Tuesday, February 16th, 2010
Beberapa hari lalu, santer tersiar kabar mengenai empat orang siswa SMUN 4 Tanjungpinang yang dikeluarkan dari sekolah – atau dikembalikan kepada orangtua mereka, dalam bahasa yang lebih halus – lantaran keempat siswa ini diketahui menghina guru mereka melalui status Facebook.
Ibu guru yang mengajar keterampilan ini dinilai memberikan tugas yang terlalu berat kepada murid-muridnya. Salah seorang di antaranya merasa kesal dan melampiaskannya dengan menuliskan status di Facebook. Ketiga teman lain juga ikut menanggapi status tersebut. Mereka melakukan hal ini karena yakin bahwa ibu guru tidak terlalu paham dengan situs jejaring sosial semacam Facebook.
Sayang betul, status ini diketahui oleh ibu guru dan dianggap menghinanya. Akibatnya, keempat siswa ini kemudian diputuskan untuk dikeluarkan, setelah Kepala Sekolah mengadakan rapat dengan majelis guru dan Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang.
Orangtua mereka sudah meminta maaf kepada guru yang bersangkutan maupun kepada pihak sekolah. Meminta agar anak-anak mereka tidak dikeluarkan. Lalu ketika pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa permohonan mereka tidak dikabulkan, mereka kecewa luar biasa. Sedih, stres, dan sebagainya.
Buntutnya pun panjang.
Yang mungkin tidak pernah terpikirkan saat keempat orang ini hanya bermaksud melontarkan kekesalan mereka kepada ibu guru yang memberikan tugas.
Mereka kesal. Lalu mengungkapkannya melalui status di Facebook. Titik.
Tapi toh ternyata akibatnya melebar ke mana-mana.
Saturday, February 13th, 2010

Saya tidak akan menambah daftar hasil pada mesin pencarian semacam Google, Bing, atau bahkan Yahoo!Search atas kata kunci ‘RPM Konten’. Saya juga tidak bermaksud menambah panjang daftar artikel yang menyuarakan sikap terhadap rencana peluncuran ‘Peratuan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Konten Multimedia’.
Sudah cukup lah rasanya itu semua bisa ditemukan melalui tulisan Paman Tyo, Rampok, dan entahlah berapa banyak artikel lagi dengan pengungkapan yang beragam. Bahkan Bang Enda juga sudah membuat Facebook Group-nya. Semua memiliki tujuan yang sama: menolak peraturan itu untuk diresmikan.
Jika ada yang bertanya pada saya, jawaban saya serupa.
Friday, February 12th, 2010
Bukan.
Ini bukan tentang kisah percintaan melodramatis yang pernah saya alami yang hendak diceritakan di sini. Bukan, kok.
Tapi sebagai bukti kecintaan saya kepada para penggemar *cis! penggemar nyang maneee??* yang entah sudah sejak kapan meminta saya membuat sebuah tulisan mengenai menulis itu sendiri.
Gak diinggg!! *tulung jauhkan talenan itu dari tangan kalian yaaa.. apalagi sampai dilempar!*
Selain atas permintaan, memang saya bermaksud membuat tulisan tentang kecintaan saya pada menulis itu kok. Tentang kehidupan saya di dunia tulis-menulis yang sudah dimulai sejak sangat dini – katakanlah, ketika saya masih berseragam putih-merah – yang mungkin bisa berguna juga buat teman-teman yang hendak mulai menulis.
Belajar menulis, sebutlah begitu.
Sebagai suatu hal yang sampai sekarang tidak pernah berhenti saya lakukan.
Okay then, mari kita mulai.