1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Penguntit di Sekeliling Kita

DISCLAIMER: The content may contain spoilers.

Oh, bukan.. Bukan tentang film Inception yang sedang hiruk-pikuk dibicarakan sampai ke pelosok negeri itu, kok! Walaupun saya memang sudah menonton – dan berminat menonton ulang beberapa kali lagi – saya sungguh tidak ingin mengacaukan kenikmatan kalian menonton film itu akibat spoiler-nya. Since I know how bad the feeling is *halah lebayatun*

Ini tentang salah satu episode dari film seri Criminal Minds yang saya gandrungi itu.

Buat teman-teman yang mungkin tidak terlalu familiar dengan film seri ini, Criminal Minds mengisahkan aktivitas tim khusus di bawah Federal Bureau of Investigation (FBI) yang bernama Behavioral Analysis Unit (BAU). Tim BAU ini yang bertugas untuk menemukan pelaku kejahatan – seringkali pembunuhan – dengan melakukan analisa terhadap pola-pola perilaku ‘tak terlihat’ yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).

Pada pembunuhan berantai, misalnya, mereka akan menganalisa kesamaan yang dimiliki oleh para korban: jenis kelamin perempuan, usia 25-30 tahun, rambut pirang, dan semuanya adalah pelanggan binatu yang sama di salah satu sudut kota. Dengan melakukan analisa sejenis ini, mereka bisa mengetahui kebiasaan pelaku, latar belakang masa lalu, bahkan sampai alasan yang memicunya melakukan tindakan pembunuhan, misalnya saja, kebencian luar biasa terhadap mantan kekasih – yang berambut pirang dan melanggan binatu yang sama – lantaran menolak cintanya mentah-mentah.

Judul Criminal Minds sendiri diambil dengan berlandaskan filosofi bahwa tujuan utama tim BAU ini adalah untuk bisa memahami isi kepala para pelaku, menempatkan diri di posisi pelaku, dengan demikian mereka akan bisa menemukan siapa si pelaku ini.

The great series and so much recommended to be watched!

Buat yang ingin tahu bagaimana ilmu Psikologi bekerja, sangat dianjurkan menonton film ini *halah, kok tetep promosi!* :mrgreen:

Okay, anyway.. salah satu episode Criminal Minds ini segera menarik perhatian saya saat pertama kali salah seorang tokohnya menyebut Facebook dan social media di awal episode ini diputar.

Yang saya maksudkan adalah episode 22 di season 5, yang berjudul The Internet is Forever.

Singkatnya, episode ini mengisahkan bagaimana tim BAU berusaha menemukan pelaku pembunuhan yang menjaring korbannya melalui media sosial, antara lain Facebook dan – walaupun tidak disebutkan secara eksplisit – Twitter atau (mungkin) Foursquare.

Status-status yang kita buat di Facebook dan Twitter, secara langsung ataupun tidak, bisa menggambarkan bagaimana diri kita yang sesungguhnya. Mungkin kalau dilihat dari satu-dua-tiga status saja, tidak akan bisa menggambarkan apa-apa. Tetapi dari sekian-ribu kali status yang kita tuliskan di berbagai media sosial itu, orang lain yang membacanya mungkin akan mulai bisa mengenali dan membedakan status milik kita dan milik orang lain.

Kalaupun tidak sampai melakukan analisa terhadap bagaimana diri kita yang sesungguhnya *haduh, maapkeun.. bawaan psikolog begini nih!* teman-teman yang ikut membaca status kita akan mulai mengenali hal-hal pribadi kita. Misalnya saja, kita bekerja di bidang apa, memiliki berapa saudara kandung, berapa kali berpacaran, sampai nama binatang peliharaan kita, akan sangat mungkin dikenal oleh orang lain, lantaran kita memang seringkali menyebutkan hal-hal itu di status yang kita pampangkan di media sosial.

Belum lagi terhitung Foursquare, yang bisa memberitahukan kepada khalayak umum di mana persisnya kita tengah berada.

Pengungkapan hal-hal yang bersifat pribadi ini lah yang kemudian memungkinkan pelaku pada film Criminal Minds untuk menguntit (stalking) sejumlah orang dengan siapa ia memiliki keterkaitan pada akun media sosial yang dimilikinya.

Pelaku ini bisa tahu persis kebiasaan korbannya yang mengajak jalan-jalan anjing peliharaannya pada sore hari, bahkan mungkin termasuk rutenya. Ia juga mengetahui jam berapa si korban lainnya lagi pulang bekerja serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sebelum sampai di rumah. Ia bahkan mengetahui lokasi di mana para korban ini tengah berada, yang kemudian memungkinkannya untuk berada di tempat yang sama dengan korban-korban itu.

Ada kalanya bahkan ketika salah seorang korban mengambil foto makanan yang tersaji di mejanya lalu mengunggahnya ke – sebutlah – Twitter, sesegera itu pula si pelaku dapat melihat foto yang terunggah. Dan ternyata, ia duduk di meja yang tidak jauh dari si korban.

Berbagai tahap ‘perkenalan’ ini diakhiri dengan pembunuhan satu-persatu para korban itu.

Mengerikan?

Sangat!

Apalagi menyadari bahwa adegan-adegan yang ditampilkan di episode ini sangat mungkin terjadi pada kita, sebagai para pemilik akun media sosial.

Sadar atau tidak, mau diakui atau tidak, ketika kita menuliskan status di media sosial manapun – Facebook, Twitter, Plurk, bahkan Foursquare – tentu ada harapan bahwa status tersebut akan menuai respon dari teman-teman kita. Status itu pada akhirnya akan berkembang menjadi sebuah interaksi dengan mereka.

Kita pun kadang tidak segan memampangkan hal-hal yang bersifat pribadi di sana, di mana jelas memungkinkan teman-teman kita tahu apa yang tengah terjadi. Dan jelas menjadi menyenangkan ketika menerima balasan dari mereka, entah menanyakan ‘ada apa’, memberi semangat, melontarkan lelucon, atau respon apapun.

But in the other side, hal itu sekaligus juga dapat membahayakan diri kita sendiri.

Bukaann.. saya bukan bermaksud menakut-nakuti – atau kemudian melarang penulisan status di media sosial. Toh saya jelas tidak punya hak apapun untuk mengungkapkan larangan itu.

Hanya saja, mungkin kita memang sebaiknya lebih bijaksana dalam memampangkan status atau apapun di media sosial.

Yaa namanya saja media sosial, memungkinkan siapapun untuk mendapatkan informasi terbaru tentang kita – yang kita pampangkan sendiri.

Dengan demikian, kita juga lah yang sebaiknya lebih selektif untuk memilih mana yang boleh diketahui oleh orang lain dan mana yang tidak.

Kalau beberapa saat lalu saya sempat membuat sebuah tulisan berjudul Pikir Sebelum Publish – yang menganjurkan kita untuk lebih selektif dalam menuliskan sesuatu di ranah publik, agar tidak menyakiti orang lain – di tulisan ini pada akhirnya juga menganjurkan tentang selektivitas itu. Hanya saja kali ini – kasar-kasarnya – demi keselamatan kita sendiri.

Tidak butuh gelar psikolog kok untuk bisa mengenali kebiasaan orang lain melalui status-status yang mereka tulis di media sosial. Cukup dengan menjadi teman atau follower mereka, rajin membaca status yang dituliskan, dalam waktu singkat kita akan bisa mengenali si pemilik akun ini.

Ditambah lagi dengan pemberitahuan di mana kita berada – melalui Foursquare – yang memungkinkan orang lain juga mengetahuinya.

Saran saya mudah saja, supaya kita tetap bisa menikmati ‘pemberitaan’ mengenai diri kita sendiri melalui Facebook, Plurk, atau Twitter. Juga agar kita tetap bisa berburu badge di Foursquare.

Di Facebook, Plurk, atau Twitter, akan lebih bijak jika kita menuliskan status yang tidak terlalu personal. Tidak perlu terlalu menyinggung area pribadi, agar hanya orang-orang yang mengenal kita dengan baik (di dunia nyata) lah yang mengetahui makna sesungguhnya di balik status tersebut.

Sedangkan di Foursquare, hanya check-in di tempat di mana memang banyak orang berkumpul di situ atau kalaupun tidak terlalu banyak orang, setidaknya kita sedang bersama dengan teman-teman atau orang-orang yang kita kenal dengan baik. Sedapat mungkin hindari check-in atau menambahkan venue pada lokasi yang tergambarkan secara spesifik, misalnya Kafe X (Mal Y) Meja 23 *believe it or not, ada lho yang statusnya begini di Foursquare*

Tulisan Oom Pitra mengenai penguntit di media sosial kita juga patut dibaca.

So, never.. NEVER invite the enemy in.

15 Responses

on July 20th, 2010 at 2:31 am Antyo Rentjoko Says:

Saya sadar. Soal risiko juga sadar. Tapi yang selalu memiting saya adalah privasi. Itu sebabnya saya membatasi diri soal “live report”: lagi di mana, ngapain, dan bersama siapa. Yang saya laporkan paling “laporan telat”: sudah berlalu.

Di sisi lain, ada bagusnya juga sih “live report” itu. Bisa menjadi alibi kalau ada sangkaan atau fitnah, apalagi dari kesaksian orang lain yang bertemu atau bersama saya saat itu. Tapi kalo nurutin “jaga-jaga”, malah senewen, seolah merasa diri jadi target operasi pihak lain.

Yang perlu kita kita jaga barangkalai kehati-hatian dalam melaporkan orang lain, agar jangan sampai mengganggu privasi dia melalui “live report”.

Setelah euforia media sosial ini mereda, saya yakin semua orang akan belajar. Tidak bisa begitu saja mengedepankan “pasal gaul” lalu berkilah “privacy is so yesterday”.

Semoga suatu saat saya tidak ngetweet “Lg di rg kerja @mbakdos. Dia cantik, cerah, sexy, dgn harum Aqua Marine.” :D

on July 20th, 2010 at 8:03 am alfakurnia Says:

Serem juga ya resikonya. Dulu pas awal-awal ikut social network bawaannya semua mau diupdate status, pas ada twitter maunya dikasih myloc tapi belakangan, semakin banyak teman, semakin sadar etika jd mikir-mikir lagi. Nggak perlu semua kegiatan saya perlu diketahui semua orang. Jadi seperti menelanjangi diri sendiri yang bisa jadi bumerang suatu saat nanti.

on July 20th, 2010 at 8:12 am cK Says:

makanya aku gak epruv orang yg gak kukenal di 4sq. kalau di twitter nulis paling seadanya. gak pernah nulis lokasi rumah, kantor dll secara gamblang. ngeri.

on July 20th, 2010 at 9:50 am iin Says:

makin makin deh aku musti nonton si criminal minds huhuhuhu

eh tapi kalo aku untungnya gak tertarik ikutan foursquare, dan konon ada temenku yang bilang : never trust foursquare, soale suka2 kebalikannya mbakyu, check-in doang, padahal ga disitu2 juga.. hwahahaha emg bisa gitu ya?
:) )

on July 20th, 2010 at 9:52 am pinkina Says:

makanya saya sering meng-ignore orang tak dikenal di fb hahaha :) )

on July 20th, 2010 at 10:47 am warm Says:

iya sih,
kadang geregetan dengan orang yang mengumbar status di jejaring sosial gitu,

ada kalanya privasi ya musti sedemikian adanya, hanya kita yang tahu dimana kita berada
:)

on July 20th, 2010 at 10:47 am Yohanes Hans Says:

wow…. saya suka topik spt ini :)

walaupun beberapa kuliah saya scr formal tidak satupun yg mengambil bidang psikologi, tapi saya sangat suka sekali bila membahas hal2 disekitar kita yang dikaitkan dg ilmu psikologi, terutama bila sudah melibatkan sisi manusianya disitu

dan berkaitan dg dunia dimana aktifitas kriminal bisa terjadi, baik didunia nyata maupun dunia cyber, sangat menarik dan kenyataannya sangat membantu utk melibatkan sisi psikologis manusia dlm hal ini, apalagi bila melibatkan sang pelaku

saya pribadi mengenal dan bekerja bersama beberapa orang yang memang mereka sering dipergunakan oleh institusi khusus dipemerintahan berkaitan dg mempelajari para pelaku kriminal dari aspek psikologis ini.

bahkan beberapa diantara orang yg saya kenal mrp orang yang memegang peranan penting dalam meng-intrograsi para pelaku teroris di Indonesia dan sudah meng-intrograsi ratusan pelaku. sangat menarik mempelajari hasil research mereka, dan betapa menakjubkan metode spt ini dalam keberhasilannya membantu memecahkan berbagai macam kasus

sedikit bocoran gak penting… :P :P :P
saya sendiri dulu pernah mjd “bocah didikan” sebuah badan bernama B*K*N (sekarang B*N) dan sampe skr sering membuat program utk para personil militer, spt martial arts dan program mental / pikiran yg lain, jadi saya tau dan sependapat bahwa aspek ilmu psikologi sangat sangat luar biasa dalam “membentuk” manusia dan “menguak” manusia

bai the wei aniwei baswei…. *halahhh* :P
kalo soal bikin status didunia maya, saya lebih suka bikin status yang berhubungan dg dunia kesehatan / olahraga, krn siapa tahu bisa bermanfaat bagi orang lain :)

walaupun…. kadang bikin status ngomel ngomel juga :P :P :P wakakakakakaka… *dipentung mbakdos*

on July 20th, 2010 at 1:35 pm Fatoni Says:

Hmmm..berkembangnya jejaring sosial dan booming 4square kini kita tidak usah mengandalkan GPS atau peralatan mahal lain untuk mengetahui posisi orang lain (dimana ia berada, sedang melakukan apa, bahkan informasi2 “sepele” yang itu berakibat fatal jika disalah gunakan).

Informasi yg diperoleh dari twitter, FB, Plurk, 4sq, dll itu kita bisa “memprofilkan” subjek (tentu saja saya setuju dgn mbakdos bahwa tidak perlu menjadi psikolog untuk melakukan ini) dan bisa saja kita membongkar pin atm, atau melakukan “penguntutan” yang berujung tindakan kriminal lebih lanjut seperti misal penculikan.

banyak untungnya juga loh nonton criminal mind, setidaknya kita bisa tau bagaimana para penegak hukum menangani perilaku kriminal dengan menemukan pola dan berpikir seperti apa yg dipikirkan oleh pelaku kriminal. Kita pun bisa lebih waspada karena kita bisa tau dalam kondisi seperti apa pelaku kejahatan bisa memperoleh kesempatan untuk melakukan kejahatan.

so..disinilah menariknya psikologi (sesama praktisi psikologi ikutan promosi juga ah..hehehe) :D

on July 20th, 2010 at 3:32 pm hedi Says:

Aku senada dengan paman, nyaris ga pernah menulis hal personal di ranah sosial media. Males membuka pola perjalanan, kebiasaan & apapun yg bersifat personal :)

on July 21st, 2010 at 3:29 pm gardino Says:

segala password saja kadang bisa ditembus koq dengan adanya social media. Soalnya security question yang bertugas mengamankan password biasanya mengandung pertanyaan yang bersifat pribadi. Dan di jejaring sosial orang cenderung mengumbar ini.

Mulai dari menyebut nama ibu kandung, tempat honeymoon, nama binatang piaraan dan lain-lain. Sudah beberapa kawan saya emailnya jebol karena security questionnya bisa terjawab melalui facebook yang sayangnya tidak disetting private.

on July 21st, 2010 at 4:58 pm Anneke Priskila Says:

“… kita memang sebaiknya lebih bijaksana dalam memampangkan status atau apapun di media sosial… ”

setuju sekali dengan pernyataan di atas… :)

makasih ya bu dosen udah ingatin kita lagi… ;)

on July 22nd, 2010 at 9:29 am sherry Says:

Penggemar Criminal Minds juga :)
Pada akhirnya demi keselamatan diri sendiri juga kita harus belajar menjadi “introvert” dan memaknai apa yang sesungguhnya ingin kita bagi di media sosial itu. Suka post ini mbakdos, thanks for reminding.

on July 22nd, 2010 at 11:21 am lala_lili Says:

abis baca kelar jadi dapet pencerahan *halaah* semoga kedepannya saya tidak terlalu lebay di dunia maya *.*

on July 22nd, 2010 at 2:28 pm herry Says:

yah sangat hati2 yg namanya password dan pin deh sekarang….

salam yah bu dosen, moga makin sukses ajah

http://imherry.blogdetik.com
http://herry.blogs.or.id
http://mp3shared.wordpress.com

on October 14th, 2011 at 10:42 pm Cindi Thurmon Says:

Excellent post. I used to be checking constantly this blog and I’m inspired! Extremely useful information particularly the remaining section :) I handle such information much. I was looking for this particular info for a very long time. Thanks and best of luck.

Leave a Reply