1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Apa yang Kamu Mau, Sayang?

Setelah sekian lama –bertahun-tahun, mungkin– menjalin hubungan dengan kekasih, atau suami/istri, kita bisa cukup yakin bahwa kita mengenalnya.

Tahu makanan kesukaan dan di mana bisa mendapatkannya.

Tahu tempat belanja yang digemarinya dan benda apa yang biasanya menjadi sasaran untuk dibawa pulang.

Tahu di mana ia senang menghabiskan waktu sepulang beraktivitas di akhir minggu.

Tahu kebiasaannya setiap kali hendak pergi ke suatu tempat.

Jelas sekali banyak hal yang kemudian kita ketahui tentang pasangan kita. Bukan saja menyenangkan buat kita, tapi juga buat pasangan.

Siapa yang tidak suka jika suatu hari pasangan datang menjemput dan sudah menyiapkan minuman kesukaan kita di tangannya?

Siapa yang tidak berbunga-buka ketika pasangan dengan sabar menunggu kita bersiap-siap dan merapikan ini-itu sebelum akhirnya benar-benar berangkat untuk pergi bersamanya?

Tentu saja, pasangan kita pun akan merasakan hal yang sama ketika ada di posisi yang sebaliknya. Ketika kita bisa melakukan berbagai hal yang kita tahu memang disukai oleh pasangan kita.

Karena kita yakin bahwa memang itulah yang mereka inginkan.

But, wait.

Setelah sekian lama menjadi pasangannya, setelah sekian banyak hal yang kita tahu tentangnya, masihkah kita tetap bertanya kepadanya tentang apa yang sebenarnya ia inginkan?

Or maybe.. we just take for granted, bahwa apa yang kita pikir diinginkannya adalah memang sesuatu yang ia inginkan?

Sadar atau tidak, itu terjadi.

Kadang kita terlalu yakin bahwa kita tahu betul apa yang diinginkannya, sampai kita lupa bahwa mungkin bukan itu yang ia harapkan. Bahwa bukan itulah yang sedang ia inginkan saat itu.

Walaupun mungkin respon yang diberikan oleh pasangan adalah bahwa ia menerimanya. Tapi siapa yang tahu kalau ia menerima karena ia merasa tidak enak pada kita? Karena ia menyayangi kita?

Jadi, kapan terakhir kali bertanya pada pasangan kita tentang apa yang sedang (benar-benar) diinginkannya?

 

*to you, who kindly reminds me patiently, thank you. thank you. :)

5 Responses

on September 5th, 2011 at 10:23 pm jensen99 Says:

Kapan terakhir? Yaa.. beberapa tahun lalu keknya, saat masih punya pasangan.. :mrgreen:

on September 6th, 2011 at 6:09 am koh Says:

wah saya sring mengalami pertanyaan terakhir tuh “Jadi, kapan terakhir kali bertanya pada pasangan kita tentang apa yang sedang (benar-benar) diinginkannya?” masalahnya sering gak mau dijawab pasangan krn nggak enakan jujur, kasih aah ke dia =D

on September 6th, 2011 at 11:51 am Jose Ivo Says:

bagus sekali,,,,,, ,,,, pertanyaan yang seringkali tak terpikirkan,,,, dan merupakan sesuatu yang jarang atau bahkan nyaris tidak pernah kita utarakan,,, sesuatu yang bagus dan perlu untuk memulai mengutarakannya,,,,,

on September 6th, 2011 at 12:38 pm wongiseng Says:

Selalu merasa tahu apa yang diinginkan pasangan, asumsinya pasangan tidak pernah berubah. Padahal dalam setahun saja orang bisa berubah, apalagi setelah bertahun-tahun :P

on September 7th, 2011 at 1:19 pm Cahya Says:

Saya tidak punya pasangan, jadi tidak pernah terpikir untuk menanyakan hal-hal seperti itu. Tapi kalau memberi pertimbangan pada teman, maka yang namanya menegaskan “kesungguhan” itu adalah sesuatu yang mutlak.

Leave a Reply