1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

(Sudah Bukan) Rumahku

Sudah lamaaa sekali rupanya aku tidak pulang. Mungkin sudah mm.. entahlah, tiga atau empat musim terlewati, hingga akhirnya ketika aku menginjakkan kaki lagi di tempat ini adalah di musim yang sama seperti ketika aku melihatnya terakhir kali.

Dengan dedaunan yang sudah menguning, tidak sedikit pula yang sudah mulai berjatuhan. Bahkan menjadi sulit untuk menemukan warna coklat permukaan tanah di antara tumpukan dedaunan itu. Sesekali saja terlihat ketika angin perlahan-lahan menggeser letak daun-daun dari tempatnya semula.

Anginnya pun masih terasa sama. Sejuk menyentuh permukaan kulit ketika dilewati olehnya, juga dengan sinar matahari yang malu-malu bersembunyi di balik awan putih tebal yang berarak ke satu arah. Aroma yang.. aku tidak bisa menjelaskan aroma apa yang kuhirup, tapi aku mengenalnya dengan sangat baik. Dan aku menyukainya.

Seperti semua teman yang aku tahu, musim inilah yang sangat kusukai.

Mengamati mereka semua yang kembali membuka seluruh pintu dan jendela, setelah sebelumnya tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi udara dingin untuk menyelusup ke dalam. Menemukan mereka telah menanggalkan ikatan kain tebal di leher yang selama semusim terakhir mungkin nyaris tidak pernah terlepas dari sana.

Dan, sapaan selamat pagi.

“Selamat pag.. heeeiiii.. rupanya kauu!!”

“Waaahhhh.. kau sudah pulang rupanya!!”

“Kau harusnya datang lebih cepaatt! Ada peristiwa menyenangkan selama kau pergi kemarin!”

Sapaan dari wajah-wajah yang kukenal dengan baik.

Berang-berang dan ibunya, Kakak Cerpelai dan Musang, Bapak dan Ibu Merpati, semua yang wajahnya tidak pernah aku lupakan.

Juga Paman Beruang, “Sini kau!!” teriaknya seraya memelukku eraaaatt sekali, sampai tulang-tulangku rasanya mulai berderak hampir patah.

Yah, kepulanganku hari ini pasti sudah diberitakan dengan serta-merta oleh ibu. Selain merindukanku teramat sangat, aku adalah kebanggan ibu satu-satunya, demikianlah penjelasan Paman Beruang. Sehingga, tidak ada alasan bagi ibu untuk tidak memberitahukan kepulanganku kepada seluruh penghuni hutan. Dan lagipula, siapa yang tidak mengenalku, imbuh Paman Beruang – melebih-lebihkan, aku yakin itu.

Tapi entahlah apakah memang kata-kata Paman Beruang sungguh berlebihan, ketika aku menyadari bahwa di tengah hutan sudah dihias sedemikian rupa. Bunga hutan, yang hanya bisa ditemukan di tepi sungai yang cukup jauh, disusun di sana-sini. Daun keladi dan lontar yang hanya ada di puncak bukit juga ikut menjadi penghias.

“Salahkan ibumu atas semua ini,” bisik Paman Beruang sambil terkekeh saat memergokiku menganga melihat seluruh hiasan yang semarak ini.

Dalam hitungan desau angin, terdengar ranting-ranting yang patah terinjak bersamaan dengan langkah berderu-deru. Seketika, aku tahu siapa yang tergesa-gesa menuju ke arah kami: ibu.

Ia menghambur ke arahku dan memelukku tak kalah eratnya dengan Paman Beruang tadi. Seolah khawatir aku akan pergi lagi. Dan di belakangnya, berbondong-bondonglah penghuni hutan yang lain. Semua tertawa-tawa, seolah saling berebut berbicara dan menghampiriku, menepuk-nepuk pundakku, menjabat tanganku, semua seolah-olah menari-nari di sekelilingku.

Semua terasa masih sama seperti saat terakhir kali aku meninggalkan mereka. Tapi entahlah.. ada sesuatu yang berbeda. Hanya saja, aku belum bisa menemukan perbedaan apa itu.

Selanjutnya, semua seperti yang bisa dibayangkan. Pesta besar dengan tarian ala penghuni hutan, dengan makanan mewah tumbuh-tumbuhan yang biasanya hanya disajikan di saat menyongsong musim panas. Dengan anggur hutan yang istimewa itu.

“Bu, si Babi ke mana? Aku tidak melihatnya,” bisikku kepada ibu.

“Ah, sudah terlalu lama kau pergi rupanya, sampai tidak tahu apa saja yang sudah terjadi.”

“Apa?”

Ibu menggenggam tanganku dan menarikku menyingkir dari keramaian.

Ternyata memang ada yang berbeda.

Si Babi, teman bermain yang seru sekali jika diajak menjelajahi tempat-tempat baru di penjuru hutan ini, sudah tidak lagi tinggal di hutan yang sama dengan kami. Dua musim lalu ia dan ibunya pergi ke hutan seberang danau dan memutuskan tinggal di sana.

Juga tupai dan kancil. Kelinci bermata merah dan kakaknya yang bertelinga lebar. Mereka semua adalah teman-teman bermainku. Dan mereka sudah meninggalkan hutan ini untuk pergi ke hutan seberang. Bahkan menurut ibu, mereka sempat mencariku untuk berpamitan.

Ada apa ini? Mengapa mereka semua pergi?

“Kau ingat semak mawar tempat di mana kalian sering bermain dan menggoda kupu-kupu? Kita tidak bisa lagi bermain di sana?”

“Mengapa demikian, Bu?”

“Beredar kabar bahwa tempat itu sudah menjadi tempat tinggal para buaya, sehingga memang sebaiknya kita tidak menginjakkan kaki ke sana sama sekali, jika tidak mau jadi mangsa empuk mereka.”

“Tidak mungkin, Bu! Sungai tempat para buaya berkeliaran itu jauh dari semak mawar, dan lagipula mereka tidak suka tempat kering seperti semak mawar. Mana mungkin mereka tinggal di sana?!”

Ibu hanya tersenyum, sepertinya tahu apa yang kupikirkan. Tapi ia malah menceritakan hal lain lagi.

“Masih ingat juga pohon besar di tengah padang? Kita juga sebaiknya tidak mengambil madu di sana lagi. Kau tahu kenapa?”

Aku menggeleng.

“Karena katanya pohon itu sudah menjadi sarang kawanan ratu lebah. Kalau kita mengambil madu di sana, pasti akan habis disengat dan yah.. mungkin kita tidak selamat.”

“Ibu! Ibu ‘kan tahu kalau kita tidak mungkin mati hanya karena sengatan mereka!”

Ternyata benar firasatku. Bukan hanya berbeda, tapi ada banyak hal yang aneh dan tidak bisa dijelaskan di hutan tempatku tinggal ini.

“Siapa yang mengatakan hal-hal itu, Bu?”

“Yah.. siapa lagi yang berkuasa untuk mengatakan hal-hal yang kemudian dipercayai oleh penghuni hutan ini, Nak?”

“Maksud Ibu, Raja Singa?”

Ibu mengangguk.

“Dia juga yang melarang kita untuk bernyanyi sekarang? Karena di setiap pesta biasanya ada saja yang bernyanyi.. Paman Beruang, misalnya.”

Lagi-lagi ibu mengangguk.

Aku kemudian mengerti mengapa teman-temanku satu-persatu pergi ke hutan seberang. Si Babi yang adalah seekor penjelajah ulung, pastilah tidak suka dilarang untuk bermain ke tempat-tempat baru di hutan ini. Apalagi pohon besar di padang itu, itu adalah tempat kesukaannya untuk bermain.

Kakak-beradik kelinci, setiap hari melompat-lompat mengejar kupu-kupu ke semak mawar. Dan toh mereka sejak dulu selalu pulang dengan baik-baik saja. Lantas saat mereka tidak diperbolehkan lagi menginjakkan kaki ke sana, aku bisa membayangkan betapa tidak senangnya mereka.

“Ada apa dengan Raja Singa, Bu? Dulu dia tidak seperti ini.”

“Ibu juga tidak tahu, Nak. Beberapa penghuni hutan lainnya sudah mulai berbisik-bisik akan ikut pindah ke hutan seberang bersama si Babi dan teman-temanmu itu.”

“Ibu juga?”

Ibu tersenyum, “Bagaimana menurutmu, kalau Ibu sudah tidak bisa lagi mengambil buah-buahan dengan memanjat akar-akar pohon di bagian selatan hutan kita?”

“Kita juga tidak boleh ke sanaa??”

Ada apa sih dengan Raja Singa? Setahuku, dulu dia adalah penguasa hutan yang sangat bijak, disukai oleh semua penghuni hutan karena selalu bisa menyelesaikan masalah dengan baik, bahkan saat perselisihan antara aku dan si Babi dulu. Aku bahkan sangat ingin menjadi seperti dia.

Tapi mengapa sekarang begini?

“Hutan ini memiliki pohon-pohon besar yang selalu bisa kita panjat dan bergelayut di akar-akarnya, memakan buah-buah dari sana, dan itu ‘kan yang membuat kita menganggap ini rumah kita? Lalu kalau kita, seekor monyet, tidak bisa ke sana..?”

Bukan lagi sebuah rumah. Pasti itu maksud ibu.

Aku jadi mengerti maksud ibu mengadakan pesta sebesar ini. Kalau bukan karena pesta ini, belum tentu aku menyadari bahwa memang ada sesuatu yang berbeda pada hutan rumah kami ini.

Yang mungkin memang bukan lagi adalah rumah bagi kami.

Hhh.. apakah kami sungguh harus meninggalkan hutan ini dan mencari rumah baru? Hanya sesaat setelah aku kembali?

6 Responses

on June 27th, 2010 at 2:21 pm Iqbal Says:

hmm… kira-kira tentang yang mana ni ya? :-?

mbakDos: yang mana? kok yang mana? :D

on June 27th, 2010 at 5:07 pm ipungmbuh Says:

Si “aku” ini beruang ya?
*nebak*

mbakDos: ngg.. kalo ibunya monyet, kira-kira anaknya apa? :lol:

on June 28th, 2010 at 8:34 am mawi wijna Says:

raja singa hendak membuat “rumahnya” menjadi nyaman

mbakDos: oh ya? nyaman buat siapa? :D

on June 28th, 2010 at 1:34 pm warm Says:

rumah
dan hutan yg manakah ini ? :|

mbakDos: hutan yang agak jauh dari sungai ;-)

on June 30th, 2010 at 10:24 am amimoii Says:

Mbaaaa….. bakat banget buat dongeng anak kecil, udah lama banget ngga ada penulis buat mereka, padahal kalo pake ilustrasi yg apik bakal menarik sekali :)

tapi ini cerita perumpamaan atau bukan yak?? *mikir*

Ada Warm disini, penghuni ngerumpi, udah lama banget gak nengok ngerumpi *kangen*

mbakDos: iya euy, sebenernya aku udah pernah bikin tulisan fabel gini beberapa kali.. kalo ada kenalan yang mau ‘menjualkannya’, boleh lho dikenalkan juga padaku :mrgreen: eh iya.. oom warm sih pengunjung setia blog ini *diguyur air kembang tujuh rupa* :lol:

on June 30th, 2010 at 10:34 am queeny_o Says:

menebak nebak tentang apakah postingan ini

negara kita ???

????
:roll:

mbakDos: waaahhhh berarti aku harus pindah ke luar negeri gitu?? :D

Leave a Reply