Tuesday, November 29th, 2011
untuk pesan singkat yang secara langsung muncul di layar si Beybih sejak dini hari tadi,
untuk mention dan direct message di twitter maupun pesan di wall facebook -yang sampai sekarang masih belum selesai dibalas satu-persatu,
untuk guntingan kertas membentuk huruf yang diletakkan di atas over-head projector dan dipantulkan ke whiteboard di depan kelas,

Friday, November 25th, 2011
Selamat merayakan Hari Guru Nasional!
Pagi ini ucapan selamat berhasil membuka hari saya dengan senyuman. Karena hari ini, 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional.
Lantas, apa yang membuat saya ‘harus’ tersenyum? Tak lain tak bukan karena ucapan selamat itu pun ditujukan buat saya, yang menyandang profesi sebagai seorang guru (baca: dosen).
Kemudian hari ini pun bertebaran cerita tentang guru. Guru yang paling disukai dan diingat semasa sekolah dulu, pengalaman-pengalaman menarik bersama para guru, dan sebagainya-dan sebagainya. Membuat saya juga ikut kembali memutar adegan-adegan di masa lalu.
Bagian di mana saya kemudian tersenyum-senyum sendiri adalah saat mengingat peristiwa saya berdebat, bahkan bertengkar dengan beberapa guru (dan dosen) yang pernah mengajar saya. Itu di titik ekstremnya. Kalaupun tidak sampai terjadi perdebatan secara terbuka, ada saja keluhan-keluhan tak tersampaikan tentang mereka.
Yang galak lah, yang tidak pernah memberikan jawaban ketika ditanya, yang pelit nilai, yang genit, yaahh.. ada saja bahan yang membuat saya (dan teman-teman) mempergunjingkan mereka. Ada hal-hal yang membuat saya tidak menyukai mereka.
Hayoo ngaku!
Di antara berbagai puja-puji yang kalian lontarkan hari ini kepada para guru, tidak mungkin tidak teringat pada hal-hal menyebalkan itu, ‘kan?!
Saturday, November 12th, 2011
Saya tidak akan pernah melupakan peristiwa di mana saya sedang berdiri di tengah lapangan basket bersama beberapa orang teman, berseragam putih-putih dan mengenakan topi. Matahari sudah tidak lagi menyengat dengan teriknya, tapi toh peluh tak urung bercucuran di pelipis, tetap tidak bisa dihapus juga lantaran kedua tangan harus tetap tegak di samping badan.
Paskibra. Pasukan pengibar bendera.
Tidak pernah terbayang bahwa saya akan ada di barisan calon anggota paskibra sekolah, entah apa yang ada di kepala saya saat itu. Mungkin sekedar ikut-ikutan teman-teman, tak lebih.
Tapi justru karena berada di barisan itulah, saya kemudian mengenal sosok ini, salah seorang kakak kelas yang melatih paskibra. Tidak seperti kakak-kakak kelas lain yang terkesan galak saat melatih, ia justru sangat baik pada kami. Ketika kami melakukan kesalahan, tegurannya tidak berupa bentakan, melainkan langsung memberitahu apa yang seharusnya dilakukan.
Belakangan, terdengar kabar (burung) bahwa sikap baiknya dalam melatih itu hanya ditujukan kepada saya. Karena ia tahu saya adalah adik dari kangmas, yang adalah kekasihnya.
Dan segera setelah itulah, ia menjadi musuh besar saya.
Saya merasa kesal sekali setiap bertemu dengannya, tidak pernah membalas sapaannya saat berpapasan, bahkan saya pun berhenti dari kegiatan paskibra. Beberapa teman sempat bertanya-tanya, mengapa sikap saya demikian acuh padanya, padahal ia adalah kekasih kangmas. Sikapnya juga baik-baik saja memang pada saya, sehingga semestinya tidak ada alasan saya harus membencinya.
Satu-satunya alasan adalah hanya karena saya merasa ia telah merebut kangmas dari saya.