1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Ironi Hari Musik Nasional

Tujuh tahun silam, tanggal 09 Maret telah ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional oleh (mantan) Presiden Megawati atas masukan dari Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI).

Sembilan Maret, yang adalah hari ini.

Beberapa orang teman sudah memajang tweet tentang Hari Musik Nasional ini, dan bahkan membuat hashtag-nya. Beberapa di antaranya juga dengan sengaja membuat tulisan untuk dipublikasikan di blog masing-masing. Dan ada yang serupa di sana.

Yang dibahas adalah musik-musik masa lalu. Entah lagu-lagu di masa penjajahan dulu, lagu-lagu yang dibawakan oleh pemusik yang sekarang menjadi legenda di negeri ini, atau lagu apapun lah yang semasa kita kecil sempat kita gemari. Intinya, musik-musik jaman dulu itu dinilai lebih dibandingkan jaman sekarang.

Lebih enak didengar, lebih indah, lebih orisinil, lebih variatif, lebih-lebih lainnya.

Pada akhirnya musik di masa lalu itu pulalah yang menjadi orientasi ketika ada seseorang yang bertanya (di hari ini) tentang musik Indonesia apa yang bagus.

“Musik-musik jaman dulu itu lah pasti,” mungkin begitu jawaban yang akan kita temukan. Atau mungkin itu pula yang akan kita utarakan jika ada orang lain yang bertanya kepada kita.

Ungkapan yang sebenarnya merupakan bentuk negasi dari ungkapan lain untuk menyatakan bahwa musik-musik masa kini itu buruk. Tidak enak didengarkan, semua serba seragam dan tidak variatif, lebih mementingkan dunia bisnis daripada musik itu sendiri.

Lantas saya mencoba mengingat-ingat kembali.

Hari Musik Nasional dulu itu digagas dari keprihatinan para musisi nasional terhadap pembajakan besar-besaran yang dilakukan atas karya-karya mereka. Hingga menjelang pencanangan Hari Musik Nasional itu, tercatat sejumlah 600 persen kenaikan kasus pembajakan, serta penurunan penjualan hingga 35 persen antara tahun 2000-2001 dan 20 persen antara 2001-2003.

Hari Musik Nasional pada akhirnya – sepemahaman saya – ditujukan untuk mengingatkan kita agar lebih menghargai hasil karya musisi negeri ini. Caranya? Ya dengan membeli produk asli, CD dan kaset, bukan dengan membeli produk bajakan.

Sesederhana itu.

Lalu mengapa jadi melebar ke sana-sini dengan melakukan perbandingan musik ‘dulu’ dan ‘sekarang’?

Mengapa jadi semakin banyak komentar yang seolah mendiskreditkan musisi-musisi yang lahir di masa kini dengan menyatakan bahwa musik mereka tak layak untuk didengar?

Bentuk penghargaan terhadap musisi nasional kah itu?

Soal bagus atau jelek itu adalah soal subjektif. Sangat wajar jika – misalnya saja – saya tidak menyukai satu musisi tertentu karena menurut saya musik-musiknya memang tidak enak didengar oleh telinga saya. Tetapi ketika saya kemudian menyuarakan ketidak-sukaan itu kepada khalayak umum dan berharap mendapatkan masukan yang senada dengan pendapat saya, itu menjadi soal yang berbeda.

Belum tentu orang lain juga menganggap musik yang saya anggap jelek itu memang sebagai musik yang jelek. Jangan-jangan memang hanya saya saja yang aneh karena tidak bisa menangkap keindahan musik itu.

Dan kalau – ini hanya kalau – kita menyukai musisi tertentu atau karya musik tertentu, jangan-jangan bukan lagi karena musik itu sendiri? Jangan-jangan hanya karena mendengar pendapat orang lain yang menyatakan bahwa musik-musik ini sophisticated, terdengar wah, hip dan terkini.

Sebaliknya, kalau kita tidak menyukai musik tertentu, jangan-jangan hanya karena kita mendengar pendapat orang lain yang kebetulan tidak menyukai musik itu? Atau karena mendengar musik atau musisi itu dicela, dicemooh, dianggap.. entahlah, aneh dan kampungan mungkin.

Kemudian merasa gengsi untuk mendengarkan terlebih dulu musik-musik itu. Musik itu jelek, titik.

Yang kemudian secara tidak sadar memunculkan ironi tersendiri.

Di satu sisi merayakan Hari Musik Nasional, tapi di sisi lain malahan belum bisa menghargai musisi dan hasil karya musik dalam negeri.

Pernah mencoba mendengarkan lagu berjudul Saat Terakhir milik ST12?

Iya, mendengarkan saja. Sampai selesai. Dan tanpa berkomentar atau tertawa, terlebih ketika Charly menyanyikan bagian ‘kamu kamu kamu’ itu.

 

 

Selamat merayakan Hari Musik Nasional.
Mari kita hargai musik dalam negeri.

14 Responses

on March 9th, 2010 at 6:06 pm mawi wijna Says:

mungkin karena musik di masa sekarang ini kebanyakan latah, jadi dianggap tak semenarik dulu lagi…

on March 9th, 2010 at 6:25 pm Shimmy_Shimmy Says:

sepaham dengan response diatas, musik dalam negeri sering dicap sebagai plagiat dari musik Internasional. Masih ingat dengan hal plagiat yang ditujukan ke Ello pada video klipnya yang di tuduh meniru video klip dari salah satu clip Jason Mraz. Tapi walau bagaimanapun itu, jayalah Musik Indonesia.
*yang ga pernah memberikan komentar saat denger “kamu kamu kamu” nya Charly ST 12…..*

on March 9th, 2010 at 9:26 pm budiono Says:

mari kita hargai musik dalam negeri dengan tidak mendengarkannya secara gratis. belilah ringbacktone atau CD nya ;)

on March 9th, 2010 at 9:51 pm ipungmbuh Says:

Java Jazz tahun lalu sempat merebak kritik atas panitia yag menjual pemusik-pemusik bangsa sendiri dengan frase “AND MANY MORE” :P

on March 9th, 2010 at 11:22 pm japro Says:

mungkin di jamannya (BAC JAMAN DULU) saat ditanya ‘Musik Indonesia mana yang bagus?”

Mungkin jawabannya adalah, “Pastinya musih (lebih) jaman dulu lah… musik sekarang cement”

:D

on March 10th, 2010 at 2:36 pm christin Says:

hehehe saya sih kalo ga suka musik – entah dulu atau sekarang – bukan karena dianggap kampungan atau yang seperti itu tapi karena emang gak suka :p

on March 11th, 2010 at 4:44 am warm Says:

saya penggemar ST12
dan masih fans besar bang Rhoma

ok,
ya itu mungkin, belum apa2, ada yang mungkin telinganya udah merasa alergi duluan dengan karya2 anak negeri ini

padahal yaitu tadi,
denger dulu,
dan bukan cuma protes, tapi krativitas nol besar
:)

on March 12th, 2010 at 6:25 pm dy Says:

selamat hari musik nasional..
yuk menghargai musik dalam negeri,.
:p

on March 13th, 2010 at 11:43 am Hendrawan Says:

Karena MbakDos terlalu hot saya lupa mau komentar apa.. :D

on March 14th, 2010 at 2:27 pm puputs Says:

musik jaman dulu bagus… musik jaman sekarang juga bagus…

musik yang bagus ya musik yang punya arti.. musik jaman dulu mungkin lekat dengan kemerdekaan atau keindahan alam.. yang tentunya lebih general.. semua bisa suka

kalo musik sekarang kan lebih spesifik.. musik “jatuh cinta” gak bakal mungkin disukain sama orang yang lagi “patah hati”.. tapi kalo yg patah hati nemu gandengan lagi.. ya suka lagi musik “jatuh cinta”

jadi yang bilang bagus sama jelek akan lebih beragam..

btw Selamat merayakan Hari Musik Nasional, say no buat pembajakan…..

on March 15th, 2010 at 11:26 am Arham Says:

Kabarnya masuk trending topic juga kalao ngak salah hastagnya creativemusic gtuh…

Denegr dari tika sih

on March 17th, 2010 at 11:25 am Rian Says:

baru tau kalo tgl 9 maret adalah hari musik nasional… ! Haduh… kemana aja saya !

Musik Indonesia asli kalo dalam konteks band adalan KAHITNA. cayoo.. original banget

on March 17th, 2010 at 12:20 pm Arham Says:

Bagaimanapun harus dihargai pembuat musik ituh, tapi penikmat/pendengar pun tidka bisa / boleh dipaksa untuk harus menghargai pembuatan musik dalam bentuk harga/angka.

Toh, memang ada dua jenis segment pembeli. yg satu penikmat yg satu pendengar

on March 17th, 2010 at 6:01 pm elia|bintang Says:

ga bisa dicegah kl org2 mikir musik indo dulu lbh bagus dr sekarang. dulu musik blm dicemari kapitalisme. seniman2 berkarya murni dgn hati dan menghasilkan karya cerdas yg diterima hati pendengar.. beda sama skrg, kan? :)

Leave a Reply