1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Tak Pernah Sepele Buat Mereka

Usianya mungkin sudah lima-puluh tahun, atau mungkin lebih. Rambut di kepala yang menyembul dari bagian bawah topinya tampak berwarna putih. Kacamata dengan model jaman dulu teronggok di bagian atas hidungnya. Pakaian yang dikenakannya terkesan bersih dan rapi – tentu bukan rapi khas orang kantoran. Dan kerut di wajah, semakin tidak bisa menyembunyikan waktu yang sudah dilewatinya.

Namun, saya menemukannya berdiri di pembatas Jalan Casablanca di pagi hari dalam perjalanan dari rumah menuju kampus tempat saya mengajar. Tangan kirinya menggenggam berlembar-lembar kertas berukuran kecil, sedangkan tangan yang lain mengulurkan kertas-kertas tersebut satu-persatu ke arah kaca jendela kendaraan roda empat yang berjalan lambat di sampingnya. Berharap para pengendara yang memang sedang terjebak kemacetan itu berbaik hati membuka kaca dan menerima uluran kertasnya.

Beberapa di antara pengendara itu membuka kaca kendaraan mereka dan menerima kertas yang diangsurkan, beberapa lainnya tetap berjalan saja tanpa melakukan apa-apa terhadap uluran itu.

Tiba-tiba, jantung saya seperti tertusuk sesuatu yang kecil, tapi cukup tajam untuk membuat saya sesak napas.. dan sakit.

Tanpa berpikir panjang, saya menurunkan kaca si hitam dan menerima uluran kertas si bapak. Ia tersenyum lebar ketika menyerahkan kertas itu kepada saya.

Dan lagi, rasa sakit itu muncul justru ketika saya melihatnya tersenyum – dan membalas senyumannya.

Seketika, saya teringat pada ayah.

Dengan usia yang mungkin tidak berbeda terlalu jauh, ayah dan bapak ini menempuh dua jalan yang berbeda untuk mencari nafkah. Ayah masih saja menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor, setiap pagi berangkat – kadang lebih pagi daripada saya – dan baru pulang sore harinya. Sedangkan bapak ini, ia berdiri di pembatas jalan dengan berbekal topi untuk menghalau terik sinar matahari dan mengulurkan kertas kepada para pengendara kendaraan roda empat.

Seandainya.. seandainya saja – mudah-mudahan tidak akan dan tidak pernah akan terjadi – yang berdiri di situ adalah ayah saya.. entahlah *dan dada saya terasa semakin sakit*

Dengan usia yang hampir sama, mestinya kedua orang ini sudah menghabiskan waktu di rumah dan lebih banyak beristirahat. Di kala ayah lebih memilih tetap bekerja di kantor – karena saya yakin beliau tidak akan betah jika harus terus ada di rumah tanpa melakukan apa-apa – si bapak juga bekerja.. di pembatas Jalan Casablanca ini.

Keesokannya, di pagi hari, saya melewati rute yang sama. Dan kembali menemukannya berdiri di tempat yang sama, memegang dan mengulurkan kertas yang sama.

Juga keesokannya lagi. Lagi. Lagi.

Juga hari ini.

Dan tiap kali saya melintasinya itu pula saya selalu menurunkan kaca jendela si hitam untuk menerima uluran kertas darinya.

Jika dipikirkan lagi, apalah artinya kertas-kertas yang saya terima itu sebenarnya.

Tapi saya yakin, tiap lembar kertas yang dibagikan itu memiliki arti yang tidak kecil bagi si bapak. Karena dari situlah ia memperoleh nafkah yang dibutuhkannya. Dari yang pernah saya dengar melalui kisah salah seorang mahasiswa yang juga pernah melakukan hal yang sama seperti si bapak, pendapatan akan dihitung berdasarkan lembar kertas yang berhasil ‘dihabiskan’.

Yang artinya, dihitung juga dari jumlah pengendara yang bersedia menerima kertas-kertas itu.

Seperti halnya saya menemukan si bapak, dua pemuda lain yang usianya jauh lebih muda, juga saya temui sedang berdiri di pembatas jalan tepat di depan Mal Ambasador, tak jauh dari tempat si bapak berdiri. Melakukan hal yang sama, hanya saja brosur yang mereka berikan memang lebih elegan: menawarkan apartemen yang saat ini masih dalam tahap pembangunan, sebagai bentuk investasi jangka panjang.

Lain lagi di Jalan Matraman Raya, di mana seorang perempuan muda berjalan menghampiri kendaraan bermotor satu-persatu di kala lampu lalu lintas menyala merah. Tapi yang dilakukannya juga sama, ia menyerahkan kertas seukuran kartu nama berwarna biru, kali ini yang ditawarkan adalah penyewaan alat-alat musik untuk acara pernikahan, sunatan, dan lain sebagainya.

Dan setiap kertas, brosur, atau bahkan kartu nama yang mereka tawarkan itu saya terima. Menurunkan kaca jendela si hitam, lalu menerima uluran dari mereka.

Padahal – lagi-lagi – jika hendak dipikirkan secara logis, toh tidak ada gunanya bagi saya untuk menerima kertas-kertas selebaran itu. Selain saya memang tidak memerlukan apapun yang ditawarkan melalui brosur itu, yang ada kertas-kertas tadi malahan memenuhi si hitam, menambah sampah yang harus dibuang.

Lantas kenapa?

Kenapa kalau kertas-kertas itu memang tidak berguna buat saya? Kenapa kalau saya bahkan mungkin tidak membaca baris-baris tulisan yang tertera di sana?

Memangnya kenapa kalau tempat sampah kecil di dalam si hitam itu akan semakin cepat penuh?

Karena toh hal sepele yang saya lakukan – hanya menerima uluran kertas dan brosur – bermakna jauh lebih banyak dari itu, baik untuk si bapak, mas-mas pemuda, atau si mbak di perempatan lampu lalu lintas. Kalau saya memang tidak membutuhkan kertas-kertas itu, ya sudah tinggal dibuang saja.

Tapi hal sekecil itu telah membantu dan memberikan mereka ini kesempatan lebih besar untuk mendapatkan nafkah yang mereka cari, hanya karena saya melakukan apa yang saya lakukan.

Buat saya, apa yang mereka lakukan ini masih lebih patut dihargai, karena mereka berusaha melakukan sesuatu untuk mendapatkan nafkah. Bukan sekedar menghampiri orang lain, mengulurkan tangan yang tengadah ke atas, menanti ada yang langsung memberikan recehan ke atas tangan itu.

Lagipula, saya lebih tidak sanggup membayangkan jika ayah saya lah yang ada di posisi bapak tadi.

Atau jika saya lah yang ada di posisi mereka.

Apa yang akan mereka rasakan ketika tidak seorang pun yang bersedia membukakan kaca jendela kendaraan mereka hanya untuk menerima selebaran yang diulurkan?

15 Responses

on July 23rd, 2010 at 12:23 pm christin Says:

:( aku sedih

on July 23rd, 2010 at 1:38 pm ocha Says:

sedih bangeeetttt :cry:

on July 23rd, 2010 at 1:53 pm pinkina Says:

makanya aku sering membeli tape dipenjual tape yg dijembatan penyebrangan mbak daripada ngasih ke pengemis di depannya fyiuhhhh

on July 23rd, 2010 at 3:48 pm mawi wijna Says:

banyak orang yang berusaha untuk mencari sesuap nasi.

banyak perusahaan yang beriklan dengan media kertas.

banyak pengguna kendaraan yang memadati ruas jalan.

Karena semua serba banyak itu, mungkin, mereka berusaha mencari peluang…

on July 26th, 2010 at 2:33 pm yuyuk Says:

mbakkk…duhh, saya kayaknya pernah menolak ibu2 yang ngasih selebaran seperti itu..:(( jai merasa bersalah hiks

on July 28th, 2010 at 3:41 am didut Says:

inspiratif mbakdos :sigh:

on July 28th, 2010 at 9:43 pm warm Says:

tidak berarti bagi kita
tapi banyak arti bagi orang lain

bijak skali kau
:)

on July 29th, 2010 at 2:35 pm ayamcinta Says:

“Buat saya, apa yang mereka lakukan ini masih lebih patut dihargai, karena mereka berusaha melakukan sesuatu untuk mendapatkan nafkah. Bukan sekedar menghampiri orang lain, mengulurkan tangan yang tengadah ke atas, menanti ada yang langsung memberikan recehan ke atas tangan itu.”

100% setuju… Gw lebih menghargai orang yang mau berusaha daripada hanya meminta2..

on July 30th, 2010 at 8:54 am clingakclinguk Says:

saya pernah ditugaskan membagi-bagikan brosur seperti itu, disitu saya baru tahu itu bukanlah pekerjaan yang mudah, butuh kekuatan mental dan kesabaran, seringkali saat membagikan itu kita dicuekin sementara kita sdh berusaha tersenyum ramah setiap kali mengulurkan brosur itu, dan ya memang sedih rasanya saat sudah lama kita berusaha membagikannya, tapi masih tetap saja tersisa banyak di tangan kita

on July 31st, 2010 at 10:39 pm abahpahri Says:

sebuah pelajaran yg sangat berharga mba..
spele tapi bermakna besar

on August 4th, 2010 at 6:26 am ifulkkbombopetong Says:

beratttt…ini mi dikana tidak menolak rezki,,

on August 5th, 2010 at 1:51 pm AngelNdutz Says:

hmmmmm :(

on August 12th, 2010 at 9:39 am Laksmi Says:

So far perlakuan tidak pernah tidak pada mereka cuma berlaku buat orang tua, sama halnya seperti Mba, ngerasa sedih kalau yang ada diposisi itu orang tua kita.

Ternyata sekarang lain, makasih ya Mba sudah buka pola pikir saya untuk menerima selebaran, saya selalu menolak karena merasa tidak berguna. Sekarang ngerti gimana harus ngadepin mereka nanti :)

on August 12th, 2010 at 10:00 am elafiq Says:

Saya pernah hampir sama diposisi bapak, mas atau mbak itu.
Hal yang menyakitkan adalah saat selebaran itu diterima dan dibuang setelahnya, dan itu saya lihat. Miris memang.

on August 12th, 2010 at 10:06 am mas stein Says:

saya pernah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan bapak itu, belum terlalu lama mbak, mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu.

yang jelas ada rasa grogi sebelum mendekati sebuah mobil dan menawarkan selebaran, sudah gitu ada rasa sedikit terhina saat mereka menolak membuka kaca, seakan-akan saya ini peminta-minta.

ngomong-ngomong berdasarkan pengalaman kalo sopir yang mbawa mobil biasanya ndak mau mbuka kaca mobil, mungkin takut sama juragannya :D

Leave a Reply