Perampok Inval
Sudah sebulan belakangan ini, berita tentang perampokan makin sering didengar. Mulai dari perampokan di bank CIMB Niaga Medan, toko-toko emas di kawasan Tebet Jakarta, BCA Dewi Sartika Jakarta, dan entahlah perampokan di mana lagi. Yang mengerikan, bukan saja jumlah pelakunya yang (sangat) banyak, tetapi para pelaku kali ini juga menggunakan senjata api, tidak tanggung-tanggung, berlaras panjang. Senjata yang seringkali kita lihat berada di genggaman petugas kepolisian.
Kasus perampokan yang terjadi di bulan Ramadan, alias bulan puasa, seingat saya bukan baru tahun ini terjadi. Di tahun-tahun sebelumnya juga sudah pernah terjadi. Hanya saja, memang kelihatannya semakin lama semakin meningkat intensitasnya, baik dari segi jumlah pelaku, senjata yang digunakan, maupun tempat sasaran perampokan yang risikonya semakin tinggi bagi pelakunya untuk tertangkap.
Saya kembali teringat pada rentetan peristiwa ini setelah beberapa hari lalu menonton tayangan infotainment (sembari mengistirahatkan DVD player yang kelelahan setelah berjam-jam digunakan). Pihak infotainment meminta pendapat sejumlah artis mengenai kasus perampokan tersebut. Yah, jawabannya beragam sih, dari yang memang masuk akal sampai yang.. ngg.. agak sulit digambarkan di mana hubungan antara pendapat mereka dengan perampokan itu.
Bagian yang menarik adalah ketika mereka diminta memberikan penjelasan, atau tepatnya menebak, apa yang menyebabkan para pelaku melakukan aksi perampokan. Bahasa keren-nya: motivasi.
Sebagian besar jawaban yang terlontar adalah bahwa para pelaku membutuhkan uang atau barang berharga lainnya untuk memberi makan keluarga mereka. Ada yang menggunakan istilah, “Kalau perut kenyang, maka hati tenang.” Semua itu dilakukan atas dasar pemenuhan kebutuhan fisiologis, yang adalah masalah perut.
Bahkan ada salah satu artis yang berkomentar, “Butuh duit? Kerja dong, usaha, jangan ngerampok! Kalo bukan kerja kantoran, kerja apa kek gitu.. bertani atau apalah, jangan cuma ngerampok!” Yang membuat saya jengkel mendengarnya. Sotoy bener nih artis, belum pernah ngerasain nggak punya duit kali ya, atau susah dapet kerjaan?!
Ah, sudahlah. Nanti saya makin jengkel kalau membahas artis yang satu itu.
Back to nature eh.. topic *ceritanya ngelawak buat diri sendiri, biar nggak jengkel*
Ketika kita bertanya-tanya tentang alasan yang menyebabkan para pelaku ini melakukan perampokan, jawaban yang paling mudah adalah semata-mata karena mereka membutuhkan uang untuk membeli makanan – sederhananya begitu. Kenapa sampai penjelasan ini terlontar? Ya karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa perut adalah kebutuhan mendasar yang harus-mau-tidak-mau dipenuhi. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan paling mendasar dari kita, manusia. Sehingga ya memang tidak bisa dibilang keliru ketika kita mendengar penjelasan semacam itu.
Tapi yang menarik adalah, kenapa perampokan semacam ini lebih marak terjadi di masa-masa menjelang Lebaran?
Padahal, kalau kita mau membicarakan persoalan uang dan kebutuhan makan, jelas tidak mungkin lah kebutuhan yang satu ini tiba-tiba meningkat di masa puasa. Toh pasti sama kebutuhannya, ukuran perut juga segitu-segitu saja. Kalaupun ukuran perut semakin membesar, mestinya sih tidak terlalu ekstrem perbedaannya.
Anggaplah ini bukan dikarenakan pemberitaan yang lebih marak dilakukan oleh media pada masa menjelang Lebaran, sehingga yang kita dengar adalah bahwa perampokan lebih sering terjadi di bulan puasa. Anggaplah bahwa tiap perampokan memang diberitakan, baik yang dilakukan di ‘hari biasa’ atau menjelang Lebaran, sehingga kita menemukan bahwa yang terjadi pada hari-hari menjelang Lebaran nyatanya memang lebih banyak.
Lantas, kenapa? Kenapa sih para pelaku ini melakukan perampokan, bahkan semakin nekat, di hari-hari menjelang Lebaran?
Menurut saya, ini bukan semata-mata urusan perut.
Coba kita ingat-ingat lagi, apa yang berbeda dari ‘hari-hari biasa’ dengan hari Lebaran? Selain memang ada ritual keagamaan lah pastinya.
Mudik! Oke, itu satu. Apa lagi?
Baju baru!
Uang di dalam amplop (untuk dibagikan kepada saudara-saudara yang masih kecil).
Makanan khas Lebaran (ketupat, opor ayam, sambel goreng, dan teman-teman sejenisnya).
Jadi, kembali lagi pada penjelasan mengenai alasan yang mendorong para pelaku untuk melakukan perampokan menjelang Lebaran. Apa iya ini urusan perut?!
Buat saya, ini lebih sesuai untuk disebut sebagai urusan gaya hidup.
Istilah gaya hidup tidak melulu diasosiasikan dengan high-end lifestyle, macam spa dan salon, club dan bar, perhiasan berkilau dan barang bermerk ternama. Mudik, baju baru, uang di dalam amplop, dan makanan khas Lebaran, juga bisa menjadi gaya hidup tersendiri. Gaya hidup yang akhirnya dinikmati bukan saja bagi mereka yang secara keyakinan memang merayakan Lebaran, tetapi juga yang tidak merayakan.
Hal-hal yang selama sebulan atau bahan setahun sebelumnya dinantikan dengan tidak sabar.
Ada ritual-ritual khas Lebaran yang memang lebih sreg jika dilakukan. Bisa saja sih tidak melakukan berbagai ritual itu, tetapi ‘rasanya’ pasti berbeda.
Untuk mudik, butuh biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika kita sudah memiliki keluarga sendiri, di mana biaya untuk mudik tentunya harus dikalikan dua atau tiga, minimal. Kalaupun tidak menggunakan angkutan umum seperti bus atau kereta api, menggunakan sepeda motor milik pribadi – misalnya – kita tetap butuh biaya bensin.
Ketika mudik, akan menjadi sangat tidak ‘sopan’ jika kita tidak membawa sesuatu untuk diberikan kepada saudara-saudara di kampung halaman. Termasuk uang dalam amplop tadi. Ini tentunya menambah biaya lagi.
Lebaran sendiri berarti memulai sesuatu yang baru karena kita sudah ‘dibersihkan’ (kalau tidak keliru), dan hal ini seringkali dilambangkan dengan baju baru. Paling tidak, mukena, sarung, peci, baju koko, atau semua perlengkapan ibadah yang baru. Yang nantinya bisa dibawa juga ketika mudik. Tambahan biaya? Iya.
Belum lagi makanan khas Lebaran, yang – seperti kita semua tahu – bahan-bahan mentah pembuatnya bisa dibeli dengan harga yang tidak murah.
Sudah bukan rahasia umum kalau harga-harga menjelang Lebaran semakin meningkat. Harga beras, yang adalah bahan dasar pembuat ketupat, antara ‘hari biasa’ dan menjelang Lebaran, jelas berbeda. Belum lagi cabai, ayam, sampai pakaian. Jangan lupakan juga tiket bus atau kereta api. Dan bukan saja berbeda dari ‘hari biasa’, biaya ini juga semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Yang pada akhirnya menjadi semakin sulit buat kita untuk tetap mempertahankan ritual Lebaran.
Jadi, salahkah tradisi Lebaran itu?
Ya jelas tidak.
Namanya juga tradisi, bagian mana yang bisa disalahkan?
Satu hal lain yang buat saya sebenarnya mengagumkan dari sesuatu bernama tradisi, adalah tidak pernah ada kewajiban bagi kita untuk mengikutinya. Sejauh ini saya belum menemukan bagian di mana kita diharuskan untuk selalu mengikuti suatu tradisi.
Kita melakukan sesuatu yang menjadi bagian dari suatu tradisi biasanya adalah karena memang sejak kecil dibiasakan oleh orangtua atau para sesepuh, atau kita pribadi memang menyadari pentingnya menjalani tradisi itu. Bukan karena ada kewajiban dari tradisi itu sendiri.
Seperti halnya sebuah pesta pernikahan adat Jawa, yang selama tiga atau empat hari dirayakan berturut-turut dengan ritual siraman, midodareni, akad nikah, panggih, dan resepsi. Kalau toh situasinya tidak memungkinkan pihak keluarga untuk melakukan rentetan ritual itu, apa iya lalu pernikahan tidak bisa dilangsungkan?!
Kalau iya, kasihan juga ya (calon) mantennya.. wis kadung kebelet padahal.
Hal yang kira-kira serupa juga bukan tidak mungkin diberlakukan untuk ritual Lebaran.
Kalau memang situasinya tidak memungkinkan, tidak ada yang memaksa kita untuk memasak ketupat dan opor ayam dan sambal goreng. Tidak ada juga bagian dari tradisi itu yang mengharuskan kita untuk mengenakan pakaian baru.
Bukan berarti hari itu tidak jadi hari Lebaran karena kita terpaksa tidak mudik ke kampung halaman, ‘kan?!
Anggaplah ini bentuk perayaan hari raya dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Rasanya seperti apa? Saya tahu persis kok.
Yaahh.. setidaknya situasi seperti itu tetap membuat saya sadar diri untuk tidak menjadi perampok inval yang hanya ‘bekerja’ menjelang hari-hari raya saja


7 Responses
merampok adalah profesi/pekerjaan, aku punya temen yg kerjanya itu. beraksi 3 bulan sekali dan kalo mau berangkat, rapi dan minta doa supaya lancar.
Tapi yang menarik adalah, kenapa perampokan semacam ini “LEBIH MARAK” terjadi di masa-masa menjelang Lebaran? >>ada datanya mba :p
“Konon kabarnya”, menjelang pemilu, pemilukada, hal-hal seperti ini juga marak. Jadi.. mengaitkan lebaran dengan perampokan, masih perlu diuji.
Jangan seperti “mr 68%” itu
cmiiaw
kecenderungannya terjadi di kota-kota besar, dimana godaan materi amat sangat dominan…
lek menurutku kok karena pas sebelum lebaran itu mayoritas masyarakat bawa uang banyak, buat memenuhi segala kebutuhan lebaran seperti yg ditulis diatas mbak. jadi kesempatan ini bisa dijadikan sasaran emfuk buat si rampok. *sori bahasaku ruwet mbak, B.Indo dulu her mulu* :p
Kegembiraan hari raya memang patut kita syukuri. Tapi, tentunya tidak dengan ‘menggarongi’ harta orang lain.
smoga soal waktu
itu hanyalah kebetulan
soal serba baru di lebaran,
saya nggak euy
[...] cewek, namanya mbak Dos (Shrivastava Agatha, bener ga ya tulisannya?-.-). Dia menulis tentang fenomena perampokan yang marak saat menjelang lebaran. Siapa yang membuat tradisi lebaran seperti ini sih? Apa Nabi Muhammad dulu juga berpakaian selalu [...]