Let Me Say I Love You
Entah sudah berapa puluh menit waktu dihabiskannya untuk terus saja berbicara. Bercerita tentang peristiwa yang kemarin baru saja menimpanya, kesialan dan kekesalan yang dirasakannya, lalu sejenak kemudian berpindah pada kisah yang membuatnya terbahak sendiri ketika mengungkapkannya kembali.
Ia memang tidak memberiku kesempatan untuk berbicara atau ia sendiri tidak sadar bahwa keasikannya bercerita benar-benar tidak memberikan jeda baginya sendiri untuk menarik napas, aku tidak tahu. Tapi aku toh tidak berkeberatan. Tidak pernah, seperti biasanya.
Melihat kerling matanya yang berpendar-pendar bak lampu-lampu jalanan pada malam hari, memberiku lebih dari sekedar alasan untuk tetap duduk diam di hadapannya.
Mengingatkanku pada kali pertama aku melihatnya. Kerling mata itu pula yang membuatku seketika jatuh hati padanya. Yang seolah mengajakku berbicara, tanpa bibirnya perlu mengutarakan sesuatu. Lalu membuatku menyerah pada pertahanan diri yang seketika tergoyahkan, aku menghampirinya terlebih dulu dan mengulurkan tangan untuk berkenalan.
Aku selalu bertanya-tanya, pun sampai saat ini, sihir apa yang ditanamkan Tuhan pada matanya, yang membuatku tidak pernah bisa menghindar darinya. Yang selalu saja memberiku alasan untuk tidak pernah menolak tawarannya untuk bersua. Kadang hanya untuk mendengarnya bercerita.. iya, seperti saat ini, aku duduk di hadapannya, lagi-lagi menatap matanya yang terus saja berpendar-pendar.
Rambutnya yang ikal rupanya sudah terlalu panjang, sampai-sampai menghalangi pandangannya dan membuatnya terus-menerus menyibakkannya. Yang tanpa sadar membuat jemariku ikut membantu menyingkirkan rambut yang mengganggu itu. Ia menangkap tanganku dan menciumnya.
Hhh.. kalau saja aku Tuhan, aku pasti sudah menghentikan detik di mana ia melakukannya. Agar aku tidak perlu merasakan saat di mana ia kemudian meletakkan tanganku kembali ke atas meja sebelum melanjutkan kembali ceritanya.
Dalam waktu sesingkat itu pula, aku kembali teringat pada kali pertama merasakan jemarinya terselip di antara jemariku. Dan sama seperti saat ini, aku juga ingin dunia berhenti saja bergerak.
Seperti saat-saat ia tiba-tiba merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Atau saat di mana kami hanya berbaring di atas rerumputan menatap langit berbintang dan merasakan kepalanya rebah di pundakku. Atau saat-saat aku seolah ingin mengakhiri hidupku dan ia tiba-tiba hadir mengulurkan tangannya untukku. Atau saat di mana aku mendengarkannya berbicara selama berjam-jam di telepon hingga pagi menjelang dan kami sadar bahwa kami belum terlelap sama sekali.
Atau saat di mana ia mengantarku sampai di depan pintu rumahku, memeluk dan mencium kedua pipiku sebelum kemudian beranjak pergi.
Aku sudah kehabisan alasan untuk tidak semakin jatuh hati padanya.
Sudah habis pula perbendaharaan perasaan yang bisa menjelaskan apa yang kurasakan saat sedang bersamanya seperti ini.
Orang lain akan mendeskripsikannya sebagai jatuh cinta.
Tapi aku akan menambahkannya dengan bertepuk sebelah tangan.
Sejak aku tahu bahwa semua yang dilakukannya padaku, semua hal yang membuatku jatuh hati padanya, tidak bermakna apa-apa baginya selain bahwa ia menganggapku sebagai teman terbaik yang pernah dipunyainya.
Ia tidak mungkin membalas perasaanku.
Karena hanya laki-laki lah yang bisa membuatnya jatuh hati.



10 Responses
aku cuma bisa berkata: Maju tak gentar! Rubah pola pikirnya, tak ada yg tak mungkin di dunia.
hedeh,
endingnya
kangen baca cerita bikinanmu yg seperti ini
so so long time..
Sama kayak komen si oom warm…
endingnya kerennnn….
love it
pujaan hatinya gay ya mbak?
Mbak agatha napsir indra brugman juga? Hihihi *dilemparcentong*
aku tau rasanya gimana mbak. true story or just a story?
aaaaw sweet. tapi endingnya ngagetin
hohohoho….fantastik
sabarr yahh mbak. terus doakan aja. kalo jodoh ga bakalan kemana
aku juga lagi rasain bertepuk sebelah tangan..
tawarin AC_DC mbak dos hahaay… cowo oke cewe oke gitu…. hahahha….