Tio Pakusadewo atau Nicholas Saputra?

Jadilah kemarin saya melaksanakan niat untuk menonton The Last Airbender.. di hari pertama film itu ditayangkan di bioskop!
Saya sudah tertarik untuk menonton film ini sejak melihat trailer-nya dalam versi 3D sebelum film Despicable Me – yang waktu itu saya tonton – mulai diputar. Special effect dan ditambah lagi efek 3D benar-benar luar biasa, sampai-sampai membuat saya bertekad untuk segera menonton film itu segera setelah mulai ditayangkan.
Okay, saya tidak akan bercerita banyak tentang film ini.
Baris-baris tweet yang saya munculkan setelah menontonnya kemarin sudah cukup lah menggambarkan (kekecewaan saya) *eh, ini menjatuhkan motivasi teman-teman yang belum nonton ya?! ya sudah, abaikan saja.. anggap saja saya tidak pernah mengatakannya*
Oh, tidak. Saya tidak akan membeberkan isi filmnya, karena lebih menarik ketika mengetahui bahwa kekecewaan ini ternyata bukan hanya saya yang merasakan *dipecut*
Namun selain tentang jalan ceritanya, masih ada hal-hal lain yang juga memicu kekecewaan saya.
Pertama, saya menonton film versi 3D, tetapi kelihatannya saya memilih kursi yang terlalu ke atas, sehingga keempat sisi batas layar bioskop masih terlihat. Akibatnya, jelas efek 3Dnya kurang terasa. Mungkin malah tidak terlalu berbeda jika saya menonton versi 2D saja.
Kedua, si mbak dan mas yang duduk di kursi depan saya entahlah sedang sembari melakukan apa selama menonton. Kepala si mbak kerapkali bergerak ke kanan-kiri, bersandar ke bahu si mas di sampingnya, lalu tegak lagi, lalu menggarukkan punggung si mas, lalu tegak lagi. Lantaran torso saya tidak terlalu panjang, gerakan kepala si mbak pun menutupi bagian bawah layar di mana subtitle dimunculkan. Iya sih, yang lebih mengganggu sebenarnya adalah keingintahuan saya tentang apa yang sedang dilakukan oleh mereka berdua
Ketiga, saya membeli tiket sekitar satu jam sebelum film dimulai, khawatir kalau tidak kebagian. Setelahnya, saya berjalan-jalan mengelilingi pusat perbelanjaan, dan tanpa sadar waktu sudah menunjukkan lima menit sebelum film dimulai. Dengan langkah secepat kilat, saya kembali menuju ke area bioskop, bermaksud membeli popcorn dan minuman. Sialnya, lantaran antrian untuk membeli tiket dijadikan satu dengan membeli kudapan, dan orang yang mengantri sudah sangaaattt banyak, saya tidak sempat membawa kudapan apapun sebagai teman menonton.
Keempat, dan akibat tidak membawa kudapan adalah, tidak ada pengalih perhatian ketika saya mulai merasa bosan menonton filmnya *sigh*
Di antara hal-hal tidak menyenangkan itu, setidaknya satu hal yang bisa saya anggap sebagai hal menyenangkan. Auditorium tempat di mana saya menonton tidak dipadati pengunjung, bahkan cenderung kosong. Mungkin karena waktu penayangan yang saya pilih adalah waktu di mana para pengunjung belum pulang kantor *eh lho, berarti saya nontonnya jam..?!*
Barulah setelah saya usai menonton dan keluar dari auditorium, terlihat antrian pengunjung yang mengular panjang.
Sepanjang malam setelah menonton itu, saya tidak habis berpikir. Apakah memang The Last Airbender itu sungguh tidak bagus, sampai saya merasakan kekecewaan yang cukup besar? Toh kalau sudah ada resensinya, saya belum membaca satu pun di antaranya. Dan ya, belum ada komentar dari teman-teman juga.. secara memang baru hari itu pula film diputar.
Hal yang kurang-lebih sama juga terjadi saat saya menonton film sebelumnya, Sorcerer’s Apprentice. Yaa film yang ini masih lebih bisa dinikmati lah dibandingkan The Last Airbender. Tapi toh, saya juga merasakan ketidak-puasan setelah menontonnya.
Dalam rangka mengingat-ingat itu, sampailah saya pada ingatan tentang peristiwa menonton yang sebelumnya lagi.
Yang adalah Inception.
Just like everybody knows, Inception itu film yang.. lima jempol lah!
Selain tentang filmnya, kelihatannya situasi di mana saya menonton waktu itu juga bisa terbilang menyenangkan.
Okay, seperti biasanya, saya masuk ke area bioskop, berdiri di depan loket dan baru meneliti film apa saja yang sedang diputar hari itu. Pilihan jatuh pada Inception, sebagai salah satu film yang memang ada dalam daftar. Hanya tersisa beberapa kursi saja, tetapi saya tetap mendapat tempat di salah satu sisi karena – beruntungnya – saya menonton seorang diri. Setelah tiket di tangan, saya berbelok ke konter makanan kecil untuk membeli popcorn. Ah, FYI, saya mengantri di depan loket hanya 10 menit sebelum film mulai diputar.
Ngg.. malah terkesan tidak menyenangkan ya?!
Tapi buat saya ini justru sangat menyenangkan! Ketika acara menonton ini dilakukan tanpa perencanaan, tetapi akhirnya toh saya bisa sangat menikmati juga – belum lagi membahas filmnya yang.. lima jempol itu tadi.
Lantas, dengan pengalaman seperti ini, kemudian pada acara-acara menonton berikutnya saya berharap bahwa pengalaman berikutnya akan sama menyenangkannya dengan acara menonton Inception itu.
Mungkin tidak ada yang salah dengan The Last Airbender. Yaa kalaupun memang filmnya tidak terlalu bagus, ya mungkin tidak seburuk yang saya ceritakan.
Mungkin karena saya yang berharap terlalu tinggi, bahwa film itu akan sehebat Inception. Bahwa, setidaknya, situasi menontonnya pun akan menyenangkan.
Perbandingan yang menjadi tidak adil.
Bukan saja karena dua pengalaman menonton ini berbeda, tetapi filmnya pun demikian berbedanya sehingga memang tidak selayaknya diperbandingkan.
Ibarat membandingkan Tio Pakusadewo dan Nicholas Saputra *halah kenapa ini juga sih yang dibandingin? hahaha*
Bukan perbandingan yang apple-to-apple – istilah masa kininya.
Jadi ya sudahlah. Setidaknya kalau memberikan penilaian bagus atau tidak, ya memang karena bagus atau tidak, bukan karena dibandingkan dengan yang lain. Kalaupun bermaksud membandingkan, setidaknya bisa dipilih pembanding yang memang setara.
Tio Pakusadewo dan Alex Komang, misalnya.
*diguyur air keras*


10 Responses
Roy Marten! Roy Marten! *halah tetep*
gading martin! *eh..
Kayanya mending nonton serial animasinya di Nickleodeon ya Mbakdos?
bwahahahahah aku malah blm nntn last airblender sama soccer apprentis itu..
laen kali kalo filmnya ngebosenin, nyelusup aja ke ruang proyektor mbakyu, trs minta tolong puterin season-nya Criminal Minds, pasti mbak2 yg palanya ngalingin itu kabbur, semua kabur, beskop milik pribadi dehh.. kalo DEREKnya, tetep milikkyuuuu
*kabursebelumdisetrika*
Bener banget. The air lastbender lebih baik nonton versi kartunya.
Dan Inception ?? pokoke weekend ini harus nonton !!!
oalah ini toh maksud dari judul postingan di atas, ku kira mbakdos sedang gundah gulana mau pilih om Tio Pakusadewo atau dek Nicholas Saputra, hahaha…
Mbak poin no 2 dan 4 kayaknya prediktor ketidakpuasan terbesar deh selama menonton, dgn poin 4 sebesar 0.99999.. ahahahaha
Drg. Fadli gak masuk hitungan?
Belum nonton film ini. Selain karena belum ada review yang mengatakan film ini wajib ditonton juga karena saya belum ingin tidur di bioskop seperti biasanya
jadi akhirnya milih yang mana? Tio Pakusadewo apa.. Kiki Farrel..
Halah iki kok malah sama Kiki Farrel?
tetapi pengalaman memang Hollywood tidak pernah bagus memproduksi film yang diangkat dari anime