1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Ada Apa dengan Rendy?

Saya melenggangkan kaki menuju sebuah salon yang terletak di sudut lantai pusat perbelanjaan ini. Sehabis menikmati masakan Jepang sebagai menu makan siang kali ini, tiba-tiba saja terpikirkan untuk memotong sedikit rambut yang panjangnya sudah mulai tidak karuan.

Dan di saat yang sama, muncullah bayangan wajah si Pendekar Matahari di dalam kepala saya. Dengan bibirnya yang manyun ia akan mengatakan, “Potong aja sana!”

Memang sudah beberapa kali saya memberitahu mengenai rencana untuk memotong rambut. Meminta ijin, lebih tepatnya. Dan percakapan mengenai hal ini pasti akan diakhiri karena dia kemudian ngambek. Lebih parahnya, dia bisa bertahan untuk melakukan hal itu sepanjang hari. Lalu saya akan disibukkan dengan usaha untuk memperbaiki situasi dengan membujuknya, sampai saya lupa niat untuk mengunjungi salon dan memotong rambut.

Geez… it’s a very nice trick of him, don’t you think?!

“Mmm… aku beneran mau potong rambut nih… Ya?!”

“Seberapa?” tanyanya, dingin.

“Dikit aja kok… Cuma mau ngerapiin bagian bawahnya, udah griwis-griwis nih…”

“Bener ya?! Ngerapiin aja??”

“Iyaa…”

Telepon pun ditutup setelah akhirnya ijin didapat. Tentu dengan janji bahwa saya akan melapor padanya segera seusai aktivitas di salon usai. Dia bahkan bermaksud menemui saya sendiri untuk melihat hasil potongan rambut yang dimaksudkan.

Head Over Heels

Let me hold you
I need to have you near me
And I feel with you in my arms
This love will last forever

Sunshine Made for Love

Saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya bangun pagi. Benar-benar pagi, saat matahari bahkan belum menampakkan tanda-tanda akan terbit.

Sekitar seminggu lalu, saat saya harus menghadiri ujian jam delapan, memang saya harus bangun pagi. Mempersiapkan kembali perlengkapan perang, materi presentasi, serta tak lupa menyempatkan diri untuk duduk di sofa ruang tengah untuk sarapan. Tapi saat saya membuka mata kala itu pun, gordijn yang menutupi jendela kamar sudah membiaskan terang sinar matahari, walau sedikit. Dan Ibu sudah sibuk dengan peralatan masaknya di dapur.

Tapi pagi ini, saya sudah terbangun bahkan sesaat sebelum Bapak Satpam komplek memukulkan tongkatnya pada tiang listrik depan rumah kami untuk memberitahukan saatnya sholat subuh.

Semalam saya lelah sekali. Akibat berkendara nyaris sepanjang hari bersama si hitam dan menempuh kemacetan ibukota yang rasanya sudah sangat lama tidak saya jumpai. Belum lagi karena harus mengunjungi beberapa tempat, menenteng barang dan berjalan kaki. Perjalanan pulang menjadi sesuatu yang sangat saya nantikan seharian itu. Agar kemudian saya bisa duduk berselonjor di atas sofa sambil menonton televisi dan menikmati cemilan.

Tapi nyatanya, setiba di rumah saya malahan nyaris tidak punya tenaga untuk duduk. Yang ada, saya justru langsung membaringkan diri di atas tempat tidur yang terletak di kamar tamu, bukan di kamar saya sendiri. Jelas, karena tempat tidurnya lebih besar daripada yang ada di kamar saya, sehingga memungkinkan saya merentangkan seluruh anggota tubuh selebar-lebarnya. Berguling-gulingan ke sana-kemari dan berganti posisi sesuka hati. Kamar tamu selalu menjadi idola saya di saat seperti ini.

Siyalnya, tiba-tiba saya teringat bahwa masih ada tugas yang harus dikerjakan malam ini juga.