Ucapan Selamat Natal
Merayakan Natal kah?
Atau.. mengirimkan ucapan selamat Natal?
Atau keduanya, mungkin? *salaman* *halah*
Berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya, Natal tahun ini sebenarnya tidak membuat saya demikian bersemangat untuk menyambutnya. Selain berburu kado-kado Natal untuk seluruh anggota keluarga -yang luar biasa banyaknya!- tampaknya tidak ada yang benar-benar saya nantikan di hari Natal ini.
Termasuk mempersiapkan ucapan Natal yang akan disampaikan kepada seluruh keluarga, kerabat, teman-teman, rekan kerja, siapapun yang saya kenal.
Yang biasanya sudah saya susun jauh-jauh hari *halah lebay*, bahkan kadang membuat beberapa versi, tidak demikian halnya dengan tahun ini. Saya sungguh sedang kehilangan ide tentang ucapan seperti apa yang mesti saya kirimkan tahun ini.
Mungkin -hanya mungkin- salah satu penyebab hilangnya antusiasme saya dalam menyambut Natal tahun ini adalah karena tidak adanya lagi Mbak Santi untuk ikut merayakan bersama kami. Setelah beberapa tahun belakangan, ia lah yang selalu membuat perayaan Natal kami menjadi luar biasa. Sekalipun ia tidak merayakan Natal.
Kembali ke soal ucapan Natal, dengan ucapan yang benar-benar seadanya -mungkin kalian sudah menerimanya- ternyata respon yang diberikan oleh mereka yang mendapat ucapan itu justru di luar dugaan.
Dengan tema ‘seadanya’ itu, mereka (dan mungkin kalian) justru menangkap kejujuran saya, betapa saya sungguh sedang tidak punya kata-kata mutiara untuk mengucapkan Selamat Natal. Selain niatan bahwa saya memang ingin memberikan ucapan Selamat Natal.
Di saat saling berbalas ucapan ini, hal yang cukup menarik saya temukan dari berbagai komentar sejumlah teman berkaitan dengan ucapan Selamat Natal yang mereka terima.
Ada yang mengomentari ucapan yang ‘sekedar’ berupa template yang sama yang tidak hanya dikirimkan kepada mereka tetapi juga kepada banyak orang lainnya. Ada yang berkomentar betapa ucapan Natal yang mereka terima kurang personal, karena hanya dikirimkan melalui broadcast message BBM. Ada yang mengomentari ucapan yang diberikan secara massal melalui media sosial. Ada juga yang berkomentar tentang ucapan Natal yang terasa lebih bermakna ketika diberikan oleh mereka yang tidak merayakan Natal.
Hey, c’mon!
Ini ‘kan Natal. Masih perlu kah membahas sesuatu yang tidak sebanding maknanya dibandingkan makna Natal itu sendiri?
Mempersoalkan ucapan Natal?
Bukankah dengan adanya Selamat Natal yang kita terima, mereka memang berniat memberikan ucapan itu kepada kita? Mereka menghargai kita merayakan sesuatu, dan ikut berbahagia dengan hal itu?
Untuk apa dipermasalahkan menjadi lebih panjang lagi?
*eh lha trus saya ngapain ya mempermasalahkan mereka yang mempermasalahkan ucapan Natal?*
*halah belibet sendiri*
SELAMAT NATAL!


7 Responses
merry christmas & happy new year..
Di era serba instan ini, serba salah juga soal mengucapkan selamat hari raya. nggak kirim sms/bbm dikira nggak peduli, kirim ucapan secara massal diprotes karena nggak personal. Apa kembali aja ke jaman kirim kartu ya?
Merry christmas and happy holiday, mbakdos
Selamat Natal Mba Dos. Mohon Maaf lahir batin ya.
selamat natal, mbk dos. tulisan2 mbk dos selalu memberi inspirasi buat saya.
met tahun baru mbak dos ^_^
*telat komen
selamatan deh