1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Apa yang Kamu Mau, Sayang?

Setelah sekian lama –bertahun-tahun, mungkin– menjalin hubungan dengan kekasih, atau suami/istri, kita bisa cukup yakin bahwa kita mengenalnya.

Tahu makanan kesukaan dan di mana bisa mendapatkannya.

Tahu tempat belanja yang digemarinya dan benda apa yang biasanya menjadi sasaran untuk dibawa pulang.

Tahu di mana ia senang menghabiskan waktu sepulang beraktivitas di akhir minggu.

Tahu kebiasaannya setiap kali hendak pergi ke suatu tempat.

Jelas sekali banyak hal yang kemudian kita ketahui tentang pasangan kita. Bukan saja menyenangkan buat kita, tapi juga buat pasangan.

Siapa yang tidak suka jika suatu hari pasangan datang menjemput dan sudah menyiapkan minuman kesukaan kita di tangannya?

Siapa yang tidak berbunga-buka ketika pasangan dengan sabar menunggu kita bersiap-siap dan merapikan ini-itu sebelum akhirnya benar-benar berangkat untuk pergi bersamanya?

Tentu saja, pasangan kita pun akan merasakan hal yang sama ketika ada di posisi yang sebaliknya. Ketika kita bisa melakukan berbagai hal yang kita tahu memang disukai oleh pasangan kita.

Karena kita yakin bahwa memang itulah yang mereka inginkan.

But, wait.

Pacaran Sama yang Mana, Ya?!

Pasti bukan hanya saya yang setuju bahwa belakangan ini daya tarik Facebook (kembali) meningkat. Apalagi kalau bukan karena permainan baru bernama The Sims Social.

Buat saya, dan mungkin beberapa teman ‘senasib’, permainan bernama awalan The Sims ini sama sekali bukan permainan baru. Sejak jaman The Sims pertama muncul pada lebih dari satu dekade yang lalu, saya sudah mulai mengenal serinya. Bahkan The Sims bisa disebut satu-satunya permainan dengan menggunakan komputer yang selalu ingin saya mainkan setiap saat komputer dinyalakan.

Sampai akhirnya komputer (baca: desktop PC) kami di rumah jebol karena tidak sanggup lagi menampung keseriusan saya memainkan permainan ini. Hardisk dan memory menjadi korbannya. Sudah sempat diperbaiki, lantas saya masih nekat juga meng-install The Sims ke dalam komputer yang sama, dan hanya dalam hitungan beberapa bulan kemudian, masalah yang sama kembali terjadi. Saya akhirnya harus merelakan kepergian permainan kesayangan saya ini dari komputer kami.

Beberapa minggu belakangan, nama The Sims muncul lagi di hadapan saya, secara bertubi-tubi setiap harinya. Di mana lagi kalau bukan di timeline twitter dan di percakapan sehari-hari dengan teman-teman.

Tidak secara sengaja mencari tahu, tapi dari percakapan dan pengamatan di timeline itulah kemudian bisa disimpulkan bahwa The Sims yang dimaksud ini memang The Sims yang kurang-lebih sama seperti yang dulu pernah saya puja-puja. Hanya saja, kali ini permainannya dimainkan melalui Facebook.

The Sims Social, begitu namanya.

#17an Saya

Kemarin adalah hari pertama dimulainya matakuliah yang akan mempertemukan saya dengan mahasiswa baru.

Oh, bukan. Bukan Statistik (lagi) kok.

Melainkan matakuliah lain, di mana saya tidak saja bertanggung jawab untuk mengajar di sana, tetapi juga sekaligus menjadi Pembimbing Akademik bagi para mahasiswa baru yang kebetulan ditempatkan di kelas saya. Sejenis wali kelas semasa sekolah dulu lah kira-kira.

Karena merupakan pertemuan pertama, pastilah perkenalan menjadi sesuatu yang harus bin wajib dilakukan. Sebagaimana yang saya lakukan juga pada pertemuan kuliah pertama kemarin.

Tidak seperti perkenalan di pertemuan pertama yang sudah-sudah, pertemuan pertama kali ini haruslah berbeda. Karena bukan saja perkenalan sebagai dosen pengampu matakuliah yang mereka ikuti, tetapi sebagai Pembimbing Akademik yang akan cukup intensif berinteraksi selama masa hidup mereka sebagai mahasiswa. Jadi pastinya para mahasiswa ini berhak mengetahui hal-hal tentang diri saya yang mungkin tidak pernah saya ceritakan pada perkenalan di pertemuan-pertemuan pertama matakuliah yang sudah-sudah.

Informasi tentang nama lengkap, nama panggilan, matakuliah yang diampu, sudah pasti tidak mencukupi. Harus ada informasi lain yang lebih personal.

Tapi saya sendiri bingung, apa yang harus diceritakan mengenai diri saya sendiri?

Bukannya tidak ada. Justru karena terlalu banyak hal, sementara waktu yang tersedia sangat terbatas.

Alhasil, jalan keluarnya adalah dengan membagikan kertas-kertas kecil warna-warni kepada tiap mahasiswa. Masing-masing dari mereka diminta menuliskan satu pertanyaan tentang hal yang ingin mereka ketahui dari diri saya. Apapun.