Ini Cuma Soal Cara
Beberapa hari lalu, santer tersiar kabar mengenai empat orang siswa SMUN 4 Tanjungpinang yang dikeluarkan dari sekolah – atau dikembalikan kepada orangtua mereka, dalam bahasa yang lebih halus – lantaran keempat siswa ini diketahui menghina guru mereka melalui status Facebook.
Ibu guru yang mengajar keterampilan ini dinilai memberikan tugas yang terlalu berat kepada murid-muridnya. Salah seorang di antaranya merasa kesal dan melampiaskannya dengan menuliskan status di Facebook. Ketiga teman lain juga ikut menanggapi status tersebut. Mereka melakukan hal ini karena yakin bahwa ibu guru tidak terlalu paham dengan situs jejaring sosial semacam Facebook.
Sayang betul, status ini diketahui oleh ibu guru dan dianggap menghinanya. Akibatnya, keempat siswa ini kemudian diputuskan untuk dikeluarkan, setelah Kepala Sekolah mengadakan rapat dengan majelis guru dan Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang.
Orangtua mereka sudah meminta maaf kepada guru yang bersangkutan maupun kepada pihak sekolah. Meminta agar anak-anak mereka tidak dikeluarkan. Lalu ketika pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa permohonan mereka tidak dikabulkan, mereka kecewa luar biasa. Sedih, stres, dan sebagainya.
Buntutnya pun panjang.
Yang mungkin tidak pernah terpikirkan saat keempat orang ini hanya bermaksud melontarkan kekesalan mereka kepada ibu guru yang memberikan tugas.
Mereka kesal. Lalu mengungkapkannya melalui status di Facebook. Titik.
Tapi toh ternyata akibatnya melebar ke mana-mana.
Serupa dan mungkin memang sama.
Ketika di hari minggu lalu, di mana saya menghabiskan jatah libur untuk tidur-menonton televisi-makan dan tidak melakukan apapun yang berarti, saya menemukan hal yang sama. Melalui Twitter, yang mungkin merupakan satu-satunya hal berarti yang saya lakukan di hari itu.
Buat tweeples yang mem-follow @infoll mungkin sudah paham betul fungsi dari @infoll itu sendiri. Nama yang merupakan singkatan dari Info Lalu Lintas, sudah menggambarkan dengan jelas mengenai fungsinya. Untuk berbagi informasi mengenai lalu lintas.
Ah ya, buat yang memang belum tahu, @infoll ini berfungsi sebagai media berbagi informasi mengenai kondisi lalu lintas. Informasi ini bisa dibagikan oleh pihak yang berada di balik @infoll, atau oleh siapapun – yang memiliki akun Twitter, tentu saja. Singkatnya, kita bisa memperoleh informasi lalu lintas dan sekaligus menjadi narasumbernya. @infoll akan memublikasikan tweet yang kita buat dan kirimkan kepadanya, secara otomatis. Soal bagaimana caranya, silakan langsung saja menengok ke halaman profil @infoll di Twitter.
Kericuhan mulai terjadi sejak hari Minggu pagi ketika salah seorang follower @infoll mengutarakan pertanyaan perihal dibuka atau tidaknya Mangga Dua, secara hari itu merupakan perayaan Tahun Baru Imlek. Pertanyaan sangat sederhana, sebenarnya. Dan hanya butuh jawaban yang juga sederhana: dibuka, tidak dibuka, atau tidak tahu.
Tapi apa yang terjadi kemudian?
Si penanya ini justru dihujat habis-habisan lantaran mengungkapkan pertanyaan itu. Mulai dari yang secara langsung mengingatkan kembali fungsi @infoll sebagai informasi lalu lintas – di mana tidak semestinya menjadi tempat untuk bertanya apakah Mangga Dua buka atau tidak, sampai yang terang-terangan mengatakan bahwa si penanya ini bego.
Perdebatan terus meruncing selama beberapa saat. Dan tampaklah kemudian dua kubu yang saling berlawanan: di satu sisi adalah kubu yang menghujat si penanya tadi, dan di sisi lain adalah kubu yang membela si penanya serta malahan mengatakan bahwa para penghujat itulah yang tidak memiliki otak – sebut saja demikian. Beberapa orang lain bahkan sempat mengutarakan akan meng-unfollow @infoll saja karena toh pada akhirnya mengganggu dengan perdebatan yang sebenarnya tidak perlu dan mungkin lebih disesaki dengan orang-orang yang tidak sopan.
Selama beberapa menit saya mengikuti perdebatan yang sungguh sudah seperti reality show dadakan itu. Kekesalan saya sempat tersulut juga melihat perselisihan yang terjadi, tapi untunglah sudah keburu berangsur surut sebelum saya ikut nimbrung di sana. Hingga berakhir menjadi sebuah pertanyaan kepada diri sendiri, “Haduuhh.. kok jadi gini ya?!”
Seperti halnya status Facebook siswa SMU tadi, kericuhan di @infoll ini sesungguhnya bermula dari suatu hal yang sangat sederhana. Yang bahkan mungkin sebenarnya tidak perlu sampai memicu perdebatan, perselisihan, atau bahkan entahlah konsekuensi apa yang bisa lebih parah lagi.
Dua-duanya melibatkan ketidak-setujuan – jika tidak mau disebut sebagai ketidak-sukaan – terhadap apa yang dilakukan oleh orang atau pihak lain. Para siswa tidak suka guru keterampilannya memberikan tugas yang terlalu berat, sedangkan para follower @infoll tidak suka ada orang yang menanyakan soal Mangga Dua itu di tempat yang tidak semestinya. Kemudian ketidak-setujuan itu mereka ungkapkan. Yang satu melalui Facebook, yang lain melalui Twitter.
Yang menjadi masalah cuma satu. Soal bagaimana ketidak-setujuan itu diungkapkan. Soal cara.
Coba saja bayangkan seseorang yang secara tiba-tiba berdiri di depan kita, sementara kita sudah selama setengah jam mengantri lebih dulu daripada dia. Kesal? Jelas! Lantas bagaimana mengutarakannya?
Cara pertama adalah langsung memarahi, memakinya mungkin, dengan suara lantang menyebutkan di hadapan khalayak ramai tentang apa yang telah dilakukannya, “Woi, ngantri dong! Nggak tau apa orang udah capek dari tadi, main serobot aja?!” atau komentar sejenis itu lah.
Atau cara kedua. Sama-sama mengutarakan komentar di depan khalayak umum, tetapi kalimatnya lebih pada, “Mbak/Mas, tolong ngantri dari belakang dong. Kita-kita udah ngantri dari tadi nih, masa langsung diserobot?!”
Apa yang terjadi jika kita menggunakan cara pertama?
Bukannya berpindah ke bagian paling belakang barisan, si penyerobot ini malahan sewot dan mungkin menyahut, “Biasa aja kali ngomongnya! Nggak usah pake teriak bisa, ‘kan?!” Lalu kalau sudah seperti ini, bisa ditebak kira-kira kelanjutannya. Kita justru sibuk berdebat dengannya tentang cara berbicara yang terlalu nyolot. Adu urat tentang siapa yang cara bicaranya paling menyebalkan. Bukan lagi tentang tindakan serobot-menyerobot – yang semula menjadi permasalahan.
Selesaikah masalahnya? Tidak.
Dan mungkin ini pulalah yang terjadi dengan peristiwa Facebook dan Twitter itu. Lantaran cara penyampaian yang – bisa dibilang – keliru, lalu semuanya berantakan. Ibu guru mungkin belum bisa menangkap keberatan siswanya tentang tugas yang terlalu berat, dan beberapa follower @infoll belum menangkap keberatan follower lain yang merasa @infoll itu disalahgunakan.
Pesannya tidak bisa ditangkap, karena pada akhirnya perhatian lebih dipusatkan pada keberatan yang diungkapkan dengan cara yang membuat orang lain tidak nyaman. Yang dipermasalahkan adalah status yang dianggap menghina, tweet yang tidak sopan, dan bukan lagi tentang keberatan siswa terhadap tugas keterampilan ataupun keberatan para follower terhadap penyalahgunaan @infoll.
Di sinilah keruwetan bermula. Suatu hal yang sebenarnya sederhana malah berbuntut panjang, dan malah tidak terselesaikan.
Yang semestinya mungkin bisa saja dihindari jika kita – setidaknya – bisa menggunakan cara kedua.
Cara penyampaian yang mungkin lebih halus, sehingga lebih bisa dipastikan bahwa pesannya sungguh tersampaikan. Soal keberatan dengan serobot-menyerobot yang dilakukan oleh orang lain, soal tugas yang dirasakan terlalu berat, bahkan soal penggunaan @infoll sesuai fungsinya.
Dan bukan cara penyampaian itulah yang justru memicu masalah baru.
Then we’ll gonna find out that ‘Pick your words wisely’ really means something ![]()
PS.
`Berita tentang dikeluarkannya empat orang siswa SMUN 4 Tanjungpinang bisa dibaca di sini dan di sini.
`Tweets perihal huru-hara di @infoll sengaja tidak ditampilkan agar tidak merujuk pada pengguna Twitter secara spesifik.




17 Responses
kadang selain ‘cara’ yang mungkin kurang tepat,
juga masalah pola fikir si penerima pesan, yang kadang menganggap dirinya lebih tahu akan sesuatu yang menjadi objek masalah.
atau bisa jadi,
cara pertama dipilih, karena sudah pernah melakukan cara kedua itu, tapi tak mempan..
saya sendiri, ah sering menggunakanc ara yg salah untuk mengungkapkan sesuatu
ya ya.. masalah cara. Terutama masalah etika ber-internet sebgaia ruang publik.
Namun kalau dipikir lagi untuk kasus yang pertama, sekiranya sang guru meng-introspeksi juga ngak yah? karena puncak kekesalan murid pasti akibat akumulasi.
memang cara menyampaikan sesuatu acap kali jadi masalah bagi pihak lain, namun alangkah baiknya bila semua saling menghargai orang lain
Kritik itu bagaikan kripik pedas, yang rasanya berbeda tergantung selera sang pengicip rasa. Menyeragamkan indra pengecap setiap orang itu tak mungkin. Begitu pula dengan memasak kripik yang enak buat setiap orang. Mungkin, ada baiknya kita membiasakan bungkam berkata tak enak…
Ah, indahnya interaksi antara kebodohan dengan “kebebasan” berekspresi.
dirikupun sering manyampah di Twitter, dengan bahasa yang tak kalah nistanya. hwahahaha..harap maklum ya mbakyu kalau aku mulai nyampah.
oya, btw, kalo anak2 SMA itu pake Twitter dan nyampah, mungkin gak ya kejadiannya akan beda. kalo aku sih mikirnya, FB semakin gak asik buat nyampah karena udah basi semua. jadi lapak dagangan online.. hehe *agak OOT*
Social comments and analytics for this post…
This post was mentioned on Twitter by mbakdos: Ini Cuma Soal Cara — postingan baru di #dudukBERSILA http://bit.ly/dnnN68...
‘Pick your words wisely’
Setuju banget sama cara itu plus menyampaikannya dengan cara yang beretika, jadi gak perlulah pake emosi. At least, we have tried to communicate in a way that educated
CMIIW, murid2 tersebut menyebut2 tentang “memutilasi” gurunya dan juga menyebut gurunya “perawan tua”, menyebabkan mereka dikeluarkan dari sekolah. sebutan yang terakhir itu kabarnya masi belum termaafkan oleh si ibu guru karena kelewat sensitif
Ketidaksetujuan saya pada status FB Auntie juga sering berujung ribut
Biar ngga ribut cara yang seperti apa bisa ditempuh, mbak? Karena Auntie itu bandel dan saya itu mmm posesif? hahaha
Terima kasih
Bisakah jawaban dikirim via surel? maaf merepotkan
“lebay”
satu kata untuk menggambarkan dua kasus di atas..
memang jaman skrg tidak hanya menjaga mulut kita tetapi juga jari kita
wah panjangnya
neken emosi mang sulit ya, biasanya klo saya sih, diem dulu bentar sampe pikiran adem, sebelum menanggapi kisruh yg ada di hadapan saya.
karna klo gak gitu, ya bakal melebar dan membesar
*bahasanya*
sbnrnya sih kl disikapi dgn sedikit lebih dewasa dan berkepala dingin, masalah2 ini ga perlu terjadi.
gue sih males nimbrung debat kusir kyk gini
pagi mbakdos salam kenal
untuk kedua hal diatas, saya pun bingung *lha, terus ngapain komen?!
)*
tapi bukannya twitter dan facebook tuh dibuat untuk senang2 yah?! kenapa pada serius2 amat sih?!
*nah, ini lagi malah nanya balik* :p
andaikan teknologi digunakan untuk kesejahteraan pasti rakyat indonesia semakin maju, bukan untuk menyakiti sesama bangsa sendiri dan menyusahkan rakyat, tanya kenapa ????