1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Big Girls Do Cry (and Know Why)

“Mana janji manismu, setia sampai aku mati?! Kini engkau pun pergi saat ‘ku terpuruk sendiri..”

Lagu itu terus saja terngiang-ngiang di dalam kepala saya. Bukan saja karena seringnya lagu yang sama diputar di beberapa stasiun radio kenamaan – yang hampir selalu saya dengarkan sepanjang perjalanan bersama si hitam. Tetapi juga lantaran person-in-charge perusahaan klien yang selama beberapa hari terakhir sedang sering saya hubungi melalui telepon selulernya ternyata menjadikan lagu Nidji yang berjudul Sang Mantan itu sebagai nada sambungnya.

Bisa dibilang, setidaknya sehari sekali lagu yang sama pasti akan saya dengarkan.

Belum terhitung bila masih ada lagi pendengar radio yang secara khusus meminta agar lagu itu diputarkan juga, di luar playlist si penyiar.

Menariknya, selama beberapa kali mendengarkan siaran radio itu, yang seringkali request lagu Sang Mantan adalah pendengar perempuan. Setidaknya nama mereka menunjukkan demikian.

Mengesampingkan faktor Nidji sebagai sekumpulan pria yang digandrungi para perempuan, lagu itu sendiri tampaknya memang berhasil menggambarkan dengan tepat apa yang (pernah) dirasakan oleh mereka yang mendengarkannya.

Tentang sebuah hubungan cinta yang terpaksa kandas karena salah satu pihak kelihatannya sudah tidak ingin berada di dalamnya lagi. Sedangkan pihak yang lain, merasa ditinggalkan, dikhianati, dikecewakan, karena mungkin semasa hubungan itu masih terjalin, sejumlah janji yang indah pernah terungkap oleh keduanya.

Dan pada kenyataannya, janji itu tidak bisa terpenuhi.

Mungkin juga kemudian muncul perasaan sedih dan marah.

Tetapi perasaan yang semula saya duga akan ikut serta juga di sana, ternyata tidak saya temukan. Tidak disebutkan sedikit pun dalam lagu itu.

Tentang sesuatu bernama penyesalan.

Dan bagian ini adalah bagian yang buat saya menarik.

Kalau sudah membahas putus cinta, patah hati, atau apa lagi lah namanya, penyesalan itu tidak jarang – atau malah sering – menjadi sesuatu yang kental dirasakan oleh mereka yang sedang mengalaminya. Serba menyalahkan si lelaki yang memutuskan hubungan itu, mengungkapkan segala macam sifat buruk yang dimilikinya – dan sebaliknya – mengutarakan perjuangan hebat yang pernah dilakukan untuk mempertahankan hubungan ini, walaupun kemudian ternyata laki-laki itu tidak melakukan hal yang sama.

Lalu menyesal.

Bahwa pernah menjalani hubungan dengan si laki-laki yang kemudian justru mengecewakannya.

Bahwa semestinya dulu tidak memberikan seluruh cintanya kepada laki-laki itu.

Bahwa mungkin harusnya malahan menerima pinangan dari laki-laki lain yang lebih baik, yang lebih teratur hidupnya, yang lebih mapan, yang lebih ini dan lebih itu.

Bahwa jauh lebih baik bila tidak pernah mengenal laki-laki yang kemudian menyudahi hubungan cinta mereka itu.

Padahal kalau diingat lagi ke belakang, hubungan cinta itu ‘kan terjalin juga atas kesepakatan kedua pihak. Bukan hanya si laki-laki atau bahkan si perempuan. Kalaupun si perempuan merasa ‘terpaksa’ menerima pinangan (calon) kekasihnya, ia toh juga sudah mengambil keputusan untuk menyetujui permintaan si laki-laki untuk menjalin hubungan cinta dengannya.

Singkatnya, tidak mungkin dua orang ini bisa berpacaran kalau keduanya tidak menyepakati hubungan itu.

Dan jelas, si perempuan juga turut ambil bagian secara aktif di dalam kesepakatan itu. Bahwa ia pun memutuskan untuk menjalani hubungan cinta dengan si laki-laki.

Lalu setelah keputusan itu dibuat, sekian waktu berlalu dan kemudian menyadari bahwa keputusannya salah, apa yang dilakukan?

Memang lebih mudah untuk menyalahkan si pria, menganggapnya sebagai pihak yang telah menjerumuskannya dalam hubungan cinta itu padahal sesungguhnya ia tidak menginginkannya, menyatakan bahwa ia adalah pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap hubungan cinta itu, menyalahkannya atas hal ini hal itu dan hal lainnya lagi.

Memang jauh lebih mudah untuk menuding pihak lain sebagai pihak yang semestinya bertanggung jawab terhadap keputusan (yang salah) yang pernah dibuat dulu itu.

Padahal ‘kan, itu juga toh keputusan pribadinya.

Masa iya orang lain yang kemudian harus bertanggung jawab?

Kalau jalan yang dilewati ternyata sedang macet luar biasa, masa iya kemudian menyalahkan penyiar radio yang terlambat memberitahu kondisi jalanan tersebut? Toh kita sendiri yang sudah memutuskan untuk melintasi jalanan itu.

Kalau pakaian yang dikenakan ternyata tidak sesuai dengan tema acara, masa iya harus menyalahkan si pembuat undangan yang tidak menyebutkan jenis pakaian yang disarankan untuk dikenakan pada acara tersebut? ‘Kan kita sendiri yang memutuskan untuk mengenakan pakaian itu.

Atau kalau kemudian menyadari bahwa pendidikan atau pekerjaan yang dipilih ternyata demikian tidak menyenangkannya, masih perlukah menyalahkan orangtua, teman, kekasih, yang sudah ikut serta memberikan masukan mengenai pendidikan atau pekerjaan itu? Toh yang memutuskan untuk menjalaninya, ya tetap kita sendiri.

Bahkan jika kita hanya mengikuti dorongan orang-orang terdekat ini, kita pun sudah mengambil keputusan juga. Untuk mengikuti mereka.

Dan masih mau menyalahkan orang lain atas keputusan yang sudah kita buat?

Bertanggung jawab terhadap pilihan kita sendiri memang tidak pernah mudah.

Tapi memang itulah harga yang harus dibayar untuk menjadi dewasa.

Menjadi seseorang yang mandiri, dengan menghadapi konsekuensi apapun sebagai akibat dari keputusan yang telah kita buat.


`gambar aseli dipinjam dari sini

17 Responses

on January 9th, 2010 at 12:59 pm warm Says:

berani ambil keputusan,
ya musti berani tanggung jawab dong ya

setuju sekali saya ini mah :)

on January 9th, 2010 at 1:00 pm fla Says:

Menyalahkan orang lain atau keadaan atas hal yg tidak menyenangkan yang kita alami adalah yang paling mudah untuk menyembuhkan rasa sakit tapi memang menjadikan kita tidak bertanggung jawab atas pilihan hidup kita sendiri

on January 9th, 2010 at 2:27 pm ARAFURU Says:

memang susah kalo mencari suatu hal kalau hati sedang tidak jernih …
saat patah hati siapapun bisa menjadi kambing hitam, kucing putih lewat pun kalo sedang kacau bisa kita maki-maki

waktu pacaran seseorang dapat dengan mudah menebar janji dengan tujuan baik-baikin si pasangan.

setelah bubar … hiks pantang deh denger lagu itu …

on January 9th, 2010 at 2:36 pm elia|bintang Says:

menuding dan ga bisa menerima kalo dirinya ikut bertanggung jawab itu sifat yang kekanak-kanakan. seperti kata a mild: tua itu pasti, dewasa itu pilihan *apa sih* :mrgreen:

on January 9th, 2010 at 3:02 pm morishige Says:

curcol nih keknya mbak. hehehe…

tapi bener, saya setuju sama paragraf2 terakhir. masa nyalahin orang atas perkara yang timbul pada kita… mending introspeksi diri dulu aja..

on January 9th, 2010 at 3:03 pm japro Says:

pengalaman pribadi ya nduk?

*sound familiar (bukan lagunya lho)

on January 9th, 2010 at 3:48 pm budiono Says:

memang benar, itu adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi dewasa.. tapi gak semua orang harus melalui proses itu kok..

on January 10th, 2010 at 4:55 pm jejak annas Says:

hebatnya seniman itu syairnya bisa mewakili perasaan kebanyakn orag. tapi memang sadis juga dneger nya kalo soal percintaan. tapi sesadis apapun cinta tetep saja bayak yang menyukai dan berada di dalamnya. mungkin tergantung cara penyikapannya aja kali ya

on January 11th, 2010 at 12:11 am venus Says:

idem sama mas japro: pengalaman pribadi? *dijambak* :) )

mbakDos: *slepet simbok* :mrgreen:

on January 11th, 2010 at 9:43 am Gubs Says:

Yag jelas, untuk yg itu, kamu memang salah Tha..
Tapi aku sudah memaafkanmu.., tidak melupakanmu.. dan aku tak menyesal telah mengenalmu..

on January 12th, 2010 at 10:43 am Anneke Priskila Says:

kenapa cerita di atas bisa mirip banget ya dengan kejadian yang sedang dialami oleh orang terdekat saya?

terima kasih ya mbak buat 3 baris terakhir, kata-katanya sungguh sangat menyentuh… :D

on January 14th, 2010 at 9:34 am bakulrujak Says:

jadi dewasa itu tak selalu berbanding lurus dengan usia kan ? :D

on January 14th, 2010 at 11:58 am bella Says:

berasa repost………. :-)

on January 16th, 2010 at 11:48 am suci - ucrit Says:

mbak…tulisannya enteng tp dalem..hehehee…kasian orang lain yg disalain ya..masak kita yg benjol…trus kita nyalain tukang batux..

on January 18th, 2010 at 3:49 pm Kreshna Iceheart Says:

Been there, done that. Made the decision. And now, being a mid-30s bachelor myself, I have to say I’m happy with my choice. Or to quote William Wallace: “FREEEDOOOOOOMMM!!!”

Not to sound sexist, but apparently we men don’t need marriage. Heh heh.

on January 31st, 2010 at 7:49 am Introverto Says:

akhiirrrnya gue sempet baca tulisanmu lagi…miss a lot of it…

satu katah..setujuh ama inihhh…

on February 17th, 2010 at 1:49 pm pandaya Says:

karena dibutuhkan kebesaran hati dan kedewasaan untuk menyadari kl ternyata kita jg punya andil dalam kesalahan itu *sok ngerti* :D

Leave a Reply