Twitter Memang Satu, Kita yang Tak Sama
Nasib Sabtu malam tanpa kencan dengan Kakang, jadilah saya menghabiskan waktu dengan menonton film Up dan Iron Man 2 di televisi. Sambil sesekali menilik timeline twitter. *sedih* *halah*
Dan seperti biasa, memasuki prime time-nya, selalu saja ada peristiwa menarik yang terbaca di sana. Seperti yang pernah disebutkan oleh seseorang –saya lupa siapa persisnya, pada prime time-nya, isi timeline twitter hanya dua: galau dan twitwar (pertengkaran antar akun twitter).
*Bener juga sih!*
Malam ini, kelihatannya tebakan (atau analisa) itu kembali terbukti. Mungkin belum sampai mengarah pada pertengkaran terbuka antar akun –setidaknya demikianlah yang terakhir saya amati– tapi cukup memanas juga isi twit-twit yang bertebaran di timeline saya.
Bermula dari beberapa orang yang sedang merayakan kegembiraan luar biasa karena bisa menyaksikan sekelompok perempuan-perempuan manis dan lucu alias girlband asal Jepang yang berbenderakan AKB48 yang (beberapa personelnya) sedang tampil di salah satu pusat keramaian di Jakarta. Bersama mereka juga tampil JKT48, versi Indonesia dari AKB48. Karena penampilan mereka inilah, beberapa jam lalu timeline twitter saya diramaikan oleh livetweet konser yang sedang berlangsung. Dan kelihatannya cukup banyak (teman-teman) yang sedang menontonnya, hingga nyaris bersamaan isi twit mereka-mereka ini ya tak lain tak bukan tentang konser yang sedang dilangsungkan.
Lantas muncul dugaan dan komentar –entah dari siapa– bahwa para penonton yang livetweet ini memang dibayar untuk datang ke konser dan menyiarkannya kepada penjuru twitter melalui twit-twit mereka.
Twit berbayar, istilahnya.
Saya bisa memahami kekesalan teman-teman yang menonton konser karena ‘dituduh’ seperti itu. Terlebih karena mereka mungkin menonton dan dengan semangatnya livetweet karena mereka memang sebenar-benar dan sesungguh-sungguhnya menyukai AKB48 (dan/atau JKT48). Tidak ada bayaran sama sekali yang mereka terima, selain kegembiraan karena bisa ikut menonton.
Tapi saya juga bisa mengerti kekesalan si pemberi komentar –yang saya juga tidak tahu siapa dia (mereka) lantaran timeline-nya (mereka) tiba-tiba dipenuhi cerita tentang konser itu.
Dan sangat bisa dipahami mengapa twit-twit konser AKB48 itu serta-merta diduga sebagai twit berbayar.
Pertama, jangankan twit, komentar yang positif mengenai suatu hal yang kita utarakan secara terus-terang saja tidak terlalu sering kita temukan jika dibandingkan dengan komentar negatifnya. Ketika menemukan tempat makan yang enak, produk perawatan diri yang memuaskan, atau apapun yang sifatnya menyenangkan, frekuensi kita untuk menyebarkan hal-hal ini kepada banyak orang tampaknya tidak terlalu banyak. Tentunya, jika dibandingkan dengan hal yang sebaliknya. Keluhan tentang sinyal dari provider telekomunikasi meluncur deras, memaki-maki, membiarkan seluruh dunia tahu. Tapi ketika sinyalnya sedang prima, tidak ada komentar yang kita berikan. Kita tidak segan-segan menyebut merk yang produknya mengecewakan kita, tapi cenderung diam jika ada yang memuaskan.
Kita sudah terlalu banyak dicekoki dengan informasi-informasi negatif mengenai produk atau barang atau merk tertentu.
Lalu di antara serbuan yang seperti ini, muncul komentar-komentar positif yang bahkan menyebutkan produk atau barang atau merk atau apapun itu tanpa ada lagi anonimitasnya. Apa ya yang kira-kira ada di benak mereka yang mengikuti komentar itu?
Kedua, tidak sedikit dari kita yang berperan sebagai buzzer, yang memang mempromosikan suatu produk tertentu. Singkat kata, kita menuliskan twit-twit yang positif tentang suatu produk atau barang atau merk tertentu sebagai bagian dari promosi yang diminta. Ya, twit berbayar itu tadi. Dan beberapa teman atau orang lain sudah mengetahui hal itu.
Lalu, sama seperti yang kita lakukan saat buzzing tentang sesuatu hal, kita juga memunculkan twit-twit positif tentang hal yang lain. Apa ya yang kira-kira akan dipikirkan oleh mereka yang mengikuti timeline kita?
Oh, tidak. Saya sama sekali tidak berniat membenarkan atau mempersalahkan siapa-siapa.
Ada masanya saya cukup laris mendapat tawaran untuk menjadi buzzer berbagai produk. Mulai dari produk otomotif, perawatan kecantikan, tempat tinggal eksklusif, provider telekomunikasi, rokok, bahkan –yang terakhir muncul di hadapan saya– telepon pintar. Tapi satu-persatu teman-teman yang menawarkan mulai mundur dan tidak pernah lagi datang untuk meminta saya menjadi buzzer, karena mereka tahu bahwa pasti akan bertepuk sebelah tangan. Kalau toh masih ada sejumlah tawaran yang datang, biasanya karena mereka adalah ‘orang baru’ yang belum tahu saja. Atau memang kekeuh-surekeuh.
Beberapa teman yang penasaran pun akhirnya mempertanyakan keputusan saya.
Jawabannya sederhana saja. Mereka yang mengikuti (follow) saya adalah mereka yang memang berniat mengikuti karena ‘saya’, karena twit-twit saya, bahkan tidak sedikit di antaranya yang memang saya kenal sebagai teman-teman di dunia nyata. Saya tidak ingin mereka ini menjadi sasaran untuk ‘berjualan’.
Hanya soal prinsip saja.
Dan setelah cukup banyak teman-teman pengikut *halah* saya yang memahami prinsip ini, mereka tahu betul bahwa twit yang saya lontarkan mengenai produk atau apapun itu bukan bagian dari tugas saya sebagai buzzer. Tapi ya karena memang demikian adanya.
Yaa.. seperti televisi Sony Bravia tipe EX72 yang berhasil memunculkan twit-twit histeris saya kemarin karena berbagai kebisaan sebagai sebuah televisi berinternet. Dibayarkah?
Twit saya beberapa waktu lalu tentang pensil alis bermerk Viva, yang sangat legendaris itu? Dibayar juga kah?
Atau twit tentang toko kue Tous Les Jours –yang entah bagaimana membacanya– di Senayan City? Dibayar?
Dulu memang pernah ada masanya saya mungkin sama seperti mereka-mereka yang malam ini berkomentar tentang ‘twit berbayar’-nya AKB48. Kesal dan jengkel dan mulai berkomentar nyinyir tentang twit-twit –yang saya tahu– memang berbayar. Tak lain karena telah membanjiri timeline dengan hal-hal yang yaaahhh.. begitulah.
Perlahan saya mulai belajar untuk bisa memahami mereka yang memutuskan untuk menjadi buzzer. Sebagaimana mungkin mereka juga masih berusaha menerima di akal sehat mereka mengenai alasan saya menolak tawaran-tawaran itu.
Saya tidak lagi (mau) berkomentar apa-apa tentang twit-twit teman-teman buzzer. Biarlah mereka melakukan pekerjaan dan tugas mereka. Setidaknya saya jadi bisa mulai memilah informasi-informasi teman-teman sebagai buzzer dan bukan sebagai buzzer. Toh mereka juga tidak pernah merusuhi saya dengan pertanyaan mengapa saya tidak mau menjadi buzzer.
Jika mau disimpulkan, cuma satu.
Kita menganut prinsip yang berbeda.
Seperti halnya kita menyukai satu genre musik atau film, tidak ada yang bisa membenarkan atau menyalahkan genre yang manapun. Atau menilai bahwa genre yang satu lebih daripada yang lain.
Yang tidak ada gunanya diperdebatkan mana yang paling benar.
Karena memang tidak ada. Bukankah?
*lanjut ngemut kwaci mickey mouse*
*lah emang masih ada?!*


4 Responses
berarti membaca twitter itu juga butuh kesehatan mental ya mbakdos? biar tidak mudah tersulut atau terpancing?
*mendingan wafer superman yang sudah berubah jadi wafer superstar*
(bukan iklan)
loh iron man 2, udah masuk tipi toh? ditipi mana? kalo tipinya panasonic bukan sony ngaruh ndak?
*menghela nafas panjang*
kesimpulan saya
kau masih punya sikap ttg sesuatu
dan itu bagus
*komen macam apa ini ck ck*
Membaca tulisan mbados setelah sekian lama absen memang selalu menyenangkan. Sungguh bangga punya teman berprinsip dan sungguhlah seorang penulis handal
PS: Ayo disempetin ngupi2 yuuuuk…