1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Merdeka di Kala Puasa

Beberapa malam lalu saya menonton juga acara di sebuah stasiun televisi yang berjudul Provocative Proactive, tak lain dipandu oleh si pemilik blog-album musik-sampai acara radio yang semua berjudul sama. Dan tentunya, namanya pun memang dikenal di penjuru dunia nyata maupun maya: Pandji Pragiwaksono.

To be honest, saya menonton memang karena menemukan tweet salah seorang teman yang menyatakan bahwa di acara tersebut akan tampil sesosok tokoh media di Indonesia, yang saya ‘kenal’ sebagai seorang bapak-bapak yang ndaghel (baca: @budionodarsono) *sungkem*. Nah, karena keberadaan beliau di acara itu lah yang mendorong saya untuk menghentikan acara menonton DVD konser Use Your Illusion milik Guns N’ Roses, dan memindahkan saluran televisi.

Di antara berbagai hal yang dibicarakan di acara tersebut, salah satu yang segera familiar di telinga saya adalah pembahasan mengenai – correct me if I’m wrong – (sebuah) organisasi masyarakat atau lebih dikenal dengan Ormas yang melakukan berbagai tindakan yang dinilai ‘tidak semestinya’ belakangan ini menjelang puasa.

Maaf mengecewakan kalian, karena saya bukan hendak membahas mengenai acara Provocative Proactive semalam, atau Raditya Dika yang tampak lebih menggemaskan tanpa kacamata, atau Bang Yos yang juga muncul kembali menjadi bintang tamu, atau JFlow yang tato di lengannya membuat liur menetes, atau Pak BDI yang tak hilang ciri khas ndaghel-nya, atau yang lain-lainnya (hlaahh.. katanya nggak bahas?! lha ini apaan barusan??)

Tapi lebih pada peristiwa yang memang belakangan ini sedang luar biasa menimbulkan reaksi pro-kontra bagi siapapun yang mendengarnya.

Sebagaimana yang kita tahu, entah sejak kapan persisnya masa menjelang bulan puasa buat sebagian dari kita sama artinya dengan masa mempersiapkan diri menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Yang asalnya – tak lain tak bukan – adalah dari Ormas yang memang sedang diperbincangkan di acara Provocative Proactive itu.

Kalau kita mau berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, Ormas yang sama juga sangat rajin melakukan tindakan yang kemudian dikenal dengan sweeping menjelang dan selama bulan puasa. Bermula dari tempat hiburan – yang dianggap mengganggu ibadah umat yang sedang berpuasa, dipaksa untuk menutup usahanya. Tempat hiburan yang seperti apa inilah yang kemudian menjadi rancu bagi banyak orang, karena mungkin akhirnya bukan saja tempat hiburan ‘malam’ tetapi bahkan kafe, tempat bilyar, atau tempat-tempat sejenis. Batasannya menjadi tidak jelas. Hanya sebutan berupa ‘tempat maksiat’ yang tampatnya menjadi pemagarnya.

Kadangkala, sweeping ini juga diwarnai dengan tindakan kekerasan. Tempat-tempat ini dirusak dan dihancurkan, hingga mungkin kita tidak bisa mengenali tempat itu sebagai tempat yang sama. Kemudian menjadi keresahan yang sangat masuk akal ketika beberapa orang yang kita kenal – atau bahkan kita sendiri – mulai bertanya-tanya apakah mereka akan kembali melakukan pengerusakan yang sama seperti yang sudah-sudah pada bulan puasa tahun ini. Kita toh belajar dari masa lalu, dari pengalaman kemarin, sehingga rasanya ini adalah kekhawatiran dan ketakutan yang logis. Apalagi setelah mendengar kabar bahwa di kawasan Depok, bukan saja tempat yang dianggap maksiat yang akan dipaksa untuk tutup, tetapi tempat yang dianggap mengganggu ketenangan di bulan puasa, di mana di antaranya adalah karaoke, kafe, atau.. rumah makan.

Lantas juga terdengar isu bahwa pihak Kepolisian dan Pemerintah Daerah justru akan mengajak Ormas ini untuk bekerjasama dalam ‘mengamankan’ bulan puasa. Entah benar atau tidak isu ini, entah apa pula maksud dari kalimat itu, tetapi hal ini jelas kemudian membuat kita yang mendengarnya pun urung diam saja.

Mengesampingkan Ormas ini dan segala tetek-bengek yang menyertainya, hal yang juga tak kalah membuat kita serta-merta menjadi reaktif adalah adanya pemblokiran terhadap berbagai situs internet. Beberapa situs internet – yang dinilai porno – tidak akan bisa lagi dibuka, lagi-lagi karena alasan bulan puasa. Yaa.. kalau kemudian penerapannya meleset ke mana-mana, sampai beberapa situs yang bukan porno pun ikutan terkena blokir, itu biarlah dilakukan pembahasan oleh para ahlinya.

Larangan untuk melakukan berbagai hal ini dan itu seolah-olah kemudian mulai bermunculan. Mulai dari tetap membuka tempat usaha – apapun bentuknya, membuka situs di internet, dan entahlah ada larangan apa lagi yang mungkin belum sampai ke telinga saya. Semua tampaknya mengatasnamakan menjaga kesucian di bulan puasa.

Semua katanya bertujuan untuk menjaga kekhusyukan ibadah, sehingga berbagai gangguan yang ada sudah semestinya disingkirkan.

Ah, saya tidak mau sok tahu membahas tentang ibadah, puasa, atau bahkan agama. Apalagi sok bijak sampai menasihati tentang mana yang benar dan mana yang salah.

But the thing I see is this way.

Kita semua pernah menjadi anak kecil, itu pasti. Walaupun ingatan dan kenangan tentang masa lalu itu hanya samar-samar untuk diingat. Namun setidaknya, ketika kita mengamati seorang anak kecil yang kebetulan ditemui di suatu tempat, entah sedang melakukan apa, sepersekian detik kemudian kita akan tersenyum sendiri dan berkomentar dalam hati di mana itu mengingatkan kita pada masa kecil kita kembali.

Termasuk saat melihat bagaimana orangtua yang melarang atau memarahi anak(-anak)nya.

Lalu membuka kembali kenangan kita, bukan saja tentang peristiwa di mana orangtua melontarkan pesan yang semuanya diawali dengan kata ‘jangan’: jangan begini, jangan begitu, jangan pegang ini, jangan pergi ke situ, dan jangan-jangan yang lain. Apa reaksi kita?

Menuruti? Ah, iya.

Tapi yang sesungguhnya hendak saya tanyakan adalah, apa yang terpikirkan dan dirasakan sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menuruti saja apa yang diperintahkan orangtua kita?

Rasa-rasanya tidak sedikit dari kita yang kemudian bertanya dalam hati, justru sebagai jawaban dari perintah orangtua itu, dengan pertanyaan, “Kenapa?”

Kadangkala – atau malah seringkali – kita tidak tahu alasan yang mendasari larangan yang diberikan kepada kita. Pesan yang kita terima hanyalah bahwa kita tidak boleh melakukan ini-itu-anu. Mungkin sebagian dari kita ada yang cukup berani mengajukan pertanyaan ‘kenapa’ itu tadi kepada orangtua kita, sedangkan sebagian lainnya lebih memilih untuk tetap bertanya-tanya sendiri dalam hati. Tetapi toh perilaku yang kemudian kita munculkan bisa sama: bisa menuruti atau tidak.

Sekali-dua kali-tiga kali kita mungkin masih bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya tentang alasan orangtua kita mengutarakan berbagai larangan itu. Melakukan saja tanpa harus bertanya. Tetapi sampai kapan? Karena toh kita berkembang dan perlahan-lahan usia kita pun semakin mendekati usia orangtua pada saat mereka mengutarakan larangan-larangan itu, sehingga menjadi wajar – sangat wajar – jika kita membutuhkan penjelasan yang lebih masuk akal yang mendasari mereka melarang kita. Menjadi sangat wajar ketika kemudian muncul pula kebutuhan kita untuk diajak berdiskusi oleh orangtua sebelum akhirnya larangan itu dikeluarkan.

Yah, mungkin buat kita yang pada akhirnya sudah menjalani peran sebagai orangtua akan jauh lebih paham tentang hal ini.

Ketika anak-anak kita bertanya, “Kenapa?” rasanya jawaban yang ingin dilontarkan adalah, “Udah, pokoknya nggak boleh!” Tapi kita kemudian teringat kembali ketika kita ada di posisi mereka, masih kecil dan orangtua kita melontarkan jawaban yang sama, apa yang kita rasakan kalau bukan kesal? Dan kita pun membatalkan niat untuk memberikan jawaban yang sama sebagaimana yang diberikan orangtua kita dulu.

Kita ternyata lebih bisa menerima larangan orangtua ketika mereka sudah memberitahukan alasan mengapa larangan itu diberikan kepada kita. Yaahh.. atau lebihnya, jika kita kemudian dilibatkan dalam diskusi mengenai larangan itu.

Memang menjadi riskan buat orangtua kita ketika memberikan ruang kepada anak-anak mereka (termasuk kita) untuk bertanya. Sisi baiknya adalah bahwa kita – sebagai seorang anak – akan memahami alasan itu, dan seterusnya akan melakukan apa yang diharapkan orangtua tanpa harus muncul kalimat perintah atau larangan lagi. Tetapi di sisi yang lain, selalu ada risiko bahwa kita tidak sependapat dengan mereka, di mana dampaknya bukannya kita mengikuti apa yang mereka harapkan, malahan kita akan ‘protes’.

Mungkin ini pulalah yang sedang terjadi belakangan ini, entah pada pemblokiran situs yang dianggap porno di internet, penutupan tempat-tempat yang dinilai menyebarkan maksiat, atau larangan-larangan lain, di mana ketika hal ini semua dilakukan kemudian menimbulkan pertanyaan berbagai pihak, “Kenapa?”

Memang, jauh lebih kecil risikonya ketika semua ini langsung diterapkan saja tanpa mempedulikan pertanyaan ‘kenapa’ itu tadi. Kita semua pada akhirnya harus menuruti berbagai larangan itu, mau tidak mau. Tidak akan ada risiko ‘protes’ jika kita ternyata tidak sependapat dengan alasan yang melatarbelakangi pemblokiran atau berbagai kegiatan sweeping itu. Biarlah itu menjadi pertanyaan kita sendiri-sendiri.

Tapi lagi-lagi, sampai kapan?

Bukankah kita – bahkan saat sebagai seorang anak kecil sekalipun – juga memiliki batas toleransi sampai kapan kita harus melakukan sesuatu tanpa kita tahu mengapa kita melakukannya?

Tidak perlu ‘kan menunggu sampai anak-anak kecil ini mengamuk, tantrum, dan malahan tidak peduli pada hukuman yang akan mereka terima jika mereka tidak melakukan apa yang diharuskan?!

Karena memang bukan begitu caranya.

Baik pihak yang mengeluarkan larangan maupun kita sebagai pihak yang menerimanya, semestinya sama-sama belajar untuk bisa menanggapi pendapat satu sama lain dengan lebih bijak. Pihak yang mengeluarkan larangan akan belajar bahwa kita tidak bodoh, tidak bisa terus-menerus dianggap tidak perlu tahu apapun, dan bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak. Sedangkan kita, juga harus belajar bahwa ada kondisi-kondisi di mana kita juga tidak bisa berbuat sekehendak hati, karena dampaknya bukan saja pada diri sendiri atau segelintir orang, tetapi jauh lebih banyak dari itu.

Risiko pasti dan akan selalu ada.

Tapi itu tidak terhindarkan. Yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapinya, dan bukannya melakukan berbagai hal lain dalam rangka menihilkan risiko itu. Yang ada, nantinya kita malahan sibuk mengurusi risikonya dan bukan tujuan utama yang hendak dicapai.

Lagipula, entah dari mana asalnya, tapi saya tetap yakin bahwa berlangsungnya HUT Kemerdekaan negara kita ini bersamaan dengan Bulan Ramadhan bukannya tanpa tujuan.

Di satu sisi, HUT Kemerdekaan RI menandakan kebebasan dan keleluasaan kita untuk menentukan nasib kita sendiri, tetapi di sisi lain, dalam Bulan Ramadhan ini kita juga tetap diingatkan bahwa kita toh tetap harus menahan diri dan mempertimbangkan keberadaan orang lain dalam kebebasan itu.

10 Responses

on August 15th, 2010 at 3:05 pm budiono Says:

*duduk bersila, menyimak*

on August 15th, 2010 at 4:04 pm Coemi2 Says:

well said.. :) Tapi emang rasanya gerah kalo membicarakan Ormas yg satu itu.. he..

on August 15th, 2010 at 4:23 pm peach Says:

Iya,suka main hakim sendiri..takut..
Tapi pemerintah juga tidak tegas dan konstan dg aturan, misal hanya saat mau puasa ada penertiban pengemis, lokalisasi ‘dihimbau ‘ mengurangi/tidak operasi

on August 15th, 2010 at 5:47 pm masova Says:

mirip postingan blogkuu.. tapi di sini lebih mendalam, lebih luas dan lebih detail… :-}

on August 16th, 2010 at 9:01 am ipungmbuh Says:

Ah kebebasan…
ngomong-ngomong tentang kebebasan, dan tanggung jawab.. apa kabar penerapan Pasal 12 ayat 1 huruf (a) UU Sisdiknas.

Sejatinya memang diri kita tidak terlalu suka diusik-usik atas kebebasan yang kita punya.

Hanya hati besar, toleransi dan empati yang mungkin bisa menjawabnya.

dan semoga itu bukan cuma takhayul belaka :)

tabik

on August 16th, 2010 at 12:44 pm Warm Says:

Merdeka bukan berarti bebas sebebas-bebasnya toh. Dan jikalau semua pihak dewasa dalam menyikapi satu objek dan masalah dan dilihat dari banyak sudut pandang, negeri ini akan terus tenteram saja tampaknya.

Oh ya, soal di depok itu, boleh juga baca postingan di http://www.mbelgedez.com sebelum berpikir kesana sini kemari :)

on August 16th, 2010 at 6:58 pm mawi wijna Says:

sebab mbak Dos, ormas Agama itu cuma kenal perintah Tuhan serta larangan Tuhan, dan apa yang mereka lakukan semata-mata karena ingin meniru Tuhan.

on August 29th, 2010 at 9:30 am didut Says:

mbak..apa orang-orang pemerintah itu tidak pernah diberi kajian prilaku masy Ind dari sisi psikologi ya terhadap kebijakan mereka :)

on August 30th, 2010 at 1:39 am ign Says:

bingung euy, lieur ! tulisannya terlalu panjang, atau sayanya yang lg suntuk?

on August 31st, 2010 at 9:19 am www.secangkirkopimu.blogspot.com Says:

yuhuuuuy….
puasa yang membebaskan

Leave a Reply