1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Belajar Berjalan

Seorang anak kecil kira-kira berusia satu tahun, mengenakan rok bermotif bunga dan rambutnya yang pendek, berhasil mencuri perhatian saya dari si Gufi –notebook tersayang. Anak ini, bersama seorang perempuan yang tampaknya adalah ibunya, dan seorang perempuan lain yang lebih muda –mungkin tantenya, menempati meja di sudut. Tepat di seberang meja saya.

Tidak ada yang demikian istimewa darinya, atau mereka, awalnya. Percakapan, perilaku, tidak ada yang berhasil mengalihkan mata saya dari layar si Gufi.

Sampai si tante menurunkan gendongannya dan membiarkan kedua kaki mungil si anak kecil menyentuh lantai. Anak ini mulai berjalan. Setapak di kaki kiri, setapak di kaki kanan, dan kedua tangan memegang erat tangan tantenya. Wajahnya tampak takut sekaligus gembira pada saat yang bersamaan.

Beberapa kali tubuhnya bergoyang seperti hendak jatuh, tapi toh ia tetap melanjutkan langkahnya. Ke sana-kemari tak tentu arah. Ia bahkan sempat mendekat ke meja saya sambil tertawa-tawa. Lalu kembali lagi berjalan tertatih-tatih ke meja tempat ibunya berada.

Perlahan, si tante melepas tangannya dari genggaman si anak kecil. Terkejut dan takut sepintas tampak di wajah anak kecil itu, tangannya pun berusaha menggapai-gapai tangan si tante. Tak juga mendapat uluran tangan, ia berusaha meraih meja terdekat, yang letaknya ternyata terlalu jauh dari tangannya. Kaki-kaki kecilnya bergetar. Perlahan ia berusaha mengubah posisi tubuhnya agar dapat berjongkok, tetapi belum juga posisinya sempurna, si tante mengangkat tubuhnya hingga kembali berdiri. Lalu melepaskannya lagi.

Begitu berulang kali, setiap ia bermaksud jongkok atau duduk atau merangkak. Tante ataupun ibunya tidak memberinya kesempatan, ia tetap dipaksa berdiri. Mereka terus memberi semangat kepada si anak kecil untuk melangkahkan kaki dan berjalan.

Dengan kakinya yang gemetar, ia pun mengangkat kaki kanannya lalu meletakkannya cepat-cepat ke depan. Lalu kaki kirinya. Selangkah, dua langkah, sampai akhirnya tangannya berhasil meraih tangan si tante. Senyuman mengembang lebar di wajahnya menyambut tawa dan tangan si tante yang mengangkat tubuhnya.

Setelah ia kemudian kembali menapakkan kaki ke lantai, ia lah yang berusaha melepaskan tangan si tante.

Ia ingin berjalan sendiri.

Ah, ya.. belajar berjalan.

Pasti sudah menduga ya ke mana arah cerita ini ;-)

Buat saya pribadi, berjalan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari satu kali lalu kita menjadi mahir. Sekalipun sudah bisa berjalan tegak dengan kedua kaki, kita masih harus belajar berbelok. Sudah lancar berjalan lurus atau berliku, kita masih harus belajar untuk berhenti. Belum lagi belajar untuk kembali berdiri saat kaki kita tersandung lalu terjatuh.

Mudah-mudahan kita tidak akan lupa bahwa kemampuan kita berjalan semakin terasah, kita semakin mahir menaklukkan berbagai rintangan yang menghalangi –dari sekedar kerikil sampai batu yang luar biasa besarnya– karena setiap hari kita berjalan, kita menemui berbagai hambatan, sampai kita terbiasa.

Tapi toh kita terus berjalan, ‘kan?!

 


`gambar aseli dipinjam dari gettyimages

2 Responses

on December 23rd, 2011 at 8:01 pm Dudukbersila Blog Archive Belajar Berjalan | Ayo Semangat!!! Says:

[...] si anak kecil menyentuh lantai. Anak ini mulai berjalan. Setapak di kaki kiri, Baca Selengkapnya: http://dudukbersila.com/2011/12/23/belajar-berjalan/ [...]

on December 27th, 2011 at 11:54 pm mas Dos Diosas Says:

sangat menarik sekali..
bahkan otak saya ketika membaca artikel ini sudah sampai di merauke,,
nice thread..

Leave a Reply