Sampai Jumpa, Mbak
Saya tidak akan pernah melupakan peristiwa di mana saya sedang berdiri di tengah lapangan basket bersama beberapa orang teman, berseragam putih-putih dan mengenakan topi. Matahari sudah tidak lagi menyengat dengan teriknya, tapi toh peluh tak urung bercucuran di pelipis, tetap tidak bisa dihapus juga lantaran kedua tangan harus tetap tegak di samping badan.
Paskibra. Pasukan pengibar bendera.
Tidak pernah terbayang bahwa saya akan ada di barisan calon anggota paskibra sekolah, entah apa yang ada di kepala saya saat itu. Mungkin sekedar ikut-ikutan teman-teman, tak lebih.
Tapi justru karena berada di barisan itulah, saya kemudian mengenal sosok ini, salah seorang kakak kelas yang melatih paskibra. Tidak seperti kakak-kakak kelas lain yang terkesan galak saat melatih, ia justru sangat baik pada kami. Ketika kami melakukan kesalahan, tegurannya tidak berupa bentakan, melainkan langsung memberitahu apa yang seharusnya dilakukan.
Belakangan, terdengar kabar (burung) bahwa sikap baiknya dalam melatih itu hanya ditujukan kepada saya. Karena ia tahu saya adalah adik dari kangmas, yang adalah kekasihnya.
Dan segera setelah itulah, ia menjadi musuh besar saya.
Saya merasa kesal sekali setiap bertemu dengannya, tidak pernah membalas sapaannya saat berpapasan, bahkan saya pun berhenti dari kegiatan paskibra. Beberapa teman sempat bertanya-tanya, mengapa sikap saya demikian acuh padanya, padahal ia adalah kekasih kangmas. Sikapnya juga baik-baik saja memang pada saya, sehingga semestinya tidak ada alasan saya harus membencinya.
Satu-satunya alasan adalah hanya karena saya merasa ia telah merebut kangmas dari saya.
Tahun demi tahun berlalu, dan ia masih tetap menjadi kekasih kangmas. Beberapa sahabat kangmas semasa sekolah dulu -yang kebetulan saya kenal juga- sempat melontarkan dugaan bahwa mereka akan menikah. Iya, kangmas dan kekasihnya itu, sudah diramalkan akan menikah.
Reaksi saya..?
Bisa ditebak, dong?!
Saya semakin tidak menyukainya. Jika sampai pernikahan itu benar terjadi, artinya kangmas akan direbut dari saya selama-lamanya. Jelas, saya tidak rela.
Lucunya, sekalipun tidak menyetujui, saya toh tidak pernah sungguh-sungguh berusaha menyabotase hubungan mereka berdua. Padahal toh bukannya tidak bisa. Bahkan sampai saat saya menulis ini pun, saya benar-benar tidak berhasil mengingat tindakan keji apa yang pernah saya lakukan untuk memisahkan mereka berdua.
Karena pada akhirnya, kenyataan yang tidak menyenangkan yang harus saya akui, adalah bahwa tidak ada hal buruk yang pernah dilakukannya pada saya. Atau kangmas. Dan ketika menyadari bahwa betapa kangmas sangat mencintainya, saya semakin kehabisan alasan untuk memisahkan mereka.
Ia dan kangmas pun sungguh-sungguh menikah, setelah entah berapa belas tahun berpacaran.
Kehadirannya secara resmi pun ternyata membawa dampak yang luar biasa bagi keluarga kami.
Ia (dan kangmas) seringkali mengajak kami bepergian bersama-sama untuk sekedar makan malam, berbelanja, atau melakukan apapun. Bahkan kadang mereka datang ke rumah kami hanya dengan mengenakan piyama, untuk sekedar menumpang makan, menonton televisi, mengobrol, lalu kembali pulang ke rumah mereka. Ia juga yang mulai menggalakkan tradisi bertukar kado di hari Natal di keluarga kami, padahal ia dan kangmas tidak merayakannya.
Ia yang bisa dengan semena-mena meledek ayah dan tetap membuat ayah tertawa terbahak-bahak.
Ia juga yang membuat ibu luar biasa senang, karena pada akhirnya ada yang mewarisi bakat memasak ibu. Ia belajar memasak pada ibu, membeli perlengkapan dan bahan makanan bersama ibu, dan bahkan sudah memulai usaha makanannya sendiri.
Dengan kehadiran Calya, putri semata wayang mereka yang saat ini berusia dua-setengah tahun, lengkaplah sudah mereka sekeluarga adalah tiga orang yang selalu kami nantikan untuk bertemu.
Sampai kemarin, saat ia akhirnya menyerah melawan kanker yang menyerangnya.
Dan ia masih menjadi seseorang yang berhasil membuat seluruh keluarga besar kami -keluarga besarnya dan keluarga besar kangmas- berkumpul.
Banyak cerita di balik penyakit yang setahun belakangan ini dideritanya. Perjuangannya selama masa operasi dan kemoterapi yang entah sudah berapa kali dilakukan. Juga kangmas yang dengan kesabaran yang luar biasa selalu ada di sampingnya. Dan Calya, yang setia menemani tanpa menangis.
Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan di sini. Karena saya -dan kami- ingin mengenangnya dan seluruh kehidupannya dengan indah. Seindah hidup yang telah diberikannya kepada kami, di usia yang masih 32 tahun.
Seperti yang ibu katakan kemarin, “Ini akan jadi hadiah paling indah yang pernah aku terima di hari ulang tahunku.”
Iya, ia pergi di hari ulang tahun ibu.


10 Responses
Mudah2an skrg dia di surga, dan orang2 yg ditinggalkan tabah.
Masih 32 tahun? Duh… turut berduka, jeung…
Kanker apa kl boleh tahu?
Dia sudah berusaha yg terbaik dan meninggalkan kenangan yg indah…
Turut berduka yah Mbak
“Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua”. Aku jd tersadar, umur memang sebentar, hal baik harus banyak disebar.
Saya tebak, walau bagaimanapun sakitnya, beliau pasti tidak pernah mengeluh akan sakitnya.
Saya jadi teringat Alm. Bapak
turut berduka cita,semoga mbak nya mendapat tempat trbaik disisi Nya,dan keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan iman
turut berduka, dan yakinlah bahwa beliau mendapatkan tempat yang istimewa di sisi-Nya. amin
Touchy. Ikut berduka, Mbak. God bless her.
menyentuh sekali mbak..
semoga beliau lebih tenang dan bahagia disana..
begitu juga yang ditinggalkan beliau disini..
salam kenal mbakDos..
tabah ya mba.may her RIP
[...] penyebab hilangnya antusiasme saya dalam menyambut Natal tahun ini adalah karena tidak adanya lagi Mbak Santi untuk ikut merayakan bersama kami. Setelah beberapa tahun belakangan, ia lah yang selalu membuat [...]