1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Tak Pernah Sepele Buat Mereka

Usianya mungkin sudah lima-puluh tahun, atau mungkin lebih. Rambut di kepala yang menyembul dari bagian bawah topinya tampak berwarna putih. Kacamata dengan model jaman dulu teronggok di bagian atas hidungnya. Pakaian yang dikenakannya terkesan bersih dan rapi – tentu bukan rapi khas orang kantoran. Dan kerut di wajah, semakin tidak bisa menyembunyikan waktu yang sudah dilewatinya.

Namun, saya menemukannya berdiri di pembatas Jalan Casablanca di pagi hari dalam perjalanan dari rumah menuju kampus tempat saya mengajar. Tangan kirinya menggenggam berlembar-lembar kertas berukuran kecil, sedangkan tangan yang lain mengulurkan kertas-kertas tersebut satu-persatu ke arah kaca jendela kendaraan roda empat yang berjalan lambat di sampingnya. Berharap para pengendara yang memang sedang terjebak kemacetan itu berbaik hati membuka kaca dan menerima uluran kertasnya.

Beberapa di antara pengendara itu membuka kaca kendaraan mereka dan menerima kertas yang diangsurkan, beberapa lainnya tetap berjalan saja tanpa melakukan apa-apa terhadap uluran itu.

Tiba-tiba, jantung saya seperti tertusuk sesuatu yang kecil, tapi cukup tajam untuk membuat saya sesak napas.. dan sakit.

Tanpa berpikir panjang, saya menurunkan kaca si hitam dan menerima uluran kertas si bapak. Ia tersenyum lebar ketika menyerahkan kertas itu kepada saya.

Dan lagi, rasa sakit itu muncul justru ketika saya melihatnya tersenyum – dan membalas senyumannya.

Seketika, saya teringat pada ayah.

Penguntit di Sekeliling Kita

DISCLAIMER: The content may contain spoilers.

Oh, bukan.. Bukan tentang film Inception yang sedang hiruk-pikuk dibicarakan sampai ke pelosok negeri itu, kok! Walaupun saya memang sudah menonton – dan berminat menonton ulang beberapa kali lagi – saya sungguh tidak ingin mengacaukan kenikmatan kalian menonton film itu akibat spoiler-nya. Since I know how bad the feeling is *halah lebayatun*

Ini tentang salah satu episode dari film seri Criminal Minds yang saya gandrungi itu.

ML Selagi Sadar

Beberapa hari silam, saya mendapat undangan untuk menjadi salah seorang peserta focus group discussion (FGD) yang dilakukan oleh sebuah grup media kenamaan. Penasaran juga – secara biasanya selama ini saya yang selalu berperan sebagai moderator FGD – karena saya ingin tahu apa rasanya menjadi seorang peserta.

Singkat cerita, saya pun menerima undangan itu.

Dan di sana lah saya bertemu dengan sembilan orang perempuan lain, yang semua memiliki kesamaan: usia berkisar antara 20-30 tahun dan bisa disebut sebagai perempuan urban Jakarta.

Menarik, sangat menarik. Karena di situlah saya bertemu dengan berbagai macam perempuan dengan karakteristik masing-masing. Saya jadi tahu kehidupan party goers, dilemanya menjalani kehidupan kantoran setelah selesai masa perkuliahan, jatuh-bangunnya menjadi seorang wirausahawan eh.. wati, dan seterusnya-dan seterusnya. Banyak hal yang semula saya tidak pernah tahu, hanya karena menjadi peserta FGD ini saya jadi tahu.

Di antara berbagai topik yang dilontarkan oleh sang moderator, ada satu yang – buat saya – lebih menarik di antara yang lain.

The question is as simple as: What do you think about having sex?

Dan jawaban yang spontan terlontar dari mulut saya adalah.. having sex is about choices.

Iya, buat saya, melakukan hubungan seksual itu identik dengan sebuah pilihan.

Saya sendiri tidak mau mengaitkan hubungan seksual itu dengan pernikahan, atau kapan dilakukannya – sebelum atau sesudah menikah. Apalagi lantas menjurus pada pertanyaan yang meminta jawaban ‘benar’ atau ‘salah’, atau seharusnya seperti apa. Tentang yang satu ini, biarlah menjadi urusan pribadi tiap orang.