cinta Cinta CINTA
Bukan.
Ini bukan tentang kisah percintaan melodramatis yang pernah saya alami yang hendak diceritakan di sini. Bukan, kok.
Tapi sebagai bukti kecintaan saya kepada para penggemar *cis! penggemar nyang maneee??* yang entah sudah sejak kapan meminta saya membuat sebuah tulisan mengenai menulis itu sendiri.
Gak diinggg!! *tulung jauhkan talenan itu dari tangan kalian yaaa.. apalagi sampai dilempar!*
Selain atas permintaan, memang saya bermaksud membuat tulisan tentang kecintaan saya pada menulis itu kok. Tentang kehidupan saya di dunia tulis-menulis yang sudah dimulai sejak sangat dini – katakanlah, ketika saya masih berseragam putih-merah – yang mungkin bisa berguna juga buat teman-teman yang hendak mulai menulis.
Belajar menulis, sebutlah begitu.
Sebagai suatu hal yang sampai sekarang tidak pernah berhenti saya lakukan.
Okay then, mari kita mulai.
Tengok
Kita eh.. saya sih setidaknya, tidak hidup di dalam rumah berulir layaknya siput. Tidak juga menempati tempurung kura-kura yang ada di atas perahu. Apalagi bersemayam di dalam botol kaca atau tembaga dan baru akan terbebas dari sana ketika seseorang dengan tidak sengajanya menggosok bagian luar botol itu.
Dari segi ruang saja, ruang (baca: spaces) yang saya singgahi, di manapun itu, memungkinkan saya untuk bergerak ke sana kemari. Dan tentu, menemukan berbagai hal yang secara khusus bisa ditemukan di masing-masing ruang itu. Sebutlah ada kedai kopi yang kebetulan dilintasi dalam perjalanan pulang dari kantor, atau komputer baru yang terpasang di meja kerja, atau si teman yang baru saja menggunting rambutnya menjadi sangat pendek bak laki-laki. Atau.. membaca tulisan di majalah, surat kabar, atau blog milik orang lain juga bisa menjadi inspirasi tersendiri.
APAPUN.
Dan percaya atau tidak, sekecil dan seremeh dan se-tidak-penting hal-hal yang kita temukan saat menolehkan kepala ke kiri-kanan, mereka adalah sumber inspirasi yang luar biasa untuk dijadikan sebuah tulisan.
Jadi, coba saja tolehkan kepala ke kiri atau kanan dan pilihlah salah satu hal yang langsung menarik perhatian di kala pertama melihatnya.
Terbangkan
Disadari atau tidak, secara otomatis, isi kepala kita (atau mungkin saya saja) akan mulai bekerja seketika setelah perhatian terpaku pada suatu hal yang terlihat tadi. Sekedar mengingat pengalaman masa lalu, pendapat yang tiba-tiba terpikirkan, harapan yang seketika muncul, atau hanya mendeskripsikan secara harafiah tentang apa yang dilihat itu. Seringkali, bukan hanya satu atau dua hal saja yang terpikirkan, tapi bisa sangaaaatttt banyak.
Menariknya, kadang-kadang – lagi-lagi disadari atau tidak – yang muncul di dalam kepala bisa saja merupakan hal-hal yang tidak semestinya dipikirkan. Hal-hal buruk, anonoh *halah bahasanya!*, yang tidak masuk akal, atau apapun yang menurut kita tidak seharusnya ada di sana. Dan yang kemudian dilakukan ada, segera membunuh hidup-hidup semua pikiran yang tidak masuk akal itu.
Apa yang terjadi kemudian..?
Habislah idenya tiba-tiba. Hanya karena isi kepalanya dipaksa untuk berhenti berpikir.
But the truth (for me) is, proses penyuntingan bukan di sini tempatnya. Biarlah si kepala tetap bersenang-senang, berpikir sebagaimana yang diinginkannya. Biarlah ia memikirkan segala hal yang terlintas, termasuk yang tidak mungkin itu tadi.
Soal pantas atau tidak, soal boleh atau tidak, soal semestinya bagaimana, itu baru akan dipikirkan pada langkah-langkah berikutnya.
Tulis
Setelah kepala mulai terisi dengan apapun yang terpikirkan, mulailah menulis. Tulis saja semua yang muncul di sana, semua yang terpikirkan, bahkan yang sekedar terlintas sekalipun. SEMUA. Tanpa pengecualian. Tanpa penyuntingan.
Untuk itu, penting untuk menyediakan media tulis yang bisa digunakan kapanpun dan di manapun. Saya, nyaris selalu membawa sebuah buku tulis berukuran sedang di dalam tas yang sama bawa. Pulpen juga. Kecuali ketika menghadiri resepsi pernikahan dan membawa clutch bag, tentunya! Bagaimana buku tulis berukuran A5 bisa dimuat di dalamnya? *kenapa dibahaaaasss??*
Perangkat canggih seperti si Beybih saya itu memang menyediakan aplikasi Word-To-Go yang memungkinkan saya mengetik sewaktu-waktu, tapi saya toh tetap lebih menikmati menulis secara manual di atas kertas dan menggunakan pulpen. Saya menyukai sensasi mencoret-coret bila salah, melingkari untuk menegaskan sesuatu, dan seterusnya.
Yaahh.. pilihan saya jelas tidak selalu berlaku untuk orang lain. Setiap orang memiiki preferensinya sendiri, jelas. Termasuk dalam hal pemilihan media tulis itu.
Ah ya.. hal penting lain untuk diingat adalah, media tulis yang dimaksudkan ini adalah media yang hanya dimungkinkan untuk diakses secara pribadi oleh si penulis. Bukan media yang memungkinkan orang lain untuk ikut mengaksesnya juga.
Mengapa demikian?
Teliti
Nah, di sini sebenarnya proses penyuntingan terjadi. Proses yang menjadi sangat penting apabila tulisan yang kita buat memang dimaksudkan untuk dipublikasi di media publik dan dikonsumsi oleh orang lain.
Yang biasanya saya lakukan setelah menuntaskan satu tulisan adalah membacanya ulang. Saya melihat lagi satu-persatu dengan cermat tulisan yang sudah saya buat, membacanya lagi beberapa kali, dan biasanya karena proses inilah saya bisa menemukan beberapa hal yang semestinya diperbaiki. Hal-hal yang mungkin ketika saya menulis untuk pertama kalinya tidak terlintas sama sekali. Bisa mengurangi beberapa hal yang sekiranya tidak perlu ditampilkan, atau bahkan menambahkan dengan hal-hal yang sebaiknya diketahui oleh orang lain yang membacanya.
Mengapa proses ini dibutuhkan?
Ngg.. saya sudah pernah membahas hal ini sebenarnya, jadi silakan langsung dibaca di halaman sana saja ya *biar nggak panjang bener tulisan ini, cyin!*
Ah iya.. Salah satu cara yang biasanya juga saya lakukan adalah meminta satu atau dua orang teman untuk membaca tulisan itu terlebih dulu sebelum saya benar-benar memublikasikannya. Meminta pendapat dan masukan mereka. Ini juga bisa menjadi salah satu bagian dari proses penyuntingan itu.
Terbitkan
Kalau sudah, yaa.. tinggal memublikasikannya saja. Bisa mengirimkan tulisan-tulisan itu ke majalah atau surat kabar, memublikasikannya di blog pribadi, notes di Facebook, dan sebagainya-dan sebagainya.
Salah satu tempat yang sangat tepat untuk belajar menulis (dan kemudian mendapatkan masukan dari orang lain) adalah di ngerumpi.com. I’ve been there ![]()
Hal penting lain yang juga perlu dilakukan adalah mengulangi seluruh proses di atas secara teratur. Rutin. Kalau perlu, dijadualkan saja membuat beberapa tulisan dalam satu minggu. Saya masih sangat percaya pada kekuatan sesuatu bernama latihan. Sesuatu yang buat saya sendiri masih sangat sulit untuk dipatuhi. Dan iya, masih harus belajar sangat banyak terlebih untuk yang satu ini.
Eh tapi tapi tapi *sisiran* hasil belajar yang tidak seberapa itu, ternyata (lagi-lagi) membuahkan hasil lhoo..
Salah satu tulisan yang sempat saya buat di ngerumpi.com ternyata terpilih bersama ke-36 tulisan teman-teman lainnya untuk diterbitkan ke dalam sebuah buku berjudul Berbagi Cerita Berbagi Cinta. Buku ini (akhirnya) sudah tersedia di toko-toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Jadi silakan lho dicari di sana.
Ah ya.. soal kisah cinta (saya) melodramatis itu, memang tidak akan saya bahas di sini. Tetapi bisa kok dibaca di majalah ME Asia No. 108/2010 yang terbit bulan Februari ini, yang kata Mas Djoko Moernantyo si editor tampan itu *sungkem* adalah edisi khusus percintaan *hihihi* Jadii.. silakan dicari juga yaa majalah itu.
See?! Kecintaan selalu membuahkan hasil, bukankah?! ![]()
Selamat hari kasih sayang.
*eh, belum tanggal 14 ya?! Ah, biarlah.*

PS.
`buat yang bertanya-tanya, ‘Que Siempre Te Amaré‘ memiliki makna yang sama dengan ‘that I will always love you‘ *ihik* ![]()




13 Responses
tips yang menarik, hmmm….penasaran juga sama yang di majalah ME itu, cari pinjeman ah….hahaha…
mbakDos: hahaha ayo ayo dicariii!! pinjeman atau beli sendiri, yang penting baca yaa
*menunggu kisah cinta melodramatistragis ituh aja daripada tentang tulisan ini*
mbakDos: lho ya memang nggak perlu ditunggu, karena udah ada di majalah ME itu
entah kenapa belum bisa nulis yg semacam fiksi gitu… *sigh*
susah bener mau mulainya,,padahal pengen bisa,,
mbakDos: there’s always the first time for everything, and those first times aren’t always easy
ayoo dicoba dillaaa!!
ya ampun mbakyu, majalah ME? ga skalian tampil di covernya?? *kompor mode on* hwahahahaha
mbakyu, aku tunggu yah, buku solonya, ayo dong terbitkan. masa kalah ama Dan Brown.. hihihi..
mbakDos: iya nih in.. lagi menjual diri ke penerbit-penerbit kok, doakeun ya
Kirain mbados bikin buku .. rupanya roadblogging menjelang tanggal 14 yah …
mbakDos: hihihi iya nih, sementara roadblogging dulu *eh keren juga istilah itu*
sedang memburu penerbit nih untuk nerbitin buku sendiri
intinya setelah tulis, biarkan ide-ide itu mengendap dulu lalu diteliti *beraatt* .. wah masuk majalah terus tulisan lo, tha. makan2!
mbakDos: hihihi yaaa ini dari pengalaman gue yang nggak seberapa juga el
yeee dia minta makan-makan, elo dong yang traktir ya ya ya?! *nyebelin*
wewww majalahnya itu menggoda, cari ahhh bukti cinta sama mbakDos
mbakDos: ah tak perlu beli majalah itu juga cintamu padaku sudah terbukti kok, kuwini! *dislepet asbak*
tipsnya bagus-bagus, terima kasih
mbakDos: mudah-mudahan membantu
tengok, terbangkan, tulis, teliti….apa lagi tadi apaaaaaah????
hihihi….keren tipsnya. ehiyaaa…happy valentine’s day, mbak atha! :p
hmmm ada iklan terselubung
oh ya penulisan judul yg tergradasi itu asli, keren !
mbakDos: ayoh ayoh dicari majalahnya! artikel Que Siempre Te Amare itu keren lho *tsah! jualan lagi!*
hihihihi masa sih keren judulnya, oom?! jadi malu *halah*
woh beneran ada fannie lhoo
*takjub*
mantaph. kebetulan lagi mogok nulis dan pengen nulis lagi..
so inspiring…
*akhirnya komen jugak.. hosh..hosh*
Mbak Dos, Makasih Ya Buat Tulisannya di Majalah ME. Jujur saja, tulisan itu menarik dan menggoda. Terlepas dari itu semua, ketika semua dilakuka dengan passion, ternyata hasilnya tidak pernah kita duga sebelumnya. Makasih Mbak Agatha…..
mbakDos: duh, kok malah mas joko yang berterima kasih?? aku mestinyaaa!!
skali lagi, makasiiihhh..