She’s Amazing.. and So Are We
Kepalanya tertutup kain bermotif sederhana yang terikat di bagian belakang layaknya kain penutup kepala yang seringkali diidentikkan dengan istilah ‘preman’. Kadangkala masih ditambah pula dengan topi berlidah depan yang melingkupi kepala sekaligus kain penutupnya tadi.
Wajahnya tampak semakin bulat dengan bagian pipi yang seolah-olah menggembung. Gurat-gurat tipis di wajahnya yang kusam itu terlihat sepintas namun jelas, menggambarkan perjalanan tahun yang telah dilalui sepanjang hidupnya.
Kalau bukan karena garis-garis kelembutan yang masih memancar pada wajahnya, saya pasti sudah menduga bahwa ia adalah seorang laki-laki. Terlebih bila melihat bentuk tubuh yang cukup besar dan tegap.
Belum lagi terhitung rutinitas yang dilakukannya di saat saya menjumpainya. Yang rasa-rasanya akan semakin menyangsikan bahwa ia memang sungguh adalah seorang perempuan.
Hampir setiap hari saya menemukannya dalam kostum terusan celana berwarna oranye dan dengan sebuah sapu lidi berukuran besar dalam genggamannya. Ia berjalan maju perlahan melawan arus lalu lintas, menyusuri pembatas jalan sambil terus mengumpulkan debu-debu yang berserakan di sepanjang pembatas itu. Dari ujung fly-over ke ujung yang lain lagi, adalah area operasinya di mana saya seringkali menemukannya.
Kadangkala ia berhenti sejenak untuk sekedar mengatur nafas setibanya di bagian terpuncak dari jembatan layang itu, mengusap keringat yang membanjiri wajah dengan kain seadanya, atau menikmati air putih dalam plastik terikat yang senantiasa disimpan di saku celananya. Sebelum kemudian melanjutkan lagi kegiatannya.
Saya memang tidak pernah bertanya secara langsung kepadanya, tetapi kelihatannya usianya memang terpaut beberapa tahun lebih tua dibandingkan dengan kakak tertua saya sekalipun. Usia yang.. saya pikir semestinya ia sudah tidak perlu lagi bekerja sekeras ini, bersimbah peluh, bermandi terik matahari, berlumur debu dan asap knalpot, yang mungkin kata ‘lelah’ saja tidak cukup untuk menggambarkan apa yang dirasakannya setiap kali sepulang dari kegiatannya menyapu jalanan.
Ia, yang adalah seorang perempuan, yang mungkin semestinya bisa mengerjakan banyak pekerjaan lain yang tidak sekasar ini. Buruh cuci, mungkin, atau berdagang di pasar, atau pembantu rumah tangga, atau kegiatan apapun yang tidak segagah menyapu jalan raya. Tapi toh, kegiatan itu dilakukannya juga.
Dan saya tidak pernah tahu apa alasannya.
Yang saya tahu, setiap saat saya melintasi rute yang sama setiap pagi, sejumlah pikiran berkecamuk di dalam kepala saya. Berbagai skenario berkelebat di dalam sana.
Bahwa mungkin ia tidak ingin melakukan pekerjaan sebagaimana yang tengah dilakukannya saat ini. Mungkin ia sebenarnya memiliki keinginan untuk membuka warung makan, memasak makanannya sendiri, untuk kemudian dijual kepada para pembeli. Setidaknya itulah cara yang lebih menyenangkan baginya untuk menghidupi keluarganya, bila dibandingkan dengan menyapu jalan.
Apa daya, modal yang terlalu besar untuk membuka warung masih belum dimilikinya. Ia harus mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan pemasukan setiap hari bagi keluarganya.
Di mana ia masih tetap harus menyeimbangkan kebutuhan untuk berada di rumah setidaknya selama setengah hari, mengurusi keluarga, dan tetap mendapatkan penghasilan. Dan di antara seluruh pekerjaan yang ada, menyapu jalan itulah yang paling bisa mengakomodir kebutuhannya.
Ah, entahlah.
Bagaimanapun jalan cerita hidupnya, keberadaannya di sana – di jalan raya yang selalu saya lintasi setiap pagi – menyadarkan saya pada satu hal.
Atau beberapa.
Betapa ia memiliki kekuatan sebesar itu untuk melakukan suatu hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain – termasuk saya – untuk dilakukannya. Bayangkan saja, seorang perempuan berusia tiga-puluhan akhir atau mungkin empat-puluh tahun, menjadi seorang penyapu jalan?!
Tidak perlulah saya menyebut Ibu Kartini, Lady Di, Suster Teresa, dan entah siapalah itu ibunda-ibunda bernama besar, hanya sekedar untuk mengasosiasikan dengan istilah ‘perempuan luar biasa’. Tidak perlu juga membayangkan Madonna, Rihanna, atau mungkin Lady Gaga. Karena saya yakin, perempuan-perempuan hebat tidak sedemikian langkanya.
Si ibu penyapu jalan, si bibi yang sudah sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu membantu ibu mengurusi rumah kami, si mbak pengemudi taksi, bahkan si perempuan muda yang sehari-harinya harus naik-turun mengejar bus kota dan angkutan umum untuk mencapai tempatnya bekerja.
Mereka semua adalah manusia luar biasa. Mereka melakukan berbagai hal yang kadangkala tidak terpikirkan oleh saya, oleh kita. Hal yang sederhana sebenarnya, tetapi justru itulah yang menjadikan mereka luar biasa. Mungkin karena kita belum tentu sanggup melakukan apa yang mereka lakukan.
Yang juga membuat kita secara tidak sadar mengagumi mereka, yang semula – mau jujur diakui atau tidak – mungkin kita anggap bukan siapa-siapa.
Tapi ternyata..?!
What about you?
Seberapa seringkah terpikirkan bahwa di sekeliling kita TERNYATA banyak sekali sosok perempuan yang luar biasa seperti si ibu penyapu jalan yang saya jumpai setiap pagi?
Seberapa sering pulakah terpikir bahwa sosok perempuan luar biasa itu bisa jadi adalah kita sendiri?!
Nggak percaya?
Coba saja berjalan ke depan cermin, dan lihatlah apa yang akan kamu temukan di sana ![]()



13 Responses
ya ya ya…
rugi rasanya kalo saya tdk belajar ttg kehidupan dari mereka, para pedagang kelontong di pasar itu….
pedagang kain, pedagang telor, pedagang ayam potong…
Mereka menghargai hidupnya dgn memperjuangkannya sekuat mungkin, di jalan yang benar..!
mbakDos: exactly! menyadari bahwa kita punya hidup yang layak dihargai!
kalo bertemu sosok2 perempuan hebat seperti yg mbakyu jabarkan diatas, aku suka membayangkan, bagaimana seandainya dia adalah orangtua kita sendiri, what if aku anaknya, jadi dia nyapu jalan biar aku bisa makan..
hmm kisah yg inspiratif biar kita bisa menghargai hidup, dan apa yg kita udah miliki sekarang..
mbakDos: iya, kadang-kadang nggak kebayang lho kalo dia bisa ngelakuin itu.. kadang-kadang juga kita nggak kebayang sama apa yang bisa kita lakuin
saya belakangan ini mulai benar benar memahami hal yang luar biasa dari sosok perempuan justru dari orang terdekat saya, yaitu Oma saya, Ibu saya dan adik perempuan saya.
saya membayangkan apa saja yang telah mereka lewati, lalui dan hasilkan.
ada suatu nilai yang saya rasakan dari orang-orang tercinta dalam hidup saya ini. karena saya dekat dengan mereka, saya jadi bisa merasakan apa yang tidak bisa dirasakan oleh orang luar tentang mereka.
dan saya yakin pasti banyak perempuan luar biasa lainnya diluar sana
mbakDos: berani taruhan, dirimu pasti benar-benar bersyukur ya punya perempuan-perempuan hebat seperti mereka?!
semua bisa jadi perempuan hebat.
mbakDos: bisa banget!
Makasih mbak. Tulisan ini bikin saya malu mau ngeluh ini itu
mbakDos: nggak perlu terima kasih sama aku kok mbok
semua wanita itu diciptakan hebat…
tinggal gimana kita menyikapi, menghadapi dan berbuat sajaa…
mbakDos: exactly! semua wanita diciptakan hebat!
melihat sekitar jadi membuka mata hati,
ah postingan yg menyejukkan,
kau pasti salah satu dari perempuan hebat itu
mbakDos: am I?! *hahahaha* makasih lho oomm
jadi ingat sdh lama gak ke pasar jam 4 pagi … biasanya akan banyak cermin dasyat disana
mbakDos: ah iyaaaaa.. bener tuh dut, di pasar!
semua manusia itu punya peranannya masing-masing. Semakin dilihat satu persatu kita pasti jadi sadar, kalau semua orang itu luar biasa.
mbakDos: luar biasa dengan peranan masing-masing!
ahhhhhhhh
jadi tambah seneng liat kaca
mbakDos: halah. ini bukan pembenaran buat dirimu yang seneng ngaca ‘kan?!
Selamat Hari Ibu !
mbakDos: lho, hari ibu?!
cakep fotonya.. ;;)
mbakDos: I know *diguyur air keras*
makasih yaaa
bukankah surga ada d telapak kaki ibu yg seorang perempuan jg :p
jadi saya yakin setiap perempuan dilahirkan untuk jadi hebat
mbakDos: betul! setiap orang memang dilahirkan untuk punya kehebatannya sendiri