Blood For Life
Langit masih gelap saat saya mulai melajukan si hitam keluar dari garasi dan menyusuri jalan yang biasa dilalui setiap hari. Rasa kantuk yang tak tertahankan, mengingat pada jam yang sama di hari-hari lain saya biasanya masih bergelung di balik selimut. Bahkan setibanya di pelataran parkir kampus pun, mas penjaga parkir belum sempat membuka jaket sepeda motornya saat mulai mengoperasikan komputer dan menyerahkan karcis parkir kepada saya. Mas yang bertugas menyapu pelataran parkir pun belum terlihat batang hidungnya.
Beberapa menit setelahnya, sebuah mobil berhenti di depan gerbang kampus seperti yang dijanjikan. Saya masuk ke sana dan kami melaju ke studio salah satu stasiun televisi di kawasan Senayan.
Di studio stasiun televisi itulah saya dan Mbak Yoga menjadi bintang tamu untuk sebuah talkshow yang disiarkan secara langsung, di mana kami diminta bercerita tentang Blood For Life (BFL).
Maaf jika mengecewakan kalian, tapi saya tidak akan berbicara eh.. menuliskan tentang sejarah bagaimana BFL terbentuk di tahun 2009 lalu dan masih berdiri hingga saat ini. Mungkin kalian pun sudah terlalu sering mendengar hal itu dari berbagai media belakangan ini.
Tapi apa sih sebenarnya BFL itu?
Blood For Life adalah sebuah komunitas berbasis media sosial yang terbuka untuk siapapun, yang bertujuan untuk mempertemukan mereka yang membutuhkan donor darah dan mereka yang ingin mendonorkan darah. BFL meneruskan permintaan donor darah melalui akun-akun media sosial yang dimiliki, sehingga membuka informasi seluas-luasnya kepada banyak orang yang berniat mendonorkan darahnya. Sesederhana itu.
Tidak pernah ada istilah uang pendaftaran, iuran ini-itu, bahkan bentuk organisasi dan siapa yang menjabat apa. Siapapun yang berminat untuk bergabung, ya tinggal mendaftarkan diri ke mailing list.
Saya sendiri sudah tercatat sebagai anggota sejak pertama kali BFL didirikan. Lantaran memang mengenal Silly –si pendiri BFL– sebelum BFL itu bahkan belum terpikirkan untuk didirikan. Sebagai bentuk dukungan saya dan teman-teman lain terhadap Silly, kami pun terdaftar sebagai anggota BFL.
Sekian tahun tercatat sebagai anggota BFL –yang memalukan adalah– saya belum pernah sekalipun mendonorkan darah seumur hidup. Bahkan setelah menjadi anggota BFL, tidak ada yang berubah dari sejarah itu. Di saat saya berniat untuk mendonorkan darah beberapa saat lalu, kondisi saya sedang tidak memenuhi persyaratan.
Lantas, apa yang sudah pernah saya lakukan selama menjadi anggota BFL?
Yaa.. sekedar menyebarkan berita tentang permintaan donor darah. Itu pun hanya kadang-kadang. Saya bahkan nyaris tidak pernah muncul dalam interaksi di mailing list BFL. Membaca e-mail yang berdatangan, iya, hanya sebatas itu.
Kalau sekian tahun kemudian, setidaknya dalam satu bulan belakangan ini, tiba-tiba bak baru bangkit dari kubur ketidak-sadaran dan keacuhan, saya muncul kembali di BFL, saya sama sekali tidak pernah menduganya. Bukan saja aktif meneruskan permintaan donor darah atau ikut serta dalam keriaan *halah* di mailing list, tapi di saat masih setengah sadar itu, saya dimintai bantuan untuk bergabung dengan tim administrator akun-akun sosial media milik BFL.
Dan demikianlah, saya saat ini menjadi mbak admin dan beberapa kali *halah lebay! baru tiga kali kok* diminta menjadi representatif BFL dalam beberapa acara maupun ketika media sedang meliput.
Pertanyaannya, apa yang membuat saya tiba-tiba berbalik seperti ini?
. . .
Adalah tidak menyenangkan peristiwa yang melatarbelakangi semua itu. Rasa tidak menyenangkan yang sulit dilukiskan dengan apapun, ketika seseorang yang dekat dengan kita, dengan siapa kita biasa tertawa-tawa, bepergian keliling kota, saling meledek, tiba-tiba seolah tak berdaya. Sulit sekali kini menemukan senyuman di antara timbunan kerut di wajahnya yang sama sekali belum tua. Sudah tidak mungkin lagi kini mengajaknya berkeliling untuk memuaskan indera pengecapan dan rasa penasaran. Bukan lagi tawa, tapi keluhan dan desahan kesakitan yang lebih sering terdengar.
Dia yang seperti inilah yang kita temukan, berbulan-bulan.
Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya.
Dan menimbulkan rasa sakit juga pada kita.
It came to me suddenly.
Saya tidak ingat apa persisnya yang membuat saya kembali teringat pada BFL. Kembali menengok mailing list dan bukan sekedar e-mail yang secara otomatis masuk ke si Beybih. Mengikuti timeline BFL di twitter, dan mulai meneruskan permintaan donor itu di timeline saya.
Yang saya ingat, sebuah e-mail secara langsung dikirimkan oleh saya dari salah seorang mbak admin BFL dan meminta bantuan agar saya bersedia menjadi admin juga. Lalu ikut ‘menjaga’ stand donor darah BFL di acara Social Media Festival silam. Kemudian ikut rapat *halah rapat!* ini-itu.
Semua terjadi begitu saja, bertubi-tubi, sebelum saya bahkan sempat mencerna apa yang terjadi.
Belakangan, saya berusaha menjawab pertanyaan teman-teman dan diri sendiri. Pertanyaan tadi, apa yang membuat saya kembali.
Ketika saya tidak mampu memberikan bantuan apapun kepada orang yang dekat dengan saya, dorongan tak tertahankan untuk membantu itu tetap ‘harus’ tersalurkan. Dan BFL-lah yang secara tidak sadar saya pilih sebagai tempat penyaluran ‘bantuan’.
Saya mungkin tidak bisa membantunya, tetapi banyak sekali orang di luar sana –yang saya kenal maupun tidak– yang tidak kurang membutuhkan bantuan. Kepada mereka lah saya bisa memberikan bantuan apapun yang bisa saya berikan.
Dan tampaknya, saya bukanlah contoh yang baik dalam hal ini.
Tidak semestinya orang yang dekat dengan kita mengalami hal yang tidak menyenangkan terlebih dulu untuk kemudian kita sadar bahwa ada banyak sekali orang lain di luar sana yang juga mengalami hal tidak menyenangkan, dan membutuhkan bantuan kita.
Tidak semestinya orang terdekat kita mengalami hal tidak menyenangkan untuk kemudian kita benar-benar melakukan sesuatu secara nyata.
Cukup dengan membayangkan bagaimana rasanya jika –catat, jika– orang yang dekat dengan kita sedang membutuhkan bantuan orang lain dan bantuan itu tidak ada. Demikian pulalah yang dirasakan banyak orang di luar sana yang membutuhkan bantuan tetapi tidak ada yang mengulurkan tangan.
Teman-teman lain yang tergabung maupun yang belum dalam BFL lebih patut dicontoh. Ada yang membuatkan website-nya, membuatkan perlengkapan publikasi, maupun menyediakan tempat pertemuan. Bahkan ada juga yang sedang membuatkan aplikasi BFL di Blackberry, Android, dan iPhone. Entah berapa banyak bantuan lagi yang sudah mereka berikan, bukan untuk BFL, tetapi untuk membantu banyak orang lain yang membutuhkan.
Dan apa yang dilakukan teman-teman ini, for free!
Pernahkah terbayang bahwa membantu orang lain -yang tidak kita kenal sekalipun- bisa demikian luar biasanya?


7 Responses
haduh mbak admin… abis masuk tipi…bakal ikut ngetob nih bentar lagi….
Impresif
Mbak admin yang ngirim e-mail ke mbakDos siapa ya namanya? Hahahahahaha….
Senang bisa kenal mbakDos. Suatu kebanggaan bagi saya bisa bekerja sama dengan mbakDos.
Terima kasih banyak untuk bantuannya ya
*peluk kenceng*
Oh ya satu lagi.
Mohon ijin share link tulisan di blog ini ke milis. Boleh kah?
Kabari saya ya Jeng?
aku tergolong baru ikutan milis BFL *lalu digetok mba Dian!* .. ngerasain gmn ikut deg2annya saat ada yang membutuhkan darah tapi goldarnya agak sulit dicari.. atau rasa haru saat udah terpenuhi.. dan ternyata memang masih banyak orang-orang baik diluar sana
*terharu sangat dengan adanya BFL*
mbakdos, udah ngomong cinta, lagu, sekarang donor darah
langsung catat diriku sebagai member
siap membantu…
ba sy dr cirebon. sy mau dong jd pendonor,mungkin tuk saudara sy yg di cirebon bs hubungi sy di no 082126308879 mudah mudahan darah sy bs berguna.dan tuk menambah saudara.sy tunggu kabarnya