1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Semangat Vuvuzela

Dini hari tadi saya gagal total melaksanakan niat untuk menyaksikan pertandingan semifinal Piala Dunia 2010 antara tim Jerman melawan Spanyol. Jangankan pesan singkat dari si Kakang yang mengingatkan kalau pertandingan sudah dimulai, telinga saya bahkan terlalu lelah untuk menangkap suara alarm dari si Beybih, yang alhasil membuat saya kebablasan tidur dan baru pagi harinya terbangun.. dengan dongkol.

Kedongkolan pertama, jelas, karena tidak berhasil menyaksikan pertandingan itu.

Dan kedua – yang lebih menyakitkan lagi – karena tim Jerman kalah.

Hey, look at what am I talking about!

Saya..? Menjagokan sebuah tim? Di pertandingan sepakbola??

Siapapun yang membaca ini – dan cukup mengenal siapa saya – pastilah akan mengerutkan dahi dan bertanya-tanya apakah betul saya yang menuliskannya.

Tidak bisa disalahkan memang, karena toh sejarah sudah membuktikan bahwa antara saya dan pertandingan sepakbola memiliki hubungan yang tidak rukun. Jangankan menjagokan tim tertentu, menonton pertandingannya saja tidak!

Kalau kangmas saya yang tiga orang itu memicu keributan seisi rumah setiap kali mereka menonton pertandingan di televisi, atau (mantan-mantan) kekasih saya yang seolah-olah merekatkan tulisan ‘do not touch’ di dahi mereka ketika sedang menonton pertandingan yang sama, saya malahan dengan senang hati meninggalkan mereka dan melakukan kegiatan saya sendiri.

Dan secara sepihak, saya memang menobatkan sepakbola itu telah mencuri lelaki di sekeliling saya.

Lantas, ketika Piala Dunia tahun ini berlangsung, entah mengapa saya tiba-tiba merasa kena tulah.

Walaupun tidak semua saya ikuti, saya sudah mulai menonton pertandingan-pertandingan itu. Alhasil, saya jadi tahu tim-tim yang lolos ke perempat final di antaranya adalah Belanda, Brazil, Argentina, Jerman, Paraguay, dan Spanyol. Perempat finalnya sendiri, saya menyaksikan dua dari empat pertandingan yang ada.

Saya bahkan ikutan heboh memasang tweet mengomentari pertandingan yang sedang disaksikan.

Jangan tanyakan lah tentang teknik permainan sepakbola, peraturannya, posisi pemain, karena saya berani bertaruh kalau saya memang tidak tahu *lhaaa buat apa taruhan kalo gituuu??*

Tetapi setelah tengok kanan-kiri, ternyata bukan saya satu-satunya yang merasa terkena karma.

Beberapa teman yang saya kenal, yang dulunya juga tidak menyukai sepakbola, tiba-tiba semua beramai-ramai menjagokan tim negara ini atau itu. Merelakan waktu yang semula untuk melakukan hal lain, jadi menonton pertandingan di televisi. Ikut berteriak-teriak kegirangan ketika tim yang dibela itu menang dan ikut menangis saat tim yang dijagokan ternyata kalah.

Dan – lagi-lagi – sama seperti saya, mereka toh juga ternyata tidak terlalu paham dengan peraturan, teknik, atau apapun itu berkaitan dengan sepakbola.

Mereka, dan saya, hanya menikmati menonton pertandingan itu. Menyaksikan dua-puluh laki-laki berlari-larian berebut bola dan yang dua lagi berjaga di depan gawang pada dua sisi yang berseberangan. Ikut bersorak memberi semangat kepada siapapun yang tengah menggiring bola ke arah gawang lawan, ikut menepuk dahi lantaran gemas melihat bola yang ditendang ternyata meleset jauh dari gawang yang dituju. Serta berbekal pengetahuan mengenai bunyi peluit wasit yang berarti terjadi sesuatu – tanpa perlu mengetahui dengan pasti pelanggaran apa yang tengah terjadi.

Saya jadi teringat pada salah satu kampanye yang dilakukan sebuah brand produk minuman bersoda. Mungkin memang tidak ada kaitannya secara langsung, tapi saya menemukannya.

Saya – dan mungkin beberapa teman ‘senasib’ – sebenarnya tidak menyukai sepakbola. Ada yang sampai anti, mungkin. Tetapi ketika dengung-dengung mengenai Piala Dunia ini mulai terdengar, tiba-tiba berubahlah sikap negatif itu.

Kita bisa menemukan bahwa sepakbola – dan acara Piala Dunia, khususnya – menjadi topik dalam percakapan atau dalam apapun. Merchandise berupa boneka, kaos, stiker, sampai bolanya sendiri bisa ditemukan dengan mudah. Bahkan mungkin beberapa di antara kita juga mulai memilikinya.

Pagi hari saat membuka surat kabar, berita pertama yang dibaca adalah berita mengenai pertandingan malam sebelumnya. Kalau membuka situs berita di internet, yang dicari pun hal yang sama. Atau malah langsung saja membuka situs resmi milik FIFA untuk mengetahui ulasan pertandingan yang sudah-sudah. Belum lagi terhitung acara nonton bareng yang ikut dihadiri di kafe ini itu atau rumah si anu.

Lucu.

Tapi sekaligus menjadi masuk akal juga sebenarnya.

Keriaan yang kita temui menjelang hingga berlangsungnya Piala Dunia sudah menjamur tak tertolong. Kita tiba-tiba dibombardir dengan segala hal mengenai Piala Dunia.

Tetapi bukan berita mengenai Piala Dunianya itu sendiri, melainkan reaksi orang-orang lain mengenai acara itu yang justru membuat kita – mau tidak mau – semakin terpengaruh juga.

Kita bisa melihat betapa mereka selalu bersemangat menceritakan tim dan pemain kesayangan, menceritakan hal-hal yang membuat mereka terkesan. Kita juga bisa melihat bagaimana para pendukung ini berdandan habis-habisan dengan atribut negara tertentu yang mereka bela, wajah dan rambut dicat warna-warni, pakaian berwarna senada, atribut seperti topi atau selendang atau apapun, bahkan vuvuzela pun dicat berwarna sama.

Kita juga tahu tidak sedikit di antara mereka rela mengantri entah sejak kapan untuk mendapatkan tiket pertandingan itu.

Semua semangat dan keriaan itu lah yang kemudian menular juga kepada kita.

Kita – yang semula mungkin membenci sepakbola – malahan ikut mengikuti setiap pertandingan di Piala Dunia kali ini.

See..?

Siapa bilang menularkan hal-hal yang menyenangkan itu sulit? Yang terjadi belakangan ini justru membuktikan yang sebaliknya kok..

Dan semangat ini pulalah – yang setahu saya – memang ingin ditularkan melalui kampanye produk minuman itu tadi.

Kenapa selama ini kita malah lebih disibukkan dengan memberitakan hal-hal yang justru membuat orang lain ikut kesal atau marah atau dendam?

Ah, anyway.. Siapa yang kalian dukung di final Piala Dunia nanti? Belanda atau Spanyol?

Saya..?

Saya sih tetap setia pada Oom Joachim Loew dan Mesut Ozil :mrgreen:

 

5 Responses

on July 8th, 2010 at 7:47 pm clingakclinguk Says:

Sebelum Piala Dunia 2010 bergulir saya dukung Spanyol, tapi lalu berpindah ke Jerman, eh ndak taunya Jerman kalah lawan Spanyol, jadi untuk final saya dukung Belanda *pendukung labil* :D

on July 8th, 2010 at 8:35 pm jensen99 Says:

Lah, jadi mbakdos netral saat final nanti? :D

on July 9th, 2010 at 2:10 pm AngelNdutz Says:

aihhh…saya juga pendukung Jerman, mbak :P tapi sukak banget sama mas Mueller dan mas Klose :P

on July 9th, 2010 at 6:20 pm wahyuseptiarki Says:

Lumayan, mbak. Mbakdos cewek. Saya sendiri salah satu cowok yg beneran biasa aja ada World Cup ato enggak.

Suka ama Inggris juga krn suka permainannya, bukan krn fanatik. Eh, Inggris kalah. *hayah*

Kesimpulannya? Saya suka basket! *eh :) )

on July 16th, 2010 at 9:26 am warm Says:

saya dukung yang masukin gol, tentu
:D

Leave a Reply