1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

ML Selagi Sadar

Beberapa hari silam, saya mendapat undangan untuk menjadi salah seorang peserta focus group discussion (FGD) yang dilakukan oleh sebuah grup media kenamaan. Penasaran juga – secara biasanya selama ini saya yang selalu berperan sebagai moderator FGD – karena saya ingin tahu apa rasanya menjadi seorang peserta.

Singkat cerita, saya pun menerima undangan itu.

Dan di sana lah saya bertemu dengan sembilan orang perempuan lain, yang semua memiliki kesamaan: usia berkisar antara 20-30 tahun dan bisa disebut sebagai perempuan urban Jakarta.

Menarik, sangat menarik. Karena di situlah saya bertemu dengan berbagai macam perempuan dengan karakteristik masing-masing. Saya jadi tahu kehidupan party goers, dilemanya menjalani kehidupan kantoran setelah selesai masa perkuliahan, jatuh-bangunnya menjadi seorang wirausahawan eh.. wati, dan seterusnya-dan seterusnya. Banyak hal yang semula saya tidak pernah tahu, hanya karena menjadi peserta FGD ini saya jadi tahu.

Di antara berbagai topik yang dilontarkan oleh sang moderator, ada satu yang – buat saya – lebih menarik di antara yang lain.

The question is as simple as: What do you think about having sex?

Dan jawaban yang spontan terlontar dari mulut saya adalah.. having sex is about choices.

Iya, buat saya, melakukan hubungan seksual itu identik dengan sebuah pilihan.

Saya sendiri tidak mau mengaitkan hubungan seksual itu dengan pernikahan, atau kapan dilakukannya – sebelum atau sesudah menikah. Apalagi lantas menjurus pada pertanyaan yang meminta jawaban ‘benar’ atau ‘salah’, atau seharusnya seperti apa. Tentang yang satu ini, biarlah menjadi urusan pribadi tiap orang.

So, what about choices that I was talking about?

Menurut saya, sebenarnya melakukan hubungan seksual itu sama saja dengan berjalan kaki dan menemukan sebuah persimpangan. Saya bisa melangkahkan kaki ke kiri atau ke kanan, atau bahkan tetap diam saja di tempat. Tapi baik melangkah ke kiri, kanan, maupun diam saja, masing-masing adalah sebuah keputusan yang kita ambil ketika kita dihadapkan pada persimpangan itu.

Kita bisa saja melakukan hubungan seksual sebelum menikah atau sesudahnya atau tidak akan pernah melakukannya sama sekali, dengan pasangan atau bukan, dengan lawan atau sesama jenis, menggunakan ‘alat pengaman’ atau tidak, atau apapun lah, masing-masing adalah sebuah pilihan. Dan pilihan ini, kita sendiri lah yang menentukannya.

Sebagaimana menentukan apa yang akan dilakukan ketika menemukan persimpangan jalan tadi, tiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Siapa yang tahu jika jalan raya di kiri itu menuju pada hutan antah berantah? Siapa juga yang tahu kalau jalan setapak di kanan menuju ke rumah penduduk yang akan menawarkan bantuan? Atau siapa yang bisa tahu kalau kita diam saja di tempat, nantinya akan dimangsa oleh burung bangkai?

But the thing is, kita toh tetap harus memilih.

Dan tidak ada satu pun dari tiap pilihan itu yang bisa dinilai benar atau salah.

Sama halnya dengan berhubungan seksual.

Kita punya kebebasan untuk menentukan kapan, dengan siapa, atas alasan apa kita melakukan hubungan seksual. Atau justru tidak melakukannya sama sekali sepanjang hayat. Apapun pilihan itu, tidak ada seorang pun yang bisa menyatakan bahwa pilihan itu salah atau benar.

Dan kalau membahas mengenai pilihan, sesuatu bernama konsekuensi akan selalu mengikuti.

Yang menjadi berat bukanlah memutuskan untuk mengambil pilihan yang mana, tetapi menerima setiap konsekuensi yang muncul sebagai akibat dari pilihan itu. Dan disadari atau tidak, ini lah yang sebenarnya membuat kita kadangkala (atau seringkali) merasa ragu untuk memilih – karena kita merasa takut atau tidak siap menghadapi konsekuensinya di kemudian hari.

Karena kita dihadapkan pada ketidak-pastian.

 

Gimana ya kalo gue having sex sama dia trus ternyata belakangan gue bakal putus juga sama dia?

Sampe sekarang gak punya-punya pacar.. bisa-bisa gak bakalan ML nih gue?! Mendingan sama siapa gitu aja kali ya? Tapi ntar kalo calon suami gue tanya, gue mesti jawab apa?

Duh gak lucu banget nih kalo malam pertama ntar gue ketauan bego banget soal seks, bisa malu gue sama bini gue! Latihan dulu kali ya? Lha trus kalo ntar ketauan udah jago, malah ditanya lagi sama dia, gue udah pernah having sex sama siapa aja?!

Gue tetep gak mau ML sebelum married nih, tapi udah diketawain mulu nih sama temen-temen gue. Dibilang cupu, lagi!

Gue pengen ML sama dia, tapi gue gak suka kalo pake kondom. Tapi ntar kalo dia hamil, gimana dong?!

 

Dan entahlah berapa juta pertanyaan lagi yang muncul di kepala kita berkaitan dengan yang satu itu.

Lagi-lagi, sumbernya satu: kekhawatiran akan konsekuensi dari pilihan kita.

Buat saya, hal ini lah yang mestinya menjadi pertimbangan sebelum menentukan pilihan, baik untuk melakukan hubungan seksual atau tidak.

Karena pilihan apapun yang kita ambil, kita tetap harus mempertanggungjawabkannya.. ya dengan menerima apapun konsekuensinya itu tadi.

Sehingga ketika – misalnya – kita sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan dengan mantan-mantan kekasih, lalu suami kita di kemudian hari mempertanyakan hal ini, sudah tidak semestinya kita menyalahkan mantan-mantan kekasih itu sebagai pihak yang menjerumuskan kita sampai kita mau melakukan hubungan seksual. Toh kita ‘kan yang dulu memilih untuk berhubungan seksual dengan mereka?!

Atau kalau toh kita memutuskan untuk tidak akan pernah sekalipun melakukan hubungan seksual sebelum menikah, ya tidak perlu marah atau ngambek ketika pasangan kita kemudian tertawa atas ketidak-tahuan kita tentang apa yang harus dilakukan saat foreplay. Karena toh kenyataannya begitu, karena kita juga ‘kan yang memilih untuk tidak mengalami hubungan seksual sebelum menikah?!

Setiap pilihan itu ‘kan ada konsekuensinya. Bisa menyenangkan, bisa juga tidak. Kita tidak akan pernah tahu apa konsekuensi itu sebelum tiba saatnya terjadi.

Tapi keduanya tetap adalah tanggung jawab kita pribadi.

Yaa.. jadi ya pilihan itu memang harus ditentukan dengan sadar seutuhnya.

Lagipula, jauh lebih nikmat kok ketika kita secara sadar memilih untuk melakukan hubungan seksual, daripada ketika sedang mabuk *eh*

19 Responses

on July 15th, 2010 at 1:03 am Antyo Rentjoko Says:

Kalo lagi mabok, di mana asyinya. Habis itu capek, tidur, lalu ketika bangun sama-sama kaget.

“Kamu siapa?”

“Ini aku di mana?”

on July 15th, 2010 at 1:17 am christin Says:

kalo udah ‘kesetrum’ mana sempet mikir tapi yaaaa :) )

on July 15th, 2010 at 1:18 am mas stein Says:

menyambung di atas, tau-tau hamil, masuk penjara pula, cowoknya baru ngaku blakangan *gosip mode on*

on July 15th, 2010 at 4:34 am zam Says:

juga memvideokannya. :p

on July 15th, 2010 at 8:39 am pinkina Says:

Alhamdulillah saya ML sesudah nikah, jadi ada yang bertanggung jawab atas nasib anak yang saya kandung hahahahaha :) )

on July 15th, 2010 at 9:33 am Kang Oboy Says:

ML itu aktifitas hidup lainnya, sama seperti makan, minum dan pup.
Semua ada tempat, peraturan, juga setiap manusia berhak untuk itu.
Jadi kalau ML itu hak asasi, ketika ada orang lain melakukan dan tidak menganggu (kita) mengapa kita harus tidak menerima bahkan berniat menuntut supaya masuk penjara ?.

on July 15th, 2010 at 9:55 am AngelNdutz Says:

bener mbak,,,semua punya konsekuensi sendiri2 jadi ya tinggal kitanya milih konsekuensi yg mana :P

on July 15th, 2010 at 12:19 pm mawi wijna Says:

jadi bener klo having sex itu nikmat dunia terenak dengan konsekuensi paling ga enak :D

on July 15th, 2010 at 1:17 pm Ella Says:

cant agree more, tha :) konsekuensi jg bs lebih dipahami dan membuat keputusan yg tepat jk kita terus mengedukasi diri kita ttg segala hal ttg seks n seksualitas…. sayangnya di indonesia dari segala usia, masih byk kalangan yg kurang teredukasi dengan baik shg kesadaran utk memilih dan menanggung konsekuensi itu masih kurang terbangun….

on July 15th, 2010 at 1:40 pm Fatoni Says:

setuju mbakdos klo pilihan itu memang harus ditentukan dengan sadar seutuhnya. karena menurut Sartre, manusia bebas adalah manusia yang “mengada” melalui kesadaran..tentu saja termasuk sadar akan segala konsekuensinya..

:D

on July 16th, 2010 at 7:39 am didut Says:

ya kl secara sadar memang lbh enak …eh …

on July 16th, 2010 at 8:04 am Jangan Pernah Mencoba « Mas Stein Says:

[...] lebih itulah yang saya tangkap dari tulisan seorang blogger senior, mbak dosen yang juga seorang psikolog. Sebuah tulisan yang sangat logis, dan yang jelas ndak bisa [...]

on July 16th, 2010 at 8:10 am warm Says:

lebih asik lagi,

melakukannya dalam keadaan sadar
dan juga halal
:D

on July 16th, 2010 at 11:33 am lekdjie Says:

yup,semua punya konsekuensinya.tak cuma di dunia,tapi jg setelah di alam sana…tapi buat yg percaya bahwa manusia hidup tak hanya di dunia saja ding..

on July 18th, 2010 at 12:18 am namasayayudi Says:

Gak usah ngomong halal haram lah. Kalau mau ML ya ML aja. Terima semua apa adanya dengan paket resiko dan kenikmatannya.

Mau nanti gimana kan itu urusan nanti :p sekarang ya sekarang.

on July 20th, 2010 at 1:35 am irdix Says:

Kenapa analoginya dimakan oleh burung bangkai ya ?

kenapa harus burung ?

*halah*

on July 30th, 2010 at 9:09 pm adhima Says:

sex adalah nafas hidup bagi saya.
Dan saya kawin muda untuk dapat bernapas dengan lega. Dan kawin muda adlah pilihan, karena saya bisa bernapas tanpa beban.
Mengingat saya akan mati kalau lupa bernapas.

on August 2nd, 2010 at 1:57 am hasbi Says:

kesenangan ,,,,, selagi kt bisa senang kenapa ga,,!!

on August 23rd, 2010 at 12:26 pm Lovely Sun Says:

cool…….ML bagian dari hidup… n salah/benar urusan tiap orang dengan Tuhannya masing-masing…
senikmat pilihan itu, nikmati pula konsekuensinya.

btw, kelepasan nich mbak dos… hahaha…

Leave a Reply