Di Balik Kereta Api
Dua orang pria yang usianya sekitar tujuh-puluh tahun berdiri di depan pintu kedai kopi di mana saya tengah berada. Beberapa saat menanyakan entah apa kepada si mbak pramuniaga sebelum akhirnya diantarkan menuju ke dalam. Mereka memilih meja yang letaknya persis di sebelah kiri-depan meja saya.
Kakek pertama mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan motif garis-garis tipis membentuk kotak-kotak berukuran sedang. Juga celana panjang dan sepatu sandal. Ia memilih tempat duduk yang sejurus dengan arah duduk saya, hingga yang terlihat oleh saya hanyalah punggung dan sebagian kanan-belakang tubuhnya.
Sedangkan kakek kedua mengenakan pakaian yang lebih.. apa ya?! Lebih gaya. Sebutlah demikian. Ia juga mengenakan kemeja berwarna putih lengan pendek serta celana panjang dan sepatu sandal. Hanya saja, yang membedakannya dengan kakek pertama adalah karena kakek kedua ini mengenakan bretel coklat yang mengikat bagian depan dan belakang celananya melewati kedua bahu.
“Di sini aja lah ya kita,” seru si kakek pertama kepada kakek kedua.
Belum sempat memberikan jawaban, ia terpaksa menyetujui saja apa yang dikatakan temannya itu *eh, teman?! mungkin mereka kakak-beradik, atau bersaudara, atau.. ah sudahlah, anggap saja memang teman*
Ia tersenyum dan segera menduduki kursi yang bersikuan dengan temannya itu, sehingga saya bisa melihat dengan jelas rupa si kakek kedua ini.
Datanglah lagi si mbak pramuniaga untuk menyapa dan menanyakan pesanan mereka sambil menyodorkan buku menu.
“Cappuccino, Mbak. Anget, ya?!” kata kakek kedua.
Si mbak mencatat.
“Mbak, saya mau pesen kopi Kereta Api (merk kopi sengaja diganti hihihi),” seru kakek pertama. Lantang. Tanpa ragu.
Bukan hanya si mbak saja yang terkejut, tapi saya pun sama terkejutnya mendengar pesanan itu. Tanpa sadar, saya tersenyum. Juga si kakek kedua, yang ikut tersenyum – dan tidak berkomentar apapun atas permintaan si teman tadi.
Jawaban yang diberikan si mbak persis seperti dugaan saya. Bahwa kopi yang dimaksudkan oleh kakek itu tidak tersedia di kedai kopi ini.
Namun toh ia tetap bersikukuh dengan pesanannya. Kopi hitam dengan merk Kereta Api.
Tampak kebingungan, si mbak meninggalkan meja mereka. Tak lama, ia kembali lagi dengan seorang ibu yang mengenakan setelan blazer dan celana panjang yang serasi. Dugaan saya, ibu ini adalah seorang supervisor kedai kopi itu, atau sejenisnya.
“Maaf, Bapak. Di sini tidak ada kopi Kereta Api. Kalau Bapak mau kopi hitam, kami ada kopi toraja,” sahut ibu supervisor dengan suara yang terdengar sangaaaattt menenangkan.
Si kakek menggeleng, “Aduh, nggak.. nggak bisa saya. Saya biasa minum kopi hitam itu ya Kereta Api. Kalau kopi lain, suka batuk, gitu. Jadi.. nggak ada ini kopi Kereta Apinya?”
Si ibu masih tersenyum, “Maaf Pak, nggak ada.”
“Ya sudah, teh hangat aja lah kalo gitu.”
“Makanannya mungkin Pak, ada yang mau dipesan? Ada singkong goreng, pisang goreng..”
“Itu pisang goreng boleh.”
“Dengan coklat atau keju, Pak?”
“Keju aja laahh.. Udah tua begini, nanti batuk saya kalo makan coklat.”
“Kalau Bapak, mau pesan makanan juga mungkin?” tanya si ibu kepada kakek kedua.
“Saya coba singkongnya deh, Mbak.”
“Baik, Pak. Ditunggu sebentar ya..”
Si ibu berlalu dari meja mereka. Dan mulailah mereka berbincang-bincang. Mungkin lebih tepatnya, kakek pertama yang berbicara dan kakek kedua yang lebih banyak mendengarkan. Yang menariknya adalah, kakek pertama masih mengisahkan kesukaannya pada kopi hitam bermerk Kereta Api itu. Sejak kapan ia mulai mencobanya, perbedaan rasa dengan kopi-kopi lain yang pernah diminumnya, reaksi yang seringkali timbul jika ia meminum kopi merk lain, dan seterusnya-dan seterusnya.
Ia juga sempat mengutarakan kekecewaan lantaran kedai kopi tempat mereka tengah berada itu tidak menyediakan kopi yang dimaksud. Padahal menurutnya, kopi itu tidak sulit dicari dan di warung-warung sekitar juga pasti bisa ditemukan dengan mudah.
Semua itu diutarakan olehnya layaknya sebuah perbincangan biasa saja.
Tanpa nada kemarahan, kekesalan, atau sejenisnya.
Percakapan tentang kopi pun berakhir. Mereka menikmati minuman dan makanan kecil yang sudah disajikan di meja sambil berbincang-bincang tentang hal lain.
Lalu sekitar setengah jam kemudian, mereka memanggil si mbak pramuniaga untuk meminta tagihan. Lagi, yang mengantarkan tagihan dan melayani mereka adalah si ibu supervisor, bukan si mbak yang dipanggil.
“Tunggu sebentar ya, Pak,” kata si ibu sambil membawa nampan kecil kembali ke kasir.
“Nggak. Nggak usah. Udah, nggak usah pake kembalian. Dibawa aja semua,” kata si kakek pertama.
Lagi, kakek kedua tersenyum saja.
Membuat saya mau-tak mau ikut tersenyum melihatnya.
“Terima kasih banyak, Pak,” sahut si ibu.
Ia kemudian mengantar kedua kakek ini ke depan pintu kedai. Setibanya di sana, samar-samar masih terdengar suara si kakek pertama tadi.
“Besok-besok saya ke sini lagi deh ya..”
“Silakan, Pak. Senang sekali kami kalo Bapak datang lagi.”
Padahal, saya masih ingat betul bagaimana ia ketika datang tadi dengan kekeuh-surekeuh meminta kedai kopi itu menyajikan kopi Kereta Api yang dimintanya. Ia bahkan terlihat tidak senang atau mungkin sedikit kecewa ketika si ibu supervisor menyampaikan bahwa kopi yang dimaksudkan itu tidak tersedia. Ya jelas saja, kedai kopi ini ‘kan punya pilihan sendiri tentang kopi mana yang akan disajikan kepada para pengunjung. Lha ini si kakek meminta kopi merk lain.
Dan saya berani bertaruh *eh, berani nggak ya?! berani deh! hihihi* jika si kakek tadi datang berkunjung di hari yang lain, kedai kopi ini juga tetap tidak menyediakan kopi merek Kereta Api.
Karena sepertinya memang bukan kopi itu yang membuat si kakek mau kembali.
Tapi si ibu supervisor dan mungkin juga si mbak pramuniaga yang dirasakan memberikan pelayanan dengan sangat baik. Diuji pula kesabarannya atas sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak perlu terjadi. Ya iya lah.. meminta disajikan kopi dengan merk yang bukan merk kedai kopi itu, mestinya tidak perlu dilakukan oleh pengunjung yang sudah menginjakkan kaki ke dalam kedai kopi.
Nyatanya, toh kedua kakek ini tetap dilayani dengan baik.
Dan entahlah.. tiba-tiba saja sesuatu terlintas dalam kepala saya.
Bahwa mungkin *catat! MUNGKIN!* buat si kakek pertama tadi, tidak terlalu penting apakah ia bisa mendapatkan kopi Kereta Api yang dimintanya atau tidak. Tapi perhatian yang diberikan kepadanya – oleh si ibu supervisor khususnya – ketika memberikan pemahaman bahwa kedai kopinya tidak menyediakan kopi itu, bahwa si ibu bahkan meminta maaf, bahwa sudah berbicara dengan nada yang sangaaaattt halus, telah menjadi jauh lebih bermakna baginya.
Karena mungkin memang itu yang dibutuhkannya.
Saya tidak terlalu yakin bahwa kedua kakek ini masuk ke dalam kedai tanpa mengetahui ‘aturan main’ soal dilarang memesan kopi merk lain selain yang disediakan oleh kedai kopi ini. Rasa-rasanya mereka cukup paham.
Tetapi kenapa mereka eh.. si kakek pertama ini tetap ‘melanggar’ aturan main itu?
Mungkin karena ia memang ingin dilayani dengan baik, ditanyai keinginannya, diperhatikan kebutuhannya.
Dan mungkin di sinilah kemampuan si ibu supervisor tadi. Bukan saja sekedar memberikan berespon atas permintaan yang tidak mungkin dipenuhinya, tetapi bagaimana ia bisa menyampaikannya dengan baik, setelah menyadari apa sesungguhnya yang dibutuhkan si kakek tadi.
Perhatian.
Dan hasilnya..?
Satu – atau mungkin dua – orang pengunjung bisa dipastikan akan kembali lagi mendatangi kedai itu.
Hanya karena si ibu bisa memahami apa yang sesungguhnya diharapkan pengunjungnya ketika datang ke kedai itu. Di mana hal ini tidak semata-mata bisa dilihat dari perilaku yang mereka munculkan, tetapi dari apa yang sebenarnya memicu perilaku tersebut.




14 Responses
Jadi inget sbux. keutamaan service diatas fungsi / jenis minumannya
Membaca cerita diatas, saya jadi teringat sebuah ungkapan yang bunyinya seperti ini, “terkadang arti sebuah nilai bukan hanya tentang apa yang kita berikan dan ungkapkan, tapi lebih sering justru karena dari cara kita memberikan dan mengungkapkannya.”
Tapi sayangnya saya lupa itu kata-kata dari mana
Sang supervisor menunjukkan bahwa melayani bukanlah berarti merendahkan diri, rasa nyaman jelas dihadirkan melalui nada bicara yg menenangkan tadi..
Boleh tau dimana warung kopinya? :p
supervisornya menguasai dua ilmu; marketing dan humas…itu belum termasuk skill administrasi. kedai kopi mana nih, mbak…kalo boleh tau?
wah, cerita yg menarik ini. aku share ah
menyimak..
salut sama ibu supervisor, sabar dan menghargai sekali pengunjungnya
Saya suka kedai kopi yang sepi. Satu kedai di cikini selalu menjadi favorit saya
ah jadi kangen nongkrong di kedai kopi yag di jaga mbak mbak centil
dan begitulah memang service seharusnya, catat ~seharusnya~
pengamatan yang detil,
dan soal perhatian yang hangat itu
itu kadang nyawa yang nggak di dapat semua peserta dalam training soal pelayanan, bukan cuma teori bla bla doang
dan, errr
itu pengamatan berapa lama sampe sedetil itu
salut buat si ibu supervisor karena sudah memberikan respon yang benar ketika menghadapi situasi yang “sulit”…
salut juga dengan mbak yang udah menceritakan kisah ini…
Nice and helpful customer service (like the supervisor in your story) is certainly an endangered species these days. Either that, or I’m just a way-too- demanding customer. :-S
wah, this post is truly inspirational.