1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Penguntit di Sekeliling Kita

DISCLAIMER: The content may contain spoilers.

Oh, bukan.. Bukan tentang film Inception yang sedang hiruk-pikuk dibicarakan sampai ke pelosok negeri itu, kok! Walaupun saya memang sudah menonton – dan berminat menonton ulang beberapa kali lagi – saya sungguh tidak ingin mengacaukan kenikmatan kalian menonton film itu akibat spoiler-nya. Since I know how bad the feeling is *halah lebayatun*

Ini tentang salah satu episode dari film seri Criminal Minds yang saya gandrungi itu.

ML Selagi Sadar

Beberapa hari silam, saya mendapat undangan untuk menjadi salah seorang peserta focus group discussion (FGD) yang dilakukan oleh sebuah grup media kenamaan. Penasaran juga – secara biasanya selama ini saya yang selalu berperan sebagai moderator FGD – karena saya ingin tahu apa rasanya menjadi seorang peserta.

Singkat cerita, saya pun menerima undangan itu.

Dan di sana lah saya bertemu dengan sembilan orang perempuan lain, yang semua memiliki kesamaan: usia berkisar antara 20-30 tahun dan bisa disebut sebagai perempuan urban Jakarta.

Menarik, sangat menarik. Karena di situlah saya bertemu dengan berbagai macam perempuan dengan karakteristik masing-masing. Saya jadi tahu kehidupan party goers, dilemanya menjalani kehidupan kantoran setelah selesai masa perkuliahan, jatuh-bangunnya menjadi seorang wirausahawan eh.. wati, dan seterusnya-dan seterusnya. Banyak hal yang semula saya tidak pernah tahu, hanya karena menjadi peserta FGD ini saya jadi tahu.

Di antara berbagai topik yang dilontarkan oleh sang moderator, ada satu yang – buat saya – lebih menarik di antara yang lain.

The question is as simple as: What do you think about having sex?

Dan jawaban yang spontan terlontar dari mulut saya adalah.. having sex is about choices.

Iya, buat saya, melakukan hubungan seksual itu identik dengan sebuah pilihan.

Saya sendiri tidak mau mengaitkan hubungan seksual itu dengan pernikahan, atau kapan dilakukannya – sebelum atau sesudah menikah. Apalagi lantas menjurus pada pertanyaan yang meminta jawaban ‘benar’ atau ‘salah’, atau seharusnya seperti apa. Tentang yang satu ini, biarlah menjadi urusan pribadi tiap orang.

Semangat Vuvuzela

Dini hari tadi saya gagal total melaksanakan niat untuk menyaksikan pertandingan semifinal Piala Dunia 2010 antara tim Jerman melawan Spanyol. Jangankan pesan singkat dari si Kakang yang mengingatkan kalau pertandingan sudah dimulai, telinga saya bahkan terlalu lelah untuk menangkap suara alarm dari si Beybih, yang alhasil membuat saya kebablasan tidur dan baru pagi harinya terbangun.. dengan dongkol.

Kedongkolan pertama, jelas, karena tidak berhasil menyaksikan pertandingan itu.

Dan kedua – yang lebih menyakitkan lagi – karena tim Jerman kalah.

Hey, look at what am I talking about!

Saya..? Menjagokan sebuah tim? Di pertandingan sepakbola??

Siapapun yang membaca ini – dan cukup mengenal siapa saya – pastilah akan mengerutkan dahi dan bertanya-tanya apakah betul saya yang menuliskannya.

Tidak bisa disalahkan memang, karena toh sejarah sudah membuktikan bahwa antara saya dan pertandingan sepakbola memiliki hubungan yang tidak rukun. Jangankan menjagokan tim tertentu, menonton pertandingannya saja tidak!

Kalau kangmas saya yang tiga orang itu memicu keributan seisi rumah setiap kali mereka menonton pertandingan di televisi, atau (mantan-mantan) kekasih saya yang seolah-olah merekatkan tulisan ‘do not touch’ di dahi mereka ketika sedang menonton pertandingan yang sama, saya malahan dengan senang hati meninggalkan mereka dan melakukan kegiatan saya sendiri.

Dan secara sepihak, saya memang menobatkan sepakbola itu telah mencuri lelaki di sekeliling saya.