Karena Handphone Setitik
“Do you watch over your spouse’s mobile phone?”
Demikin twit yang saya tuliskan, yang diawali dengan tema #SurveiSore -eufimisme dari #Kepo *eh* di hari Jumat lalu.
Tak lama, muncullah beberapa respon atas pertanyaan itu. Baik melalui twitter, maupun jalur yang lebih pribadi: pesan singkat. Baik yang bernada serius dan menjelaskan secara ilmiah maupun yang memaki-maki sambil tertawa lantaran merasa tersindir.
Padahal toh sama sekali tidak berniat menyindir.
Salahkan kolaborasi kemacetan dan hujan di Jumat sore, kopi tanpa gula yang saya teguk bukannya makanan untuk mengobati kelaparan, dan -ya, apalagi?- membaca timeline twitter.
Nggak ada hubungannya ya antara konteks ini dan pertanyaan tadi?
Ah, anywaaaayyy.. Dari sejumlah respon yang ditemukan, semakin meyakinkan saya bahwa mengawasi handphone pasangan adalah hal yang normal alias wajar dilakukan.
Tolong dicatat ya, disebut ‘normal’ karena ternyata cukup banyak yang mengalaminya. Mungkin kalian juga salah satunya.
Berpasangan (baca: menikah atau berpacaran) dengan seseorang memberikan keistimewaan kepada kita berkaitan dengan hal-hal dalam diri si pasangan kita ini. Banyak priviledge yang kita peroleh, yang sulit diperoleh jika kita bukan pasangannya. Meneleponnya beberapa kali dalam sehari, mengirim pesan singkat yang kurang penting, meminta ditemani ke sana-sini, dan sebagainya-dan sebagainya.
Batasan antara kita dan pasangan pun semakin lama semakin menipis. Mulai banyak hal-hal pribadi yang tidak diketahui oleh orang lain, tapi kita tahu tentangnya, begitu pula sebaliknya. Kita mulai (secara sukarela *halah*) membiarkan pasangan kita tahu tentang diri kita, demikian juga sebaliknya.
Tidak saja melakukan banyak kegiatan bersama pasangan, tetapi juga mulai berbagi barang-barang pribadi. Barang-barang yang tadinya -sebelum menikah atau berpacaran dengannya- adalah barang yang tidak boleh dipegang oleh orang lain.
Dan handphone adalah salah satunya.
Wajar saja jika kita meminta bantuan pasangan untuk melihat ke layar handphone kita yang sedang berdering dan menyebutkan siapa yang menghubungi. Wajar juga rasanya meminta bantuannya untuk mengetikkan pesan singkat yang harus segera kita kirimkan kepada seseorang dan di saat yang sama kedua tangan kita sedang disibukkan oleh hal yang tak kalah pentingnya. Hal-hal yang mungkin kita lakukan juga jika pasangan kita memintanya.
Hal yang wajar dilakukan sebagai pasangan.
Toh kita memang sudah membuka diri kepadanya, tidak ada lagi hal yang dirahasiakan, dia tahu dengan siapa saja kita berteman, dan seterusnya-dan seterusnya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan juga jika ia mengetahui siapa yang menelepon kita atau mengetahui isi pesan singkat yang kita kirimkan.
Trustworthiness is speaking.
Yang menarik, kalau memang sudah saling mempercayai, kok tetap muncul niatan untuk (secara diam-diam) membuka handphone pasangan kita dan memeriksanya?
Iya, memeriksa.
Mendaftar siapa yang menelepon atau ditelepon oleh pasangan kita, membaca pesan-pesan singkat yang diterima atau dikirimkan olehnya, lalu berusaha mengingat siapakah mereka-mereka ini. Tidak jarang kita kemudian bertanya-tanya ketika menemukan nama baru di handphone-nya, yang tidak pernah diceritakannya kepada kita.
Semua dilakukan secara diam-diam, bahkan tanpa seijinnya.
Ijin? Masih harus minta ijin, gitu?
Nah, ini dia bagian menarik yang kedua!
Kita berasumsi dan meyakini bahwa pasangan kita akan baik-baik saja jika kita membuka handphone-nya tanpa perlu meminta ijin darinya. Dia tidak akan marah, begitulah perkiraan kita. Atau sebenarnya harapan kita.
Kemudian kita mulai menyusun alasan untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa dia tidak akan marah karena memang semestinya kita dan pasangan saling terbuka. Semestinya tidak ada lagi yang disembunyikan, sehingga justru patut dicurigai jika dia marah karena kita membuka handphone-nya.
Membuka handphone pasangan memang menyangkut rasa percaya atau keterbukaan atau kejujuran atau apapun itu. Bahwa kalau pasangan kita tidak marah karena kita membuka handphone-nya, berarti dia terbuka dan jujur pada kita, dan kita bisa mempercayainya. Bagaimana dengan usaha kita untuk membuka-buka handphone secara sembunyi-sembunyi? Bukankah itu berarti kita yang tidak percaya pada pasangan kita?
Tapi, mungkin kita lupa, bahwa handphone juga adalah berkaitan dengan privacy seseorang. Sama halnya dengan dompet. Bahwa ketika handphone milik seseorang itu kita buka (tanpa ijin), sama artinya dengan mengusik sesuatu yang sifatnya personal.
Yang kita sering lupa, bahwa sekalipun sudah berpasangan, kita tetap membutuhkan ruang personal itu. Bukan berarti karena sudah berpasangan, lantas segala hal sekecil apapun dari pasangan, kita harus terlibat secara aktif di dalamnya.
Yaaa.. silakan saja membayangkan bagaimana rasanya jika kita sedang ingin bertemu dan bergosip dengan teman-teman kita tentang mereka yang dulu pernah kita gebet *halah*, lalu pasangan kita kekeuh ingin hadir dan menemani kita di ‘pertemuan’ itu.
Atau dia meminta live report saat kita sedang mengikuti kursus Bahasa Inggris, ada siapa saja di sana, pengajarnya seperti apa, materi dan tugas apa yang diberikan, dan seterusnya-dan seterusnya.
Atau diam-diam membuka-buka handphone kita?
Pada akhirnya, kalau pasangan kita memang ingin terbuka kepada kita, dia akan melakukannya tanpa perlu pemaksaan kok. Tanpa kita perlu sembunyi-sembunyi membuka handphone-nya untuk mencari tahu dengan siapa belakangan ini pasangan kita tertawa-tawa sendiri ketika berbalas pesan singkat, dia akan menceritakannya. Kalau toh dia tidak bercerita, belum tentu di antara mereka ‘ada apa-apa’, bisa jadi memang karena tidak ada apa-apa yang berkesan sehingga tidak perlu diceritakan juga kepada kita.
Pasir saja bisa tetap ada di kedua tangan kita ketika kita menyatukan keduanya membentuk mangkuk, ketika tetap ada ruang kosong di sana.
Apa yang akan terjadi jika kita justru menggenggam erat-erat pasir itu dan tidak menyisakan ruang kosong?
Apa yang akan terjadi dengan pasangan kita? Atau hubungan kita?


11 Responses
maaaannnttaaapp kaaaakkk…
me love it…
hp still our own privacy…period!!!
Sy punya teman yg berprinsip hp adalah ruang privat seseorg. Dia tidak mau ngintip hp pasangannya begitu juga sebaliknya. Oleh krn itu dia bisa bebas ber-sms mesra dgn TTM-nya….
Privasi adalah privasi, kalau tidak diizinkan lebih dulu saya tidak akan melihat, lha, memang mau lihat punya siapa, pasangan saja ndak ada
.
ehmmm….
kadang sih…
dan terbesit juga apa saya ngelanggar privasi yah… secara kan kita dah saling percaya
Postingannya menarik banget mbak
, saya juga beranggapan kalau hp, dompet, email, dan akun2 socmed itu termasuk area privat dan kalau ga ada ijin ya jgn dibuka. Saya juga males kalo barang2 pribadi saya dibuka2. Yang ada, pasangan malah ngasi tau password2 email dan socmed tapi tetep saya merasa harus minta ijin kalau mau buka dan ngintip isinya. Disatu sisi dia juga merasa dihargai dan saya ga melanggar batas privasinya
kalo masih pacaran sih kayaknya ndak pantes deh ngawasi pasangan via henpon, kalo udah menikah nah baru…
meskipun saya tahu password imel2 dan fb suami saya, hp juga geletakan, dompet juga, tapi saya terlalu malas untuk “memeriksa” tuh barang2 hahahaha
) kayak gak ada kerjaan lain aja…
) itu menurut saya lho mbak Dos
Saya suka memeriksa handphone istri saya, mungkin karena kadang-kadang saya berharap dia punya rahasia ^_^ (habis sepertinya dia selalu membagi semua hal pada saya)
hehehehhe,,saya tmasuk yg suka buka2 hp pacar ney,,pdhal kalau uda dkasih paling cm diliat2in bentar..yang paling sering buat ganti2 wallpaper..hehehehe
nice post!
wiiih, keren.. jadi kepikiran juga soal handphone ini. *lirik bb pacar*
)