1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

One Hit Wonders

Perbincangan singkat dengan teman yang adalah seorang pemusik beberapa hari lalu kembali mengingatkan saya akan perbincangan lain dengan seorang teman yang lain juga. Keduanya membahas hal yang sama: musik.

Di antara sekian percakapan yang pernah dilakukan, ada satu yang paling saya ingat.

Tentang ke mana perginya musik dangdut belakangan ini.

Memang, kalau diperhatikan – baik buat kita yang penggemar musik atau yang sekedar pendengar saja – ranah musik dalam negeri sedang dipadati dengan sejumlah band baru. Sebagian besar mengusung musik beraliran melayu dan sebagian lagi musik pop yang mendayu-dayu. Tampil dengan formasi sekumpulan pria, biasanya berjumlah empat hingga lima orang, di mana satu orang sebagai penyanyi dan sisanya memainkan alat musik.

Di jajaran musik melayu, ada Kangen Band, ST12, dan Wali, yang luar biasa fenomenal. Siapapun tidak akan memungkiri kecemerlangan nama ketiga band itu. Melalui acara apapun yang menyajikan penampilan musik secara langsung (baca: live) – baik yang disiarkan di televisi maupun tidak, di berbagai stasiun radio, bahkan juga layanan nada sambung (ring-back tone), bukan saja nama ketiganya dikenal, tetapi lagunya pun terus terngiang di dalam kepala para pendengarnya.

Katanya benci, tapi ketika lagu-lagu mereka terputar di radio, kok ya ternyata hafal juga.

Selain band-band beraliran melayu ini, masih terdapat sejumlah band lain yang lagunya berulang kali terputar di radio. Bahkan bisa sekian kali dalam sehari.

Sebutlah Hijau Daun, Zigas, Lyla, Juliette, Hello, Pilot, dan entah berapa banyak lagi nama band yang bermunculan di saat yang hampir bersamaan. Sebagian besar membawa tema yang sama, yaitu tentang cinta yang dibalut dalam melodi mendayu-dayu. Kalaupun jarang atau tidak pernah mendengar nama-nama band itu, setidaknya lagunya pasti pernah didengar. Ikut menyanyikannya juga, mungkin.

Saya sendiri, sudah jarang sekali menemukan para pengamen – entah di perempatan jalan, di rumah-rumah makan, atau di banyak tempat lain, yang menyanyikan lagu berirama dangdut. Lagu-lagu band inilah yang dibawakan sebagai gantinya.

Acara musik di stasiun televisi pun, kelihatannya sudah tidak lagi dibanjiri dengan musik dangdut layaknya beberapa tahun silam saat KDI (Kontes Dangdut TPI) dan kontes lain yang serupa tengah memasuki masa jayanya.

Tidak lagi banyak pemberitaan terkait musik yang satu itu.

Ke mana mereka?

Pertanyaan yang sama juga saya ajukan saat mulai sering menikmati malam-malam sendu melamun bersama siaran musik-musik rok balada (ballad rock) di Kentang Radio.

Band sejenis Europe, Damn Yankees, Cinderella, Warrant, Harem Scarem, Kansas, atau Journey. Tampilan memang sangar dengan rambut gondrong dan berukuran besar (baca: big hair band), tetapi lagu-lagu rok yang dibawakan sungguh manis.

Lalu, mereka-mereka ini rupanya hanya bisa ditemukan pada masa-masa tahun delapan sampai sembilan-puluhan, di masa di mana saya masih sibuk menimba ilmu dengan seragam sekolah. Sekarang..?

Silih-berganti lah jenis musik dan para pemusiknya dari waktu ke waktu. Ada masanya boyband sejenis Backstreet Boys dan N’Sync berjaya, ada lagi saat musik ska sejenis Save Ferris dan The Mighty Mighty Bosstones digandrungi.

Dan menjadi sulit bukan main menemukan pemusik seperti U2. Atau Sting. Juga Queen.

Yang mana musik mereka seolah tak pernah mengenal sesuatu bernama waktu. Seakan-akan memang tidak punya masa kadaluwarsa. Musik apapun yang mereka mainkan, lagu apapun yang diciptakan, tidak pernah ada kata tidak laku. Di negara manapun konser mereka diadakan, saya berani bertaruh bahwa peminatnya sama sekali tidak bisa dibilang sedikit.

Bahkan setelah belasan, mungkin puluhan tahun sejak pertama kali mereka muncul di depan khalayak ramai.

Saya memang bukan pengamat musik. Saya hanya pendengar dan penggemar yang setia. Dan rasa-rasanya pengetahuan saya soal musik sungguh tidak sebanding dengan teman-teman saya – yang notabene memang pemusik sungguhan.

Tapi satu hal yang saya rasa saya cukup paham.

Musik-musik yang muncul dan kemudian menghilang, para pemusiknya yang datang lalu pergi, hingga kini tidak pernah terdengar lagi karyanya, adalah hal yang lumrah. Sangat sering, atau mungkin hampir selalu ditemukan.

Tidak jarang mereka hanya meluncurkan satu album perdana, lalu sudah. Tenggelamlah namanya. Atau bahkan hanya memperdengarkan satu lagu hit, dan berakhirlah perjalanan mereka. Sebelum sejarah sempat mencatatkan nama mereka sebagai salah satu pelaku di dunia musik, bahkan.

Padahal, saya yakin betul bahwa perjuangan untuk bisa mengeluarkan sebuah album bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi kalau sudah menyangkut perdebatan terkait industri musik – mana musik yang laku dan yang tidak – dengan perusahaan rekaman. Penolakan dari satu perusahaan ke perusahaan lain mungkin pula sudah menjadi makanan sehari-hari.

Atau mungkin saat sekedar ingin memperkenalkan satu lagu saja – hanya satu! – ke masyarakat umum, berbagai jalur harus ditempuh. Mendatangi stasiun radio, majalah ini itu, atau bahkan penyedia jaringan telepon seluler yang menyediakan layanan nada sambung. Tujuannya hanya satu, supaya lagu itu bisa diperdengarkan kepada banyak orang.

Lalu setelah apa yang dicita-citakan itu akhirnya berhasil, setelah lagu mereka dikenal, albumnya laku terjual, satu hal yang mungkin sedikit dilupakan.

Bahwa perjuangan yang sesungguhnya justru baru dimulai.

Ketika mereka bukan lagi dihadapkan pada perjuangan untuk menembus perusahaan rekaman, tetapi juga harus bersaing dengan sesama pemusik. Mereka secara tidak langsung dituntut untuk menyajikan sesuatu yang khas, yang berbeda, yang membuat mereka bisa ‘terlihat’ atau ‘terdengar’ di antara sesama pemusik lain – yang mungkin sejenis.

Dan satu lagu hit, sama sekali tidak cukup.

Satu video klip juga tidak akan berarti apa-apa.

Tidak mengherankan jika pada akhirnya hanya pemusik yang sungguh-sungguh pemusik *halah, blunder!* yang bisa tetap bertahan.

Memulai sesuatu (yang baru) memang memberikan tantangan tersendiri, kadang memberikan adrenalin berlebih untuk bisa mencapainya.

Tetapi tetap tidak lebih sulit jika dibandingkan dengan mempertahankan apa yang sudah dicapai untuk pertama kalinya itu.

12 Responses

on January 16th, 2010 at 10:26 pm tedi Says:

nek dangdut yang eksis keknya dangdut koplo yang khas dengan ketipungnya :)

mbakDos: tapi bener sih, kalo di daerah jawa gitu dangdut itu nggak ada matinya! :D

on January 17th, 2010 at 12:04 am elia|bintang Says:

ibu ibu bapak bapak..
siapa yang punya anak bilang aku..
aku yang tengah malu sama teman2ku..
karena hanya diriku yang tak laku2..

*contoh orang yg benci tapi hafal* :lol:

mbakDos: sok ngaku-ngaku benci ‘kan loo?? :lol:

on January 17th, 2010 at 12:28 am warm Says:

begitulah musik

dan err dangdut ?
mau minjem koleksi mp.3 bang rhoma punya saya ? :D

mbakDos: lho jangan salah, saya punya sampe 4 jilid lho! eh ini ngomongin novel ‘kan ya?! *dislepet* :mrgreen:

on January 17th, 2010 at 2:59 am christin Says:

makanya saya jadi pecinta lagu jadul dari frank sinatra sampe beatles dan ABBA yang meskipun sekarang uda ga bikin album lagi tapi lagunya tetap diinget :D

mbakDos: ya ya ya, john lennon ‘kan maksudmu, bi?! :mrgreen:

on January 17th, 2010 at 6:42 am budiono Says:

hahahaa begitulah non, banyak orang yang ngakunya benci dangdut dan melayu, tapi kalo lagu itu terdengar otomatis kepala dan kaki bergoyang..

mbakDos: ‘benci’ yang nggak bisa dipercaya ya?! :D

on January 17th, 2010 at 11:39 am hedi Says:

dangdut masih ada, tapi berubah bentuk. bila produser cuma jualan dangdut, hasilnya ga bisa sampek berjuta copy — kecuali produser mau pake penyanyi kayak Inul.

itu sebabnya sekarang muncul metal (melayu total) yg dibilang dangdut tanpa gendang. ST 12 & Wali kelihatan banget ke arah dangdut, cengkok vokalnya dangdut, sound gitar (terutama di Wali) juga dangdut, ketukan ritmis drumnya pun dangdut.

hasilnya, bisa jualan sampek lebih dari 2 juta copy. penggemar dangdut ketarik, pendengar pop ya ikut seneng :D

mbakDos: eh bener juga ya kang. malah jadi nggeret semuanya :P

on January 17th, 2010 at 7:48 pm oglek Says:

musik itu seperti dunia yang selalu berubah, hanya saja kadang selera kita yang selalu berubah.

untuk musik dangdut sekarang yang laku ya dangdut ala melayu itu, atau kalau di kampung-kampung biasanya dangdut campursari :D

mbakDos: ngg tapi masa sih selera musik kita mesti ngikutin yang lagi laku sekarang? :P

on January 18th, 2010 at 7:23 am bandit™ Says:

susah… dangdut itu susah menggoyang kalo tak diijinkan bergoyang… hmmm

mbakDos: dalam hati aja! *halah* :D

on January 21st, 2010 at 5:25 am queen Says:

biasa yang guilty pleasure begitu emang enak, bilang gak suka tapi hajar juga :mrgreen:

mbakDos: STUJUH! istilah yang pas banget tuh: guilty pleasure! sok malu-malu nggak mau ngaku kalo suka :lol:

on January 22nd, 2010 at 6:45 am goop Says:

Seperti halnya satu postingan saja tidak cukup, ya ngga, Mbak? :)

mbakDos: kalo soal postingan sih, jelaaasss satu nggak cukup dong ah! :mrgreen:

on January 29th, 2010 at 7:13 am anima Says:

Dan satu lagu hit, sama sekali tidak cukup.

ndak di semua kasus begini, mbak :)
contohnya Johann Pachelbel itu Canon in D-nya kan one hit wonder tuh, tapi sampe sekarang dipake dimana-mana dan melodinya dijadikan acuan untuk banyak lagu.

hidup Pachelbel!

*ga fokus*

mbakDos: hihihi mungkin pengecualian buat dia kali ya?! :D

on February 8th, 2010 at 4:59 pm dayu Says:

aku benci banget lagunya warteg boys yang okelah kalau beg beg beg begitu dari awal liriknya dan keingat wajah dan ekspresinya yang enggak banget, tapi ga tau kenapa setiap dengar lagu itu malah terus terngiang … hahaha …
sebel deh !!!

Leave a Reply