Pikir Sebelum Publish

Sebutlah ini sebagai sebuah kampanye kecil-kecilan, untuk menjaga rumah kita bersama – internet, atau media sosial secara lebih khusus – tetap nyaman untuk ditinggali.
Lalu apa kaitannya dengan frasa ‘pikir sebelum publish’ itu sendiri?
Ceritanya begini *halah*
Berbagai media sosial di mana kita tergabung di dalamnya, sebutlah facebook, blog, twitter, plurk, koprol, situs 2.0, dan apapun yang sejenis, memberikan kebebasan bagi kita untuk melakukan (hampir) apapun. Sejumlah peraturan sebenarnya sudah disediakan untuk menjaga ‘ketertiban’ para pengguna media sosial yang bersangkutan, sebutlah salah satunya adalah larangan memublikasikan isi yang menyinggung suku, ras, dan agama (SARA). Peraturan-peraturan ini diwajibkan untuk disetujui sebelum akhirnya kita terdaftar sebagai pengguna media sosial tertentu.
Tombol ‘I Agree’ atau ‘Saya Setuju’ langsung diklik, bahkan kadangkala sebelum kita membaca seluruh peraturan yang ada. Yaa.. diakui atau tidak, kita sendiri sebenarnya tidak terlalu paham mengenai apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di media sosial di mana kita terdaftar sebagai penggunanya.
Kenapa saya menggunakan kata ‘kita’? Karena saya juga termasuk di antaranya *hayolooo ketauan! hahahaha*
Mengesampingkan berbagai peraturan ‘resmi’ itu, disadari atau tidak, ada sejenis norma yang berlaku secara umum di antara masyarakat pengguna media sosial. Secara namanya saja media sosial, berarti media ini digunakan oleh banyak orang dan sekaligus memungkinkan para penggunanya untuk berinteraksi satu sama lain.
Mungkin teman-teman yang (pernah) menghuni rumah kos bersama dengan orang-orang lainnya akan lebih memahami situasi semacam ini.
Anggap saja media sosial itu seperti sebuah rumah kos yang menampung jutaan penghuni. Termasuk kita, sebagai penyewa salah satu kamar di sana. Sebagai seorang pemilik kamar, kita bisa melakukan apapun yang kita kehendaki: hanya menyapu selama seminggu sekali, tidak perlu membuka jendela kamar setiap hari, membiarkan berbagai barang berserakan di atas tempat tidur, bahkan mau tidak mengenakan sehelai pakaian pun selama di kamar yaa itu kebebasan kita. Toh kita melakukan ini di kamar kita sendiri.
Akan berbeda ceritanya dengan apa yang kita lakukan di luar kamar. Kita tidak bisa secara sembarangan membuang sampah bekas bungkus makanan begitu saja di luar pintu kamar, karena penghuni lain bisa melewati dan mungkin terpeleset karenanya. Kita juga tidak bisa menggunakan lahan parkir sebagai tempat untuk bercium-ciuman dengan pacar, karena mungkin akan membuat penghuni lain ingin dicium juga *eh lho?*
Area di luar pintu kamar adalah area bersama.
Sama halnya dengan media sosial.
Kita bisa menuliskan apapun yang kita inginkan, selama itu dilakukan hanya sebatas di area pribadi kita: file MS Word atau Pages di komputer kita, Note di ponsel pintar, yang hanya bisa diakses oleh kita sebagai pemiliknya. Sebutlah tulisan mengenai pertemuan aneh dengan si A karena kita tidak bisa mengalihkan perhatian dari sasakan yang menjulang ke atas, atau tentang si B yang kalau berbicara matanya selalu berkedip lebih dari sepuluh kali, atau tentang kemarahan kita lantaran si C lebih menyukai si D daripada kita, atau apapun lah.
Wajar saja jika kita menuangkan pengalaman, pikiran, atau perasaan kita dalam bentuk tulisan. Toh kita mengungkapkannya ini sebatas di ruang lingkup kita pribadi.
Tapiiiii.. akan lain ceritanya jika tulisan ini dipublikasikan di media sosial.
Yaa.. coba saja bayangkan apa dampaknya jika kita berteriak sekencang-kencangnya di pelataran kamar kos untuk memanggil si teman yang kamarnya terletak di lantai atas, pada tengah malam. Atau jika kita memarkirkan kendaraan melintang di depan pintu pagar dan menghalangi kendaraan lain yang akan keluar-masuk area rumah kos.
Sederhananya, karena kita bertetangga dan hidup dengan orang lain. Kita hidup dengan penghuni kos lain, dan kita hidup dengan pengguna media sosial lainnya. Ada wilayah pribadi dan ada wilayah bersama.
Menjadi sangat wajar jika kita lebih berhati-hati dan menghargai hak pengguna lain sebagai sesama pengguna media sosial. Namanya juga area bersama, ya sudah semestinya sama-sama menghormati yang lain.
Yaa.. bukan baru sekali-dua kali lah kita menemukan peristiwa di mana twitter menjadi ramai dengan hujatan ini-itu hanya karena tweet salah seorang figur publik yang dianggap tidak seharusnya dituliskan. Buat saya, bukan saja figur publiknya yang kurang menghargai hak pengguna lain, tetapi pengguna lain yang kemudian memaki, menghujat, menghina si figur publik pun sama saja tidak menghargainya.
Lalu apa arti sesungguhnya dari frasa ‘pikir sebelum publish’?
Simply, ajakan untuk berpikir – mungkin sampai beberapa kali – sebelum kita mengklik tombol publish untuk menerbitkan apa yang kita tulis itu ke area publik.
Mungkin.. bisa dimulai dengan memasang memasang banner ‘pikir sebelum publish’ ini di blog, setidaknya mengingatkan kita sebagai pemilik blog untuk tetap melakukan ajakan itu. Dan lebih luasnya sih, diharapkan teman-teman lain yang mengunjungi blog kita – dan melihat banner itu – juga akan tergerak untuk melakukan hal yang sama.
Kalau teman-teman berminat untuk berpartisipasi (dan saya sih memang berharap demikian *hihihi*) bisa mendapatkan banner-nya dengan mengklik pilihan ukuran banner berikut ini ATAU langsung menyalin kode HTMLnya saja:
» ukuran 150 x 150 px – HTML code: <a href=”http://dudukbersila.com/2010/05/18/pikir-sebelum-publish/”><img src=”http://dudukbersila.com/wp-content/uploads/2010/05/PSP-Logo-150×150.jpg” /></a>
» ukuran 200 x 200 px – HTML code: <a href=”http://dudukbersila.com/2010/05/18/pikir-sebelum-publish/”><img src=”http://dudukbersila.com/wp-content/uploads/2010/05/PSP-Logo-200×200.jpg” /></a>
» ukuran 250 x 250 px- HTML code: <a href=”http://dudukbersila.com/2010/05/18/pikir-sebelum-publish/”><img src=”http://dudukbersila.com/wp-content/uploads/2010/05/PSP-Logo-250×250.jpg” /></a>
Bagaimana langkah selanjutnya untuk tetap menghidupkan ajakan ‘pikir sebelum publish’ ini, yaa nanti bisa dipikirkan lebih lanjut. Saya ingin memulai dari hal-hal yang sederhana dulu lah. Mulai dari blog saya sendiri.
Kenapa saya melakukannya?
Yaa.. Saya sudah menganggap media sosial juga sebagai rumah yang juga saya huni, jadi saya pikir tidak ada salahnya jika saya menginginkan agar rumah bersama ini sungguh menjadi rumah yang nyaman, bukan hanya bagi saya tetapi juga bagi teman-teman pengguna lain.
Sesederhana itu saja, kok


37 Responses
ok, siap
saya posting di ngerumpi.com ya,
dan baiklah,
bannernya keren, jadi saya pasang di blog juga deh
mbakDos: ihiiiyyyy makasih oom!! *ciyum-ciyum* *eh*
mudah-mudahan berguna juga ya di ngerumpi.com sana
Ehmm pikir sebelum publish apa hanyakah ketika ada obyek yang dituju baca menyerang sesuatu/orang?
Dan bagaimana dengan para influencer yang kadang memnuhi timeline dengan pesan sponsor?hehe…
tapi menarik,nanti ijin dicopy gambarnya klo udha mau posting tema senada…
mbakDos: hehehe soal timeline itu kira-kira itu ruang pribadi atau ruang publik ya? kalo publik ‘kan mestinya.. ah sudahlah
[...] ya, saya nulis ini terinspirasi dari tulisan mbakDos di blognya yang keren itu, disitu diuraikan dengan lebih jelas lagi, dan ada banner keren yang berisi himbauan untuk [...]
kl ga suka ya tinggal unfollow. Gt aja kok repot.
*satir todemaks*
mbakDos: ya ya ya.. miris juga ya kalo dapet komen begini, maksud hati ngasih saran yang ada malah ‘disalahin’
Wah, bener banget mbakDos, selain keindahan tulisan tentunya ada etika penulisan.
Saya dukung mbak. *save image as — pasang di blog*
mbakDos: “etika penulisan,” istilah yang oke
waaahhh makasih ya maass
wah… kebetulan sekali, bbrp menit sebelumnya saya membuka Yahoo dan membaca berita tentang seorang mahasiswa sebuah Institut Teknologi terkenal di Bandung yg diprotes karena status FB nya yg berkonotasi SARA.
ruang lingkup topik dan permasalahan ini setidaknya bisa dikaitkan pada satu hal, yaitu berkaitan dengan “Norma”.
terlepas dari kondisi bahwa “Norma” itu bersifat relatif kalo sudah dibahas dari segi ruang lingkup budaya dan sosiologi dari masing masing masyarakat dari mana “Norma” tersebut berasal dan belum lagi dg adanya kenyataan bahwa setiap individu pun bisa memiliki persepsi yg berbeda mengenai suatu norma bahkan walapun berasal dari wilayah yang sama.
tapi setidaknya pasti ada nilai nilai dasar mengenai norma yg berlaku universal, yang bisa dikaitkan dg nurani kita bahwa sesuatu itu tidak bersifat menyerang dan mengintimidasi nilai nilai moral pihak lain
dalam hal ini, mengenai dunia maya atau dunia 2.0 yang secara teknis didalamnya selalu ada “Terms, Condition and Agreement ” yang dicantumkan dan harus kita setujui, rasanya kita semua mungkin tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa hanya sedikit dari kita yg benar benar memperhatikan “Terms, Condition and Agreement ” tsb secara detil sebelum akhirnya meng-klik tombol “setuju”. jadi bisa dibilang semua tampilan tsb bagi kita mjd seperti prosedur basa basi belaka.
dan karena dunia maya ini menembus wilayah tanpa batas geografis, akhirnya “Terms, Condition and Agreement ” itupun bisa bersifat relatif begitu itu diterapkan ditiap tiap negara atau wilayah dimana apilkasi itu diakses.
hal ini terutama sangat berlaku untuk situs komunitas 2.0 yang sangat mendunia seperti kita ambil contoh saja dalam hal ini adalah Facebook.
Facebook yg dlm aplikasinya sudah menyediakan tampilan dan konten dlm beberapa macam terjemahan bahasa, saya pribadi yakin bahwa didalam terjemahan tiap tiap bahasa, mereka sedikit memodifikasi isi dan kandungan dari “Terms, Condition and Agreement ” itu tadi, disesuaikan dengan nilai norma dari masing masing negara dimana terjemahan utk aplikasi itu ditujukan.
contoh sederhana saja, dimana dinegara kita ada istilah SARA, namun dinegara lain spt Amerika misalnya, mereka tidak memiliki kriteria detil semacam itu, karena bentuknya lain.
tapi kembali lagi bahwa selalu ada nilai nilai dasar yg setidaknya bisa berlaku secara universal mengenai apa itu yang pantas dan tidak pantas kita tuangkan di social media yang bersifat tanpa batas itu. dan akhirnya memang semuanya kembali kepada diri kita masing masing untuk mau memulainya
BTW…. banner nya itu bikinan mbakDos sendiri ya? bayar royalti donk kalo gitu?
mbakDos: that’s it! consequences! yang kadang-kadang kita suka lupa sih kalo apapun yang kita tulis di media sosial itu akan ada konsekuensinya, dan kadang-kadang kita (ternyata) juga nggak siap menghadapi konsekuensi itu
soal banner hehehe.. iya itu buatan sendiri. nggak usah lah bayar royalti, kalo nantinya misi ini *halah misi!* berkembang, itu udah lebih dari cukup kok buat saya
Benar, Pikir sebelum Publish, berhati-hati itu penting!
mbakDos: ikutan yuk pasang banner-nya di blog dirimu
sip..
mantap ini…
*g tw mo blg apa lagi
mbakDos: naahh.. gimana kalo ikutan pasang banner aja di blogmu?
Saya suka idenya… tapi, tapi, tapi.. saya ndak berani janji apa-apa *lirik blog sendiri* LOL
)
mbakDos: hehehe there’s always the first time for everything
kalo nggak pernah dicoba mulai sekarang, kapan lagi dong? yuk!
likes this mbak
bisa buat ngingetin diri sendiri juga biar ga asal publish he he
pasang ya mbakkk
mbakDos: asik asiiikkk.. makasih ya yuyuk
mbak gambarnya ko ga bisa kupasang yaa…*gaptek akut sampe salah komen di postingan lain
*
mbakDos: itu HTML-code nya di-copy aja trus di-paste di tempat di mana kamu mau pasang. good luck ya.. nanti kalo belum berhasil, boleh kok tanya lagi
siap bu! copas dulu kodenya.
emmm…tapi memang susah banget ya *buat saya sendiri untuk ngerem latah apa-apa post di sosmed….
blog sudah mulai di rem latahnya….semoga ini bisa konstan dilaksanakan…. *amin..doa buat diri sendiri*
mbakDos: hehehe.. yuk kita sama-sama belajar yuk
lapor…di blogspot saya nggak bisa ya itu code
(
mbakDos: tapi akhirnya berhasil ‘kan ya? aku udah liat kok di blogmu
makasih yaaa *ciyum-ciyum*
wah, keren idenya..
saya butuh pengingat, jadi saya ikutan pasang di blog saya yah mbak dos
mbakDos: makasih yaaaaa *ciyum-ciyum juga deh*
betul mbakdos, kadang saking emosinya kita menulis hal-hal yang bisa menyinggung pihak lain.
ijin copas bannernya ya mba.
mbakDos: hehehe saya pun pernah mengalaminya kok
makasih yaaaaa *ciyum-ciyum*
sudah banyak kasus gara2 asal publish hal2 yang ada di pikiran tanpa difilter dulu..
keren idenya, mbakdos..
semoga kita bisa menyebarluaskan misi penting ini..
*copas html code*
mbakDos: hehehe iya, ide sih emang nggak bisa dibatasi, tapi penyalurannya itu yang mungkiinnn sebaiknya dipikir dulu gimana caranya
makasih ya chiil *ciyum-ciyum*
gue pernah posting bernada sama di blog gue nih, judulnya berhentilah menulis.. tapi kurang kreatif untuk bikin gerakan begini hehe.
hhmmm.. banyak orang memperlakukan socmed itu layaknya tong sampah. asik buang sana sini.. dia ga sadar ada kulit pisang nangkring di muka kita, bungkus kacang di pantat kita, dan abu rokok di rambut kita *apa coba*
ntar siang gue pasang bannernya, tha.. skrg ngantuk hehe. selama gue main ke sini, this is definitely your best post
mbakDos: iya, pernah baca postingan lo yang itu juga kok el
ayooohh udah malem ini, dipasang segera! hehehe.. makasih yaaa *ciyum-ci.. eh nggak jadi deh, takut sama simbok*
*mikir sebelum komen*
Setujuh sama mbakdos!
Aduh jd tersindir bagian klik ‘I Agree’ sebelum membaca keseluruhan peraturan :”>
mbakDos: hahaha bukan kamu doang kok yang tersindir, aku pun mengalaminya
Jadi inget berpikir sebelum tweet. Karena ini juga jadi mikir sebelum submit comment.
Nah soal memviralkan banner.. nanti saya pikir dulu
posisi enaknya dimana
mbakDos: berpikir sebelum tweet itu juga salah satunya kok
[...] Sebelum melangkah jauh ada baiknya kita mengetahui kronologis kasus Draw Muhammad Day. Untuk menjawab seperti apa kronologis yang terjadi bisa kamu cermati di tulisan kamal tentang Menyikapi Everybody Draw Muhammad Day. Dari sana setidaknya anda bisa mengetahui siapa pihak yang salah, lebih salah dan yang paling salah. Seandainya saja sang pencetus ide berpikir sebelum publish. [...]
kenapa saya belum bisa pasang gambar
*nangis guling-guling*
mbakDos: cek gtalk-nya ya jeng
kita ngobrol di sana aja
Thanks tipsnya mbakDos, kebetulan selama ini kalau ada tulisan ” I agree ” langsung conteng tanpa di baca dulu …..jadi malu …. setelah membaca ulasan mbakDos. Ternyata selama ini maunya cepat saja tanpa baca baca dulu.
mbakDos: hehehe bukan cuma mas farizal kok yang melakukan itu.. saya juga
jos….
think before you post !!!
salam
ngunduh banner ahh
mbakDos: asik asiiikkk.. makasih yaaa *ciyum ciyum*
setuju banget
ngebetein banget kadang kadang buka facebook isinya cuma curhat curhat nggak jelas.
nggak malu kali ye kalo tulisannya dibaca banyak orang.
atau mungkin penyakit orang sekarang yang nggak lagi punya budaya malu.
btw bannernya gw pasang di blog gw ya??
mbakDos: yaa mungkin memang itu kali tujuannya, supaya dibaca sama temen-temennya dan mereka bereaksi sama apa yang ditulis itu
eehh boleh banget lho kalo mau dipasang.. blognya alamatnya apa?? hehehe makasih yaaa..
gimana ya caranya?
hihi,,, nubie masuk dunia blog nih..
mbakDos: HTML code-nya dicopy aja ke template blogmu.. kalo masih kurang jelas, mungkin bisa bertanya lagi
salam kenal mbakDos….
saya ikutan pasang bannernya ya mbak…
hihihihi
mbakDos: salam kenal juga
waahh makasih ya udah ikutan pasang bannernyaaa.. seneng banget!
[...] beberapa saat lalu saya sempat membuat sebuah tulisan berjudul Pikir Sebelum Publish – yang menganjurkan kita untuk lebih selektif dalam menuliskan sesuatu di ranah publik, agar [...]
Err…gw sendiri sih sempet sedikit bablas..even dah mikir berkali2 sebelum tuh tombol publish gue klik..ya tapi gitu deh..kadang emosi lebih dimenangin..skarang seemosi2nya hati..yah mendingan tutup mulut ke publish..kalo mau ditulis juga ya nulis di media yang CUMA UNTUK SENDIRI….
eh…saya ganti nama blog loh.. *bakar menyan, biar banyak yang mampir*
saya dukung! secara pertama kali ngeblog langsung kena isu serupa seperti ini *hehe*
ijin copas bannernya di rumah gue yaaa…
bagus bannernya, ijin pasang di blog aku ya..
sederhana saja : pikir sebelum publish…ya jelas mikir ya, mikir mau buat puisi, cerita, ato artikel…hehehe *just kidding
[...] saya pernah membikin tagline Pikir Sebelum Publish. Ketika menjadi pengajar pada acara Blogshop di Jogja beberapa saat lalu, saya juga menyinggung hal [...]
terima kasih sudah mengingatkan
artikel yang sangat bagus
Ok, saya pilih yang ukuran 200
Salam hangat
Ok sudah terpasang logonya
Salluutttt…..!!!! tapi jangan cm tulisan yg harus dipikir dulu buat diposting.. gambar pribadi juga jangan asal, jadi gw mo ngajak “Jangan Bugil didepan kamera”