Sunday, October 23rd, 2011
“Do you watch over your spouse’s mobile phone?”
Demikin twit yang saya tuliskan, yang diawali dengan tema #SurveiSore -eufimisme dari #Kepo *eh* di hari Jumat lalu.
Tak lama, muncullah beberapa respon atas pertanyaan itu. Baik melalui twitter, maupun jalur yang lebih pribadi: pesan singkat. Baik yang bernada serius dan menjelaskan secara ilmiah maupun yang memaki-maki sambil tertawa lantaran merasa tersindir.
Padahal toh sama sekali tidak berniat menyindir.
Salahkan kolaborasi kemacetan dan hujan di Jumat sore, kopi tanpa gula yang saya teguk bukannya makanan untuk mengobati kelaparan, dan -ya, apalagi?- membaca timeline twitter.
Nggak ada hubungannya ya antara konteks ini dan pertanyaan tadi?
Ah, anywaaaayyy.. Dari sejumlah respon yang ditemukan, semakin meyakinkan saya bahwa mengawasi handphone pasangan adalah hal yang normal alias wajar dilakukan.
Tolong dicatat ya, disebut ‘normal’ karena ternyata cukup banyak yang mengalaminya. Mungkin kalian juga salah satunya.
Berpasangan (baca: menikah atau berpacaran) dengan seseorang memberikan keistimewaan kepada kita berkaitan dengan hal-hal dalam diri si pasangan kita ini. Banyak priviledge yang kita peroleh, yang sulit diperoleh jika kita bukan pasangannya. Meneleponnya beberapa kali dalam sehari, mengirim pesan singkat yang kurang penting, meminta ditemani ke sana-sini, dan sebagainya-dan sebagainya.
Friday, October 14th, 2011
Langit masih gelap saat saya mulai melajukan si hitam keluar dari garasi dan menyusuri jalan yang biasa dilalui setiap hari. Rasa kantuk yang tak tertahankan, mengingat pada jam yang sama di hari-hari lain saya biasanya masih bergelung di balik selimut. Bahkan setibanya di pelataran parkir kampus pun, mas penjaga parkir belum sempat membuka jaket sepeda motornya saat mulai mengoperasikan komputer dan menyerahkan karcis parkir kepada saya. Mas yang bertugas menyapu pelataran parkir pun belum terlihat batang hidungnya.
Beberapa menit setelahnya, sebuah mobil berhenti di depan gerbang kampus seperti yang dijanjikan. Saya masuk ke sana dan kami melaju ke studio salah satu stasiun televisi di kawasan Senayan.
Di studio stasiun televisi itulah saya dan Mbak Yoga menjadi bintang tamu untuk sebuah talkshow yang disiarkan secara langsung, di mana kami diminta bercerita tentang Blood For Life (BFL).
Maaf jika mengecewakan kalian, tapi saya tidak akan berbicara eh.. menuliskan tentang sejarah bagaimana BFL terbentuk di tahun 2009 lalu dan masih berdiri hingga saat ini. Mungkin kalian pun sudah terlalu sering mendengar hal itu dari berbagai media belakangan ini.
Tapi apa sih sebenarnya BFL itu?
Blood For Life adalah sebuah komunitas berbasis media sosial yang terbuka untuk siapapun, yang bertujuan untuk mempertemukan mereka yang membutuhkan donor darah dan mereka yang ingin mendonorkan darah. BFL meneruskan permintaan donor darah melalui akun-akun media sosial yang dimiliki, sehingga membuka informasi seluas-luasnya kepada banyak orang yang berniat mendonorkan darahnya. Sesederhana itu.
Tidak pernah ada istilah uang pendaftaran, iuran ini-itu, bahkan bentuk organisasi dan siapa yang menjabat apa. Siapapun yang berminat untuk bergabung, ya tinggal mendaftarkan diri ke mailing list.
Tuesday, September 13th, 2011
Waktu belum menunjukkan pukul setengah sembilan pagi di hari Jumat lalu, saat si hitam masuk ke dalam pelataran parkir. Tapi toh tempat itu sudah ramai sekali. Beberapa kendaraan roda empat sudah memenuhi tempat parkir dan hanya menyisakan beberapa tempat lagi, sedangkan kendaraan roda dua terparkir bahkan sampai memenuhi bagian depan gedung-gedung di sampingnya.
Dari pelataran parkir pun sudah terlihat kerumunan orang yang memenuhi bagian samping bangunan utama.
Saya pasti sudah kesiangan!
Segera setelah si hitam terparkir, saya langsung berjalan menuju ke tempat di mana semua orang berkumpul. Mengikuti petunjuk seorang bapak berkemeja batik dan mengenggam handy-talkie, saya ikut berbaris di antrian bersama puluhan orang lainnya. Sementara mereka yang sudah lebih dulu datang dan mendapatkan nomor antrian, tampak duduk-duduk di tepian semen yang lebih tinggi atau berdiri di sisi dan saling berbincang. Bisa dengan mudah ditebak, sebagian besar di antara orang-orang ini adalah laki-laki.
Sekitar sepuluh menit mengantri, kertas kecil berisikan nomor pun ada di tangan saya.
Nomor 349, sodara-sodari!
Entah mereka yang mengantri jauh sebelum saya ini datang jam berapa. Dan entah akan sampai jam berapa antrian berakhir.
Bisa dimaklumi sih, mengingat antrian orang-orang ini adalah antrian yang mestinya terjadi pada dua hari yang berbeda, bukan di satu hari seperti ini. Tapi kalau dipikir-pikir, jika di satu hari ini antriannya mencapai 700 orang, maka jika ‘dibagi’ menjadi dua hari pun jumlahnya 350 orang, tetap saja banyak. Dan itu hanya di wilayah Jakarta Selatan, belum terhitung di wilayah Jakarta lainnya.
Sebanyak itukah pelanggar lalu lintas setiap minggunya?