1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Murid dan Guru Seperti Apakah Kita?

Selamat merayakan Hari Guru Nasional!

Pagi ini ucapan selamat berhasil membuka hari saya dengan senyuman. Karena hari ini, 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Lantas, apa yang membuat saya ‘harus’ tersenyum? Tak lain tak bukan karena ucapan selamat itu pun ditujukan buat saya, yang menyandang profesi sebagai seorang guru (baca: dosen).

Kemudian hari ini pun bertebaran cerita tentang guru. Guru yang paling disukai dan diingat semasa sekolah dulu, pengalaman-pengalaman menarik bersama para guru, dan sebagainya-dan sebagainya. Membuat saya juga ikut kembali memutar adegan-adegan di masa lalu.

Bagian di mana saya kemudian tersenyum-senyum sendiri adalah saat mengingat peristiwa saya berdebat, bahkan bertengkar dengan beberapa guru (dan dosen) yang pernah mengajar saya. Itu di titik ekstremnya. Kalaupun tidak sampai terjadi perdebatan secara terbuka, ada saja keluhan-keluhan tak tersampaikan tentang mereka.

Yang galak lah, yang tidak pernah memberikan jawaban ketika ditanya, yang pelit nilai, yang genit, yaahh.. ada saja bahan yang membuat saya (dan teman-teman) mempergunjingkan mereka. Ada hal-hal yang membuat saya tidak menyukai mereka.

Hayoo ngaku!

Di antara berbagai puja-puji yang kalian lontarkan hari ini kepada para guru, tidak mungkin tidak teringat pada hal-hal menyebalkan itu, ‘kan?! :mrgreen:

Saya cukup beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk merasakan dua sisi yang berbeda, merasakan dua sudut pandang yang berbeda: sebagai murid dan sebagai guru.

Yang membuat saya menyadari bahwa saya (dulu) memang murid yang kurang ajar, tidak jarang membantah, sok tahu, yang saya tahu persis beberapa guru/dosen tidak menyukai saya. Masalahnya hanya satu sebenarnya, karena saya memiliki harapan tertentu tentang seorang pengajar yang ternyata tidak ditemukan pada diri mereka.

Ketika saya berharap guru saya adalah seseorang yang bisa selalu memaklumi kenakalan murid-muridnya, yang ditemukan justru yang galaknya luar biasa. Saya berharap guru saya teliti dalam memeriksa tugas, ternyata mereka orang yang berantakan. Saya berharap guru saya bisa memberikan contoh, mereka malahan bertindak sebaliknya.

Yang ketika saya lah yang berada di posisi mereka, hanya dengan mengingat-ingat kembali perasaan-perasaan saya terhadap para guru itu, membuat saya tertohok sendiri.

Bagaimana jika mahasiswa-mahasiswa saya sekarang seperti saya semasa menjadi murid dulu? Bagaimana jika saya menjadi guru seperti mereka yang tidak saya sukai dulu?

Dan seketika saya merasa simpati, bukan sekedar empati, pada apa yang mereka rasakan saat berdebat dengan saya. Betapa menyakitkannya mendapat komentar sinis, diperbincangan ‘di belakang’, atau mungkin diboikot para mahasiswa *halah lebaysulebay*

Padahal, sebagai murid, kita toh mungkin tidak pernah menyampaikan apa yang kita harapkan dari guru-guru kita. Lalu apa hak kita untuk berharap bahwa mereka bisa mengerti?

Sebagai guru, kita mungkin juga tidak pernah bertanya apa yang mereka harapkan dari kita. Lalu kita terus-menerus meratapi dan bertanya-tanya sendiri mengapa para murid begitu membenci kita.

Dua-duanya frustrasi, dua-duanya tidak tahu harus melakukan apa. Hanya karena dua-duanya merasa sebagai pihak yang paling benar, di mana pihak yang lain lah yang harus mengikuti ;-)

Apa kabarnya dunia pendidikan kita kalau yang seperti ini yang terus terjadi? Apa kabarnya masa depan kita?

Selamat Hari Guru Nasional! :)

2 Responses

on November 26th, 2011 at 11:05 am warm Says:

komunikasi sama sama guru kurang bagus, karena saya ga bisa berkomunikasi dgn baik*mbulet
sampe di otak saya terpikir kalau guru itu bikin segan, bahkan untuk ditanya hal apapun, jadinya lebih banyak diem di kelas, pasif sama sekali

soal yg saya kesel dari guru, pernah begitu jujur saat SMP, komen atas tulisan tangan saya, kata beliau “Kok tulisanmu kayak cakar ayam ya?”
Ya ya kejujuran kadang menyakitkan :mrgreen:

Ah iya, met hari guru, smoga tetap menjadi guru yg baik dan menjadi idola para murid :D

on January 3rd, 2012 at 10:47 am Solo Life Says:

Mau guru baik dan tidak baik, guru yang mengajar enak dan tidak enak. Guru tetaplah guru, semuanya tetap merasuk dihati. Bukan tanpa tanda jasa, jasanya besar. Terimakasih semua guruku.

Leave a Reply