jika kita tidak tahu bahwa perbuatan itu ternyata membawa berkat bagi orang lain.
just another perspective…
mbakDos: kalo diliat dari sisi yang sebelah situ, memang begitulah maknanya
Nah, pertanyaan maha penting berikutnya adalah: gimana CARANYA menjual diri mbak?
mbakDos: salah satunya: jadi orang yang kontroversial
gue setuju. gini, budaya malu yang ketimuran ini sbnrnya banyak negatifnya juga. sedikit2 bilang orang lain sombong, sedikit2 bilang orang lain narsis. jadi kalo bicara yang baik itu ga boleh, reus kita harus bicara yang jelek? ga heran rating infotainment itu tinggi..
kalo gue sih bicara bagus atau jelek ya nyeplos aja selama masih sesuai fakta. kalo misalnya gue adalah penyanyi terbaik di indonesia, gue akan bilang “i’m the best.”
after all, transparency builds trust. ga usah terlalu jaim.. *sekalian curcol*
mbakDos: lagipula, kalo udah soal jualan begini, rasa-rasanya elo udah lebih tau seluk-beluknya deh ya el
Salam kenal bu Dosen semoga betah mengajar dan membantu mahasiswa agar cepat lulus dan berhasil menjadi sarjana. Ngomong-ngomong mengajar mata kuliah apa?
mbakDos: hahaha harapannya itu lhoo.. saya sih nggak pernah janji bisa bantu mereka lulus dengan cepat, tapi mungkin lebih bisa janji kalo mereka lulus nanti punya bekal
ngajarnya.. ngg hitung-hitungan dan tentang penelitian lah intinya
makasih ya udah mampir, sering-sering lhooo
iya seperti cacing didalam tanah, ia tidak kelihatan tapi memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia.
tapi bukan berarti Mba Dos cacing loh.. wkwkwkwk..
kalo boleh nambah Mba (sok banget sih ya)
jangan ada yang tau dan berusaha sebisa mungkin untuk melupakan kebaikan
mbakDos: “buat saya sih, sekali berbuat kebaikan, itu jadi hadiah yang luar biasa banget kok buat saya sendiri. nggak perlu lah nunggu diliat atau malah dapet balasan dari orang lain,” begitu kata si cacing
sayah setuju dng menjual diri itu.. tak kira apa jula diri di postingan ini
mending Menyewakan diri….
mbakDos: kenapa gitu?
let’s prooffffff
memberi bukati bukan janji
mbakDos: hah? memberi bupati? *halah* :mrgreen ayoh, makanya dibuktikan dong!
yuuuuuk jualaaaaaan yuuuuuuuks…
ga nyangka kalo ternyata dirimu introvert yah.. [slama ini so kenal berarti] hihihi…
selamat ber – repackage biar display-nya makin mantabh, you are so cooool…
mbakDos: hahaha bukan cuma introvert, tapi pake banget!
aiihhh.. jadi malu dipuji *halah apa sih??*
mm, begitu yah? belajar deh dari senior disini, yang udah lulus skripsi. hehe…
mbakDos: hahaha iya sih, udah lulus.. ngg empat taun yang lalu
daku ndak bisa menjual diri.. -_-
mbakDos: masa gak bisa, dil? kaya’-kaya’nya sih yaa setiap orang itu bisa kok, tinggal dilatih aja kali
gak laku-laku ya mbak?
mbakDos: saking lakunya sampe masih pada nyariin aja lho
Saya Jual Diri !!!
*lirik CV*
mbakDos: sekilo berapa?
Saya juga introvert, mungkin kita jodoh
*tersipu* :”>
mbakDos: ah aku jadi malu *ini apa sih sesungguhnya??*
atasan di kantor pernah curhat bahwa dia nggak ingin ‘menjual diri’ .. tetapi gara2 itu, orang lain nggak tau apa yang dikerjakan… dan akhirnya dijatuhkan pas penilaian kinerja..
jadi sepertinya menjual diri adalah keharusan (setidaknya untuk di kantor)
Speaking about humility, I guess it’s appropriate to proudly announce that I am the most humble person in the world.
Oh wait….
mbakDos: hahaha nice try!
dsi ni bnyak brondong,yg pingn d jual.minat
mbakDos: makasih, tapi maaf saya cuma berminat sama pria-pria matang
itu sih udah biasa..gak perlu di bahas…….masalh kepribadian rasanya sedikit sensitif ya……susah mau ngejawabnya…
mbakDos: hmm.. mungkin bukan sensitif kali ya, tapi memang beda